Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Putus asa musuh mengalahkan kaum Muslimin apabila umat Islam telah bersatu dan bertekad bulat menegakkan jihad di jalan Allah. Setelah perjanjian Hudaibiyah, berbondong-bondonglah kabilah Arab mengaliansikan sukunya kepada Madinah. Mereka kesal dengan Quraisy yang seenaknya membatalkan perang Khandaq, disamping mulai menyadari kekuatan Muslim. Bayangkan, memenangkan perang Badr yang tidak seimbang, dan tidak bisa ditumpas meski kocar-kacir di Uhud, tentulah kaum Muslimin kelompok yang solid.

Semangat Penguat Islam

Persatuan adalah ikatan paling ditakuti musuh, dan persatuan paling kokoh adalah ukhuwah Islamiyyah, yang karenanya 3 prajurit Muslim dalam perang Yarmuk mati syahid. Abu Jahm bin Hudzaifah –semoga Allah merahmatinya– mencari-cari sepupunya di tengah kecamuk perang Yarmuk. Ditemukannya dia tergeletak kehausan. Abu Jahm mendekatkan sekantong air untuk diminumkan. Namun sepupunya mendengar rintihan lain di dekatnya, maka ia mengisyaratkan untuk mendahulukannya. Ternyata orang itu adalah Hisyam bin Abid `Ash. Lalu Abu Jahm pun tergopoh-gopoh mendekatinya untuk memberi minum. Baru saja dia sampai di sampingnya, ada lagi di dekatnya seseorang merintih menjelang sekarat, Hisyam pun menunjuk-nunjukkan isyarat agar orang itu dulu-lah yang diberi minum. Abu Jahm menyentuhnya, ternyata dia telah mati syahid. Lalu Abu Jahm pun kembali kepada Hisyam, ternyata dia juga telah syahid. Dan Abu Jahm akhirnya kembali kepada sepupunya, rupanya dia pun telah syahid.
Semangat itsar (mendahulukan kepentingan Muslim lainnya) seperti ini mendatangkan kejayaan Islam hingga benderanya berkibar di tiga benua. Khilafah Islamiyyah adalah satu-satunya negara yang berhasil menyatukan berbagai suku bangsa dan ras dalam satu kepemimpinan, menuju ketaatan kepada Allah Tuhan Alam Semesta.

Semangat Pemecah Islam

Khilafah menjadi sistem pemerintahan yang bertahan cukup lama dibanding Republik, Parlementer, Kerajaan, maupun Kekaisaran, yakni semenjak abad ke-7 hingga abad ke-20. Sayangnya itulah yang tidak dimiliki umat Islam saat ini. Khilafah kemudian runtuh pada tahun 1924 justru setelah kaum Muslimin menggantinya dengan sistem pemerintahan kebangsaan. Banyak suku bangsa yang menghendaki kepemimpinan dipegang oleh klannya sendiri-sendiri. Konstantinopel yang menjadi pusat ibu kota Khilafah dirongrong paham nasionalisme yang menjunjung tinggi kebangsaan Turki sehingga memancing fanatisme Arab yang pecah pada perang dunia I.

Belajar Dari Jatuh-Bangunnya Peradaban

Pengalaman pahit tersebut adalah pelajaran sangat berharga, kaum Muslimin wajib memahami kenapa kesatuan yang dibangun begitu kuat dalam ukhuwah Islamiyyah dapat pecah berkeping-keping dari satu negara kesatuan adidaya Khilafah menjadi lebih dari 50 negara kerajaan atau Republik. Berikut adalah taktik musuh Islam:
  1. Devide et impera; memecah kekuatan kaum Muslimin menjadi kecil-kecil dengan menyekat-nyekat berdasarkan identitas kebangsaan, kalau bisa lebih kecil lagi maka kesukuan. Meski satu rumpun, Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam seolah tidak bisa bersatu karena konsep abstrak “berbeda bangsa”, padahal Indonesia yang terdiri atas ratusan suku bisa disatukan. Kaum Muslimin merasa cukup dengan ide “Nasionalisme” sehingga tidak bercita-cita menuju “Globalisme”, persatuan seluruh dunia, atau seluruh Muslim.
  2. Politik belah bambu; Mengangkat nama sebagian kaum Muslimin yang mau bekerjasama dengan musuh-musuhnya. Misalnya dengan memberinya gelar “moderat”, “toleran”, “modern”, “progresif”, dan lain-lainnya sesuai agenda Barat. Kaum Muslimin dalam kategori ini kemudian akan mendapatkan bantuan guna menjadi kaki tangan yang ikut menyuarakan kepentingan orang kafir, baik secara dia sadari maupun tidak. Sementara kelompok yang istiqomah melawan kepentingan Barat akan mendapatkan maki-makian stigmatis seperti “radikal”, “intoleran”, “kuno”, “konservatif”, “garis keras”, dan sebagainya.  
  3. Mengkader antek dan kaki tangan; Memberikan beasiswa bagi muslim untuk belajar mengenai Islam dan Al-Qur’an tapi harus di negara Kafir atau sekurang-kurangnya Universitas yang berkiblat ke Barat. Antek-antek ini akan lulus bergelar doktor dan profesor saat kembali ke tanah air membawa pemikiran nyleneh yang mengacaukan pemahaman kaum Muslimin dan memprovokasi perdebatan berkepanjangan di dalam kaum Muslimin terhadap sesuatu yang sudah jelas, misalnya munculnya tafsir hermeneutika di beberapa kampus STAIN/IAIN/UIN, menghalalkan perkawinan homoseks, memuja feminisme, liberalisme dan pluralisme. Menghadapi kaum Munafik kaki tangan musuh Islam ini yang paling membingungkan umat, di satu sisi baju mereka adalah Muslim namun isi kepalanya adalah kekufuran.
Tentu masih banyak strategi musuh lainnya. Namun tidak perlu dibahas panjang untuk memenangkan ghazwul fikr (perang pemikiran) ini jika tidak juga dibahas cara menanggulanginya, yang tidak lain ternyata hanyalah kembali kepada agama Allah! Sesederhana itu. Namun yang menjadikannya berat adalah menyadarkan umat ini. Mari kita sedikit kupas a-b-c lawan-solusinya.
  1. Ukhuwah Islamiyyah. Siapa tidak kenal slogan ini? Yang perlu diterjemahkan lebih nyata menjadi perlunya untuk menjalin silaturrahim, saling berkunjung dan berdialog antar kelompok Islam, sehingga terkikis rasa dengki dan hasad dan berganti menjadi saling asuh dan saling membela.
    Simak kembali bagaimana Rasulullah SAW menyatukan banyak kabilah berbeda setibanya beliau di Yatsrib, mempersaudarakan kaum Muhajirin yang kebanyakan dari bangsa Quraisy dengan kaum Anshar yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Apa landasan kesamaan mereka? Tidak lain hanyalah syahadatain.
Gambar di bawah cuma sekelumit bagaimana ukhuwah dijalin cukup dimulai dengan pertemuan bersahabat, tidak rumit, jadi dimulai saja, tak perlu risau meski sedikit.

  1. Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dalam lingkup kecilnya dengan tidak ikut-ikut melabeli kaum Muslimin dengan stigma yang dibuat-buat Barat. Sebab istilah Barat membutuhkan kerangka berpikir Barat, sedangkan istilah Islam membutuhkan kerangka berpikir Qur’an dan Hadits. Misalnya, jangan menyebut ajaran Islam itu demokratis, sebab bila demikian maka ukurannya akan mengikut kepada ideologi Demokrasi. Padahal ketika dikembalikan kepada asalnya, apakah demokrasi itu Islam? Maka jawabannya tidak. Alangkah malangnya kita, setelah mengekor Barat ternyata Barat tidak mengakui kita.
    Pendidikan Islami semangatnya untuk menjadi insan yang shalih, bukan mencari gelar dan kedudukan atau modal cari kerja. Sekolah umum pun bisa mengambil spirit yang sama.
  2. Khilafah Islamiyyah adalah yang akan menuntaskan simpul ukhuwah Islamiyyah. Dengan adanya satu pemimpin, maka umat memiliki tempat perlindung, kepastian hukum, dan hakim yang akan memutuskan perbedaan di dalam masyarakat.

Perhatikan, hanya dengan membahas ini saja muncul kembali ketakutan di dalam hati musuh-musuh Islam. [islamaktual/gilig]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top