Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Suatu negara dikatakan negara Islami jika menjalankan nilai-nilai yang bersifat islami dengan keimanan, tetapi bersifat menjadi parsial jika kriterianya hanya menjalankan Islam tanpa ada keimanan. Hal ini diungkapkan oleh Dr Hamid Fahmi Zarkasy, Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) saat ditanya mengenai kriteria sebuah negara yang islami.
“Kalau kriterianya hanya menjalankan Islam, itu menurut saya parsial sekali sebab setiap perbuatan baik itu tidak selalu bisa dikategorikan sebagai perbuatan Islam jika tidak disertai dengan keimanan,” ujar Hamid dikutip hidayatullah.com.
Pernyataan Hamid Fahmi ini sampaikan guna menanggapi hasil studi (penelitian) Prof. Hussein Askari, yaitu studi untuk mengetahui di negara manakah di dunia ini nilai-nilai Islam paling banyak diaplikasikan. Hasil penelitian itu menyatakan bahwa Irlandia, Denmark, Luksemburg, dan Selandia Baru sebagai negara lima besar yang paling islami di dunia.
Menurut penelitian itu, negara-negara lain yang justru menerapkan ajaran Islam paling nyata adalah Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia.
Hasil penelitian Askari yang meliputi 208 negara itu ternyata sangat mengejutkan karena tak satu pun negara Islam menduduki peringkat 25 besar.
Berdasarkan dari hasil studi Askari untuk negara-negara Islam seperti, Malaysia hanya menempati peringkat ke-33 dan negara Islam lainnya yang berada di posisi 50 besar seperti Kuwait di peringkat ke-48, Arab Saudi di posisi ke-91 dan Qatar ke-111.
Sementara itu, Hamid mengatakan jika ada sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwa negara Barat lebih islami daripada negara Islam diukur dari satu aspek saja (hanya amaliyah,red) tetapi meninggalkan aspek lainnya (aspek-aspek keimanan dan keyakinan, red), menurutnya, itu pernyataan yang kontradiktif sekali dengan kata Islam itu sendiri.
“Islam itu adalah sebuah sistem kepercayaan, akidah dan syariah yang bisa mengejewantah di dalam kehidupan sosial,” lanjut Hamid.
Hamid menyampaikan, jika seumpama sekarang dikatakan bahwa negara-negara yang berpenduduk Islam itu tidak islami, itu bisa jadi hanya karena mereka belum menjalankan muamalah itu di dalam kehidupan nyata. Tetapi, mereka telah menjalankan akidah dan syariat Islam.
“Namun akidah, syariat, dan akhlak (muamalah) dipisah, itu juga tidak bisa,” ujar Hamid.
Menurut Hamid, orang Islam yang hanya menjalankan muamalah saja tetapi dalam kehidupan sosialnya tidak sesuai dengan akidah dan syariat Islam yang ditentukan itu juga tidak Islami. Dalam hal itu, tegasnya, kita tidak bisa memecah antara akidah, syariat dan akhlak.
“Atau katakanlah memisah antara iman, ilmu dan amal. Itu tidak bisa,” tegas Hamid.
Hamid memberikan contoh, Singapura yang disebut-sebut sebagai negara yang bersih lalu dikatakan sebagai Negara menjalankan ajaran Islam itu jelas tidak betul. Yang benar, Singapura menjalankan salah satu aspek dari ajaran Islam tetapi Singapura tidak melaksanakan ajaran Islam sepenuhnya (seperti akidah, syariat dan akhlak.red).
“Ini yang harus dipahami oleh masyarakat dan saya rasa yang perlu untuk diluruskan,” ungkap Hamid.
Ditegaskan Hamid bahwa penelitian Prof. Askari itu hanya menggunakan tolak ukur amaliyah (akhlak atau muamalah) saja. Padahal, lanjutnya, di dalam Al-Qur’an sendiri, jelas dikatakan amal atau perbuatan orang-orang non Muslim itu seperti fatamorgana, alias sia-sia.

“Tidak dihitung dalam Islam dan di hadapan Allah,” imbuh Hamid. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top