Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sepanjang sejarah, keluargaku tidak pernah ada yang menjadi muslim. Karena doktrin bahwa Islam adalah agama yang salah, begitu kuat ditancapkan dalam keluargaku yang semuanya berdarah Tionghoa. Mereka sangat antipati terhadap Islam. Itulah yang selama ini membentengi arah pandangku terhadap Islam. Meskipun ada sebersit ketertarikanku terhadap agama Muhammad SAW ini.
Seiring waktu berganti, keresahanku menahan simpati terhadap perilaku orang Islam yang disiplin menjalankan ibadahnya kian memuncak. Ada prinsip kuat yang terkesan dari ritual yang mereka jalankan. Suara hati inilah yang menuntunku mencari kebenaran Islam. Di masa kuliah aku sangat getol belajar Islam dari hal-hal logis yang bisa kuterima dengan akal.
Namun sebelumnya keingintahuanku tentang Islam sesungguhnya tertanam sejak kecil. Dulu, semasa kecil aku kerap menggoda pembantuku yang sedang sholat, keluar masuk mukenanya. Aku selalu mengamati keteraturan ibadah yang ia jalankan. Sebenarnya, bukan karena senang mengganggu, tapi aku selalu merasakan ada ketenangan, sehingga ingin dekat ketika ia sedang mengerjakan sholat.
Suasana kenyamanan itu berlanjut ketika aku rutin mengikuti les matematika sewaktu SMP. Guru les yang notabene seorang muslim, memberikan wawasan keislaman di sela-sela pelajaran yang ia sampaikan. Mungkin karena pengajar pelajaran eksak, sehingga cara menilai Islam yang disampaikannya sangat logis dan bisa kuterima dengan mantap.
Semakin lama memendam keinginan untuk belajar Islam lebih dalam, semakin membuatku melakukan berbagai cara untuk mencari tahu tentang Islam yang membuatku penasaran. Salah satunya yang kulakukan adalah iseng-iseng bergabung dalam komunitas mualaf di dunia maya. Di grup ini aku lebih agresif bertanya semua hal yang membuatku penasaran selama ini. Di grup ini aku juga sering berdialog dengan seorang ustadz.
Saking intensnya dialog di dunia maya, kami akhirnya merencanakan kopi darat alias langsung bertatap muka. Pertemuan kami semakin menambah keakraban, tak jarang aku diajak menghadiri pengajian-pengajian. Dari kegiatan inilah wawasanku tentang Islam semakin bertambah. Sekaligus menambah kemantapan hatiku untuk meyakini Islam sebagai agama yang menuntunku meraih kebahagiaan hidup dan ketentraman hati.
Di akhir Januari 2014, aku memuruskan untuk meresmikan keislamanku. Kuucapkan dua kalimat syahadat meski sebenarnya sarat akan resiko yang harus kuhadapi setelahnya. Paling tidak, setelah menjadi muslim, hatiku menjadi lebih tenang. Aku sangat yakin bahwa inilah jalan yang ditunjukkan Allah untuk kulalui.
Resmi memeluk Islam, aku kian rajin belajar bagaimana cara seorang muslim beribadah. Tapi aku masih belum berani terang-terangan beribadah karena keluargaku belum ada yang tahu keislamanku ini. Aku tak ingin melihat mama dan keluarga geger. Jalan yang kulalui dalam merengku Islam sudah terlalu banyak ujiannya.
Sebelum berikrar, aku sempat diancam akan diusir dan hampir saja tidak diakui anak karena niatku belajar Islam kepergok orangtua. Keinginanku masuk Islam ditentang keras oleh mereka. Bahkan karena kejadian itu,papaku terserang penyakit jantung dan akhirnya meninggal dunia. Kabar meninggalnya papa dari kakak perempuanku, begitu menusuk hati.
Bahkan kehilangan papa masih belum cukup menghentikan pilu yang kurasakan. Pihak keluarga papa yang tidak terima, terus memojokkan dan menyalahkan aku serta mama. Mereka menganggap penyebab meninggalnya papa karena keinginanku masuk Islam.
Peristiwa demi peristiwa itu hampir saja memenjarakanku dalam keterpurukan dan mengurungkan niatku untuk memeluk Islam. Alhamdulillah, Allah SWT telah meluluskan aku menghadapi ujian-Nya. Meski sekarangpun ujian itu masih ada yang belum kutunaikan, yakni meluluhkan hati mama. Terus terang, aku masih menyembunyikan keislamanku ini dari mama dan keluargaku. Aku tak ingin membuat mama menangis.
Saat Nata tiba, mama sempat telepon dan bertanya kenapa ketika Natal aku tidak pulang. Mama bertanya apa aku takut ketahuan kalau cara ibadahku sekarang itu sudah berubah. Aku tidak pulang ke rumah karena takut tidak bisa beribadah sholat. Di rumah aku akan kesulitan untuk beribadah karena harus sembunyi-sembunyi.

Aku tidak ingin mama mengalami hal yang sama seperti almarhum papa. Aku yakin Allah SWT pasti memberikan jalan terbaik dan menjaga imanku menjadi muslim sejati. [islamaktual/alfalah/idris]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top