Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Suatu kali seorang lelaki mencaci-maki Abu Dzar al-Ghifari. Sahabat Nabi yang dikenal zuhud itu tak membalas, dia bahkan berkata: “Hai, engkau jangan habiskan waktu untuk mencaci-makiku. Berilah tempat untuk damai. Aku tidak akan melindungi orang yang menentang Allah dengan caci-maki selain dengan cara mentaati-Nya, yakni tidak membalas caci-maki”. Abu Dzar memang dikenal ahl-shufah, orang yang hidup sederhana, menjauhi dunia, dan menjunjung tinggi budi baik terhadap sesama. Banyak perilakunya, yang membalas keburukan dengan kebaikan, setidak-tidaknya tidak membalas dengan keburukan.
Imam Syafii bersikap serupa. Seperti dikisahkan al-Jundi, salah satu tokoh imam Mazhab tersebut suatu saat dicaci-maki orang yang tidak menyukainya. Apa kata Imam Syafi’i? “Jika engkau benar semoga Allah mengampuni diriku, dan jika engkau salah semoga Allah mengampunimu”, ujar imam yang dikenal berilmu luas dan arif itu. Seperti para imam Mazhab yang lain, Maliki, Hanbali dan Hanafi semuanya berjiwa besar ketika menghadapi perbedaan dan ketidaksukaan orang pada pandangan-pandangannya. Satu sama lain saling ber-tasamuh dengan ilmu dan hikmah, bukan dengan emosi dan hawa nafsu.
Diantara kebaikan pada sahabat Nabi, Tabi’in, Tabi’in-Tabi’in, dan para imam serta ulama terdahulu maupun para muhsinin yang berakhlak mulia ialah kebaikannya dalam bertutur kata. Tutur kata bukan sekedar ujaran yang keluar dari lisan, tetapi merupakan pantulan dari hati atau jiwa dan sikap yang bersih sebagai buah dari ihsan. Kalaupun mereka tidak suka pada sesuatu atau tidak sependapat atas sesuatu dari orang lain, ditunjukkan dengan cara dengan ber-mujadalah dengan baik. Dari kelaziman yang baik itulah lahir tradisi atau kebiasaan yang baik dalam bertutur kata, yang kemudian dikenal dengan ‘hifdz al-lisan’, menjaga tutur kata.
Semua perilaku ihsan, khusus dalam menjaga lisan, tidak lain bersumber dari meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad. Nabi akhir zaman itu bahkan dinobatkan Allah SWT dengan predikat ‘uswah hasanah’, contoh teladan yang baik. Akhlak Nabi adalah akhlak yang agung, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung,” (QS. al-Qalam : 4). Ketika ada sebagian orang berteriak-teriak memanggil Nabi di belakang kamarnya, Allah kemudian menurunkan Surat al-Hujurat. Ketika menghadapi hal buruk pun, Nabi membalasnya dengan kebaikan, sampai banyak orang kafir kemudian beriman karena kemuliaan akhlak Nabi.
Nabi mengajarkan umatnya untuk bertutur kata yang baik dan apabila tidak bisa maka sebaiknya diam. Nabi mengingatkan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah berkata yang baik, atau (apabila tidak bisa berkata yang lebih baik) hendaklah diam” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Di lain hadits beliau bersabda, “Orang Islam itu ialah orang-orang selamat terhadap sesama muslim lainnya, yakni selamat dari (gangguan omongan) lidahnya dan (dari akibat perbuatan) tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah bahkan memerintahkan umatnya untuk menolak kejahatan dengan cara-cara yang lebih baik (QS. Fushilat : 34).

Sungguh, menjaga perkataan (hifdz al-lisan) menjadi mutiara berharga bagi setiap muslim. Tutur kata yang lembut, sopan dan sarat kebaikan merupakan bagian dari akhlak utama. Sebaliknya ujaran-ujaran yang kasar, vulgar dan tidak senonoh merupakan perangai yang tidak terpuji, yang tidak baik keluar dari lisan umat beriman. Jangankan terhadap sesama muslim dan umat beriman, bahkan terhadap mereka yang tidak beriman sekalipun sungguh mulia manakala menunjukkan tutur kata dan perangai yang terpuji sehingga mengundang simpati. Siapa tahu mereka yang tak beriman kemudian tergerak hatinya untuk menjadi hamba Allah yang beriman karena tutur kata dan perilaku yang terpuji dari mereka yang beriman sebagaimana diteladankan Nabi akhir zaman. Apalagi hifdz al-lisan dan perangai baik terhadap sesama muslim. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top