Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Tulisan ini didasarkan pada ‘lawatan budaya’ yang penulis lakukan ke ‘Karesidenan’ Andalusia di Spanyol, khususnya di tiga wilayah utama Andalusia, yaitu Granada, Cordoba, dan Sevilla. Warisan peradaban besar dari zaman keemasan Islam di bidang sains, dan zaman ‘kegelapan’ Islam dengan runtuhnya kedigdayaan kekhalifahan dari keturunan Bani Umayyah, masih dapat kita saksikan di ketiga tempat ini.
Islam di Spanyol: Dari Madrid ke Granada
Siapa yang tidak tahu Spanyol saat ini? Betapa tidak, reputasi ‘Negeri Matador’ ini, kini identik dengan kejayaan sebuah peradaban sepakbola dunia. Dua kali menjuarai Piala Eropa secara berturut-turut dan sekaligus menjadi juara dunia. Dua klub besar yang menjadi rival abadi di negeri itu, Real Madrid dan FC Barcelona, pun memiliki jutaan penggemar di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Di balik panggung sepakbola, Spanyol memiliki runtutan sejarah panjang yang dekat dengan peradaban Islam di Eropa. Semenanjung Iberia, yang saat ini masuk dalam wilayah ‘Spanyol’, menjadi pintu masuk Islam ke Eropa. Islam menancapkan akar peradabannya di Negeri Matador ini selama ratusan tahun. Kini, peran agama Katholik sangat dominan dan merupakan agama mayoritas penduduk Spanyol. Di sisi lain, kehadiran kekhalifahan Islam yang bercokol di Spanyol selama kurang lebih tujuh abad, juga menjadikan negara ini sebagai negara multi-etnik. Apalagi hingga saat ini, gelombang migrasi dari negara-negara Muslim di Afrika Utara masih berlanjut.
Kota Madrid adalah tempat pertama saya dan rombongan ‘lawatan budaya’ ini mendarat di Spanyol. Agak berbeda dengan beberapa kota di Eropa Barat lainnya yang relatif sejuk di bulan Oktober, di Madrid terik matahari masih terasa kuat dan suhu udaranya jauh lebih panas. Menurut beberapa sumber, kata madrid sendiri berasal dari bahasa Arab, al-majrit, yang berarti ‘kanal air’, dan merupakan wilayah perbatasan antara Muslim dan Kristen Spanyol. Al-Majrit lepas dari genggaman Muslim seiring dengan jatuhnya Toledo kepada Kristiani sekitar tahun 1085 Masehi.
Madrid memiliki beberapa situs budaya yang menarik disamping tempat-tempat turisme  terkenal seperti The Plaza Major (‘alun-alun’ yang dulu pernah menjadi tempat proses inquisisi dan juga menjadi tempat upacara-upacara besar raja-raja Spanyol), Plaza Monumental de Toros de las Ventas (arena pertarungan matador dan banteng), Gran Via (jalan protokol tempat berbelanja dan nongkrong anak-anak muda, dengan bangunan-bangunan arsitektur awal abad ke-20), dan Stadion Santiago Bernabeu (Markas Real Madrid). Pengunjung Muslim juga tidak bisa melewatkan Centro Cultural Islamico de Madrid, sebuah masjid (Mezquita de Madrid) yang disebut-sebut sebagai masjid terbesar di Eropa.
Pembangunan masjid dengan arsitektur modern ini didanai oleh Pemerintah Saudi Arabia, dan diresmikan pada tahun 1992 oleh Raja Juan Carlos I dan Pangeran Salman bin Abdul Azis. Sebagai sebuah pusat kebudayaan Islam (al-markaz al-tsaqafi al-islami), Mezquita de Madrid juga memiliki koleksi lukisan dan kaligrafi yang anggun, dan terjemahan al-Qur’an dari pelbagai belahan dunia, tak terkecuali terbitan Departemen Agama Republik Indonesia. Masjid ini menjadi tempat persinggahan kaum Muslim di kota Madrid maupun pelancong lainnya yang ingin menikmati sajian kuliner ala Timur Tengah dan Afrika Utara. Pasalnya, tak jauh dari Mezquita de Madrid terdapat pemukiman imigran Muslim dan tentu saja restoran-restoran ala Timur Tengah, Afrika dan Mediterania.
Selain mengunjungi situs-situs bersejarah, kesempatan mengunjungi kota Madrid kami manfaatkan juga untuk mengunjungi sebuah lembaga riset, bernama Casa Asia (Asia Institute). Spanyol sendiri mulai memperkuat hubungan diplomatik dan dagang dengan beberapa negara di Asia Tenggara. Sejauh ini, hubungan erat telah dibangun dengan negara seperti Filipina. Sayangnya, memori tentang Indonesia tidak cukup mengendap di kalangan masyarakat Spanyol, padahal bangsa ini disebut-sebut negara pertama yang datang menduduki bagian wilayah Nusantara.
Menuju ‘Karesidenan’ Andalusia: Granada, Cordoba, dan Sevilla
Andalusia (Andalucia) adalah wilayah otonomi yang terletak di semenanjung Iberia. Istilah Andalusia sendiri digunakan orang-orang Arab-Islam saat berkuasa di seluruh wilayah Iberia. Dari Madrid, Andalusia dapat ditempuh dengan perjalanan darat. Perjalanan darat dari Madrid menuju Granada memberikan kesan tersendiri. Tanahnya yang berbukit dan cenderung tandus hanya bisa ditanami beberapa jenis tanaman saja. Sepanjang perjalanan, ribuan hektar ‘kebun’ buah zaitun terbentang luas, seakan tidak menyisakan tempat bagi buah-buahan jenis lain untuk tumbuh. Konon, Spanyol adalah salah satu negara eksportir terbesar buah zaitun di dunia.
Sampai di Granada kami menginap dua malam di salah satu hotel, berdekatan dengan Albaicin, sebuah kota tua yang juga tak jauh dari Alhambra. Monumen paling bersejarah dan paling terkenal yang menjadi simbol Granada adalah Alhambra, sebuah Istana yang dibangun abad ke 13 oleh bangsa Moor di bawah Muhammad I dari Dinasti Nasrid. Kata Alhambra sendiri berasal dari bahasa Arab ‘al-hamra’, yang berarti ‘berwarna merah’, karena bangunan Istana ini berwarna kemerahan ketika tersentuh cahaya matahari terbit dan tenggelam, maupun karena sinaran rembulan.
Ornamen dan kaligrafi khas Islam, yang berkombinasi dengan sentuhan arsitektur gaya Byzantium, menjadi ciri khas Istana Alhambra. Sebagaimana halnya bangunan-bangunan Muslim lainnya,kaligrafi memuat pesan-pesan moral keagamaan baik yang diambil dari al-Qur’an maupun berasal dari ekspresi doa-doa harian. Sebuah kolam yang memantulkan gambar bangunan di sekelilingnya, dan hamparan taman kehijauan Palacio de Generalife, yang diderivasikan dari bahasa Arab Jannat al-Arif, pun membantu ikut menciptakan kesejukan di tengah terik matahari Granada di siang hari. Palacio de Generalife merefleksikan sebuah tempat surgawi di tengah panasnya terik matahari di Granada.
Sebagai sebuah peradaban besar, Islam di Andalusia pun menjadi objek studi yang menarik, dan tentu saja, menyisakan catatan sejarah kegemilangannya. Kami tidak hanya asyik menikmati keindahan arsitektur Alhambra, tetapi juga menyempatkan diri berkunjung ke Pusat Studi Islam dan Arab di Granada, Escuela de Estudios Arabes. Lembaga yang pendiriannya sudah mulai dirintis sejak tahun 1930-an ini merupakan salah satu lembaga riset terdepan di Spanyol untuk bidang studi Arab. Selain studi tentang Arab secara umum, lembaga ini punya perhatian tentang sejarah Andalusia, historiografi Islam di Spanyol, Arkeologi, Sastra Arab-Islam, sejarah Hukum Islam di Spanyol, dan sebagainya. Tak pelak, beberapa karya dari begawan Islam di Spanyol seperti Ibn Rusyd (Aviecena), menjadi kajian para peneliti di sana.
Paling menarik dari lembaga riset ini bukan saja visi akademiknya, tetapi juga tempat yang sekarang digunakannya sebagai kantor. Berlokasi di distrik Albaicin-Granada, lembaga ini menempati bangunan tua yang sudah direnovasi, bekas rumah dari seorang Moriscos di wilayah itu. Istilah Moriscos sendiri digunakan untuk menyebut orang-orang Katholik yang secara diam-diam maupun terang-terangan memeluk dan mempraktikkan agama Islam pada masa perseteruan Islam-Kristen di Spanyol berlangsung beberapa abad silam.
Menelusuri gang-gang sempit dan rumah-rumah berwarna putih yang berjejer di kompleks tua Distrik Albaicin menjadi keharusan. Meski untuk itu, wisatawan harus menyiapkan topangan kaki yang kuat dengan sepatu yang pas dengan medannya. Jalan naik-turun, gang-gang sempit, cuaca panas dan udara gersang juga menjadi tantangan tersendiri. Tapi, berteduh di gang-gang sempit Albaicin saat kepanasan, hanya untuk bersembunyi dari sengatan matahari beberapa saat memberikan kenangan kuat dan mengasyikkan. Memang Albaicin menarik dikunjungi saat siang. Para wisatawan mencari pernak-pernik Granada. Hampir seluruh bangunan di Albaicin berwarna putih. Warna putih ini menjadi pilihan untuk menghantarkan terik matahari agar tidak terlalu menyengat.
Sevilla masih masuk kawasan Andalusia. Seperti halnya wilayah yang lain di Spanyol, Catedral de Sevilla (atau Catedral de Santa Maria de la Sede de Sevilla) adalah bangunan paling mencolok, dan menjadi salah satu Katedral Gotic terbesar di Eropa. Monumen-monumen peradaban Islam pun lokasinya tidak jauh dari katedral tersebut, tepatnya di Real Alcazar, sebuah istana yang saat ini masih dipakai di Eropa, dan awalnya merupakan benteng kaum Moorish, dan oleh UNESCO dinobatkan sebagai salah satu tempat bersejarah yang harus dilindungi. Taman, kaligrafi dan ikon-ikon peradaban Islam menghiasi hampir keseluruhan bangunan, kendati di dalam bangunan terdapat lukisan-lukisan raksasa yang menggambarkan sejarah sosial di Sevilla.

Spanyol memang pernah identik dengan Islam, dan serpihan peradabannya masih berdiri kokoh. Imigran dari beberapa negara Muslim di Afrika juga masih menjadikan negara matador ini sebagai pilihan, kendati dewasa ini sedang mengalami krisis ekonomi. Bagi pengunjung Muslim, untuk urusan makanan tetap harus hati-hati, setidaknya ketika ingin mencoba hidangan khas daerah setempat, restoran Muslim menjadi pilihan untuk kehati-hatian memilih menu yang halal. [islamaktual/sm/hilmanlatief]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top