Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Seorang pengusaha Amerika berdiri di sebuah dermaga desa di Meksiko ketika sebuah perahu kecil memuat seorang nelayan berlabuh dengan beberapa ikan tuna. Pengusaha itu kagum dengan mutu ikan dan bertanya, “Kok sebentar. Mengapa tidak lebih lama di laut agar dapat ikan lebih banyak?” Nelayan menjawab bahwa yang dibawanya cukup memenuhi kebutuhan keluarga hari ini.
“Lalu apa yang Anda lakukan dengan waktu selebihnya?” Nelayan itu berkata, “Saya tidur larut, memancing sebentar, bermain dengan anak, tidur siang bersama istri, berjalan-jalan ke desa setiap malam, bermain gitar bersama teman. Saya merasa memiliki kehidupan lengkap dan cukup sibuk, Senor.”
Setengah mencemooh si Amerika bilang, “Sebagai seorang MBA lulusan Harvard University saya bisa menolong. Mestinya Anda perpanjang waktu menangkap ikan. Dengan perolehan ikan lebih banyak, Anda bisa beli perahu yang lebih besar. Nanti, dapat membeli beberapa perahu lagi. Hasil tangkapan dijual langsung ke pabrik, tidak ke tengkulak. Akhirnya, Anda bisa membuka usaha pengalengan ikan sendiri. Anda akan menjalankan perusahaan yang makin berkembang. Jika waktunya tepat bisa menjual saham dan secara otomatis menjadi kaya raya dan hidup serba berkecukupan.”
“Tetapi Senor, berapa lama dibutuhkan untuk itu dan untuk apa kekayaan yang melimpah?”, sela sang nelayan jujur. Si MBA tertawa dan berkata, “Lima belas hingga dua puluh lima tahun. Lalu, Anda pensiun, bisa tidur larut, memancing, bermain dengan anak dan cucu, menikmati tidur siang bersama istri, berjalan-jalan dan bermain gitar di malam hari.” Betapa bodohnya pengusaha Amerika ini secara spiritual. Ia tak paham tujuan hidupnya.
Inilah gambar perilaku masyarakat kapitalis modern yang semakin mengabaikan sentuhan dan pemaknaan hidup yang lebih dalam dan kontemplatif, sementara prestasi ilmiah dan produk teknologi semakin canggih. John Naisbit menyebutnya “hi-tech, low touch”, prestasi iptek semakin tinggi, tetapi kualitas akhlak dan pemaknaan hidup semakin rendah. Bayangkan semasa kanak-kanak. Kita sering membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk dan rumah-rumahan dari potongan kardus. Kita hanyut dalam permainan sehingga lupa makan. Kita berlomba menunjukkan karya terbaik, tetapi tetap besahabat dan sekali-kali bertengkar walau hanya sesaat saja. Kegiatan ini bisa disebut low-tech, tetapi hi-touch. Teknologi rendah, tetapi bisa menghadirkan kebahagiaan cukup tinggi.
Lalu, bandingkan dengan perilaku anak-anak kita sekarang. Pada usia pra-TK ia sudah begitu akrab ditemani dengan televisi, handphone, iPad, komputer tablet, dan sebagainya. Dengan peralatan canggih itu ia memainkan game. Ia kadang lupa makan, konsentrasi penuh tanpa ingat dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Saat memasuki sekolah dasar, ia mulai bersentuhan dengan internet yang begitu mudah diakses. Bagi orangtua yang sibuk, ia merasa aman dan senang karena tidak usah mengawasi. Padahal, perilaku inilah yang akan mengantarkan manusia pada keterasingan diri, keluarga, sosial, dan akhirnya Tuhannya. Terlebih ketika nilai dan ukuran sukses hidup disandarkan pada kekayaan materi, maka telah memosisikan akhlak dan keimanan lebih rendah dari kekayaan dan kecanggihan teknologi.
Jauh sebelum ada nelayan desa di Meksiko, lima belas abad lalu Islam mendakwahkan tauhid untuk mengembalikan derajat kemanusiaan pada posisi yang sebenarnya. Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Memiliki (Inna Lillahi dan Lillahi ma fis-samawati wal-ardh). Ketidakpunyaan, kata Ibrahim bin Fatik, seorang sufi dari Baghdad, ditandai dengan ketenangan ketika tidak ada, dan pemberian dan pengorbanan ketika ada. Kefakiran diukur dari sikap dan kedalaman, bukan dari jumlah harta karena tujuan hidup sesungguhnya bukan dunia, melainkan Allah (Wainna ilaihi rajiun).

Tauhid juga melahirkan kepekaan sosial, karena seorang mukmin disyaratkan untuk menginfak-kan hartanya; membangun silaturrahim; menghormati tetangganya; memuliakan tamunya; tulus berbagi dan membantu, tidak riya’ dan minta balasan. Ketika Rasulullah menceritakan orang yang sangat dekat dengan Allah (hi-tauhid), para sahabat bertanya apa yang dilakukan orang tersebut. Rasulullah menjawab, “Ia mencari derajat tinggi itu karena dua hal: kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada sesama muslim.” Seorang Muslim tidak alergi dengan teknologi modern. Ia menjadikannya sebagai instrumen berdakwah dan jalan “menemukan” Tuhan. Semoga menjadi muslim yang hi-tech sekaligus hi-tauhid. Wallahu a’lamu. [islamaktual/sm/bahrussururiyunk]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top