Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Terjadi di masa hijrah. Ketika pertama kali tinggal di Madinah, Nabi menyuruh Abdurrahman bin Auf pergi ke pasar. “Pergilah dan berniagalah wahai Abdurrahman,” ujar Nabi. Sungguh, sabda Nabi, tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Abdurrahman pun sukses berniaga. Jika ada kemauan, Allah menunjukkan banyak jalan.
Rasulullah bukan hanya menyuruh, beliau sejak muda berniaga. Interaksinya dengan Siti Khadijah, yang kemudian menjadi istri setianya, antara lain karena hubungan bisnis. Muhammad dalam berdagang sungguh jujur, di samping gigih dan terpercaya. Itulah yang membuat Khadijah yang saudagar, kaya raya, cantik, dan terpandang terpikat dan kemudian menikah dengan Muhammad.
Islam mengajarkan para pemeluknya agar memelihara kehormatan diri (al-iffah) dengan menekankan sikap memberi dan bukan meminta, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang merendahkan martabat hidup. Sabda Nabi, “Sesungguhnya Allah suka kepada orang miskin yang afif (membersihkan diri dari meminta-minta dan menjatuhkan diri), yang menjadi kepala keluarga”. Di lain Hadits beliau meminta umatnya agar tidak gemar mengharap-harapkan pemberian orang. Apalagi meminta-minta dengan memaksa atau sebaliknya sambil menghinakan diri.
Bagaimana kalau diberi? Jika diberi terimalah dengan baik, bersyukur kepada Allah, dan berterima kasih kepada yang memberi. Manakala diberi pun bersikaplah arif, ketahuilah kehalalan dan kebaikannya, serta tidak menjadikan diri rendah dan terperosok pada jatuh martabat. Jangan pula sombong, namun tidak pula sembarangan. Sebab ada banyak kasus seseorang diberi sesuatu, apalagi yang tak masuk di akal jumlah dan prosesnya, ternyata di kemudian hari menjadi masalah dan fitnah. Itulah cara merawat jiwa dan kehormatan diri yang baik.
Nabi juga bersabda, “Bukanlah orang kaya itu yang banyak hartanya, tetapi kaya itu ialah orang yang dapat menguasai diri.” Artinya, manusia beriman harus mampu menjaga kehormatan dan martabat dirinya. Orang kaya pun tidak boleh sembarangan dalam berkata, bersikap, dan bertindak hanya karena dirinya diberi kelebihan kekayaan. Jangan sombong, sewenang-wenang, dan mengeksploitasi sesama. Jangan menggunakan uang dan kekayaannya untuk hal-hal yang buruk, tercela, dan merusak tatanan kehidupan. Jadikan kekayaan untuk berbuat srba kebaikan, lahir dan batin.
Ketika orang diajari untuk tidak meminta-minta, orang yang diberi kelebihan rizki tentu dianjurkan untuk dermawan. Bukankah tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah? Artinya memberi itu diutamakan, sehingga setiap Muslim berlomba-lomba untuk berusaha, bekerja keras, dan memperoleh rizki serta anugerah Allah yang berkecukupan sehingga mampu memberi kepada saudaranya yang membutuhkan. Ketika memberi pun harus bersikap baik, halal, dan bermanfaat. Memberilah dengan ikhlas, jauhi sifat takabur dan menyimpan kepentingan tertentu tatkala memberi. Jangan karena orang tidak boleh meminta-minta, kemudian orang Islam menjadi bahil dan tidak suka menolong sesama.

Allah, Rasulullah, dan ajaran Islam yang diturunkan kepada umat manusia mengajarkan agar manusia beriman itu juga beramal shalih. Orang-orang yang diberi rizki dan anugerah nikmat lainnya dianjurkan untuk berinfaq-bershadaqah serta menjadi dermawan. Semakin banyak memberi kebaikan, kian baik derajat dan pahalanya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman, yang artinya: “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran teradap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. al-Baqarah [2]:273). [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top