Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Suatu siang, saya menonton Film "Guru Bangsa Cokroaminoto". Film biografi sejarah ini dipenuhi para bintang macam Reza Rahadian, Christine Hakim, Didi Petet, Maia Estianty, Ibnu Jamil, dan almarhum Alex Komang. Dalam film garapan sutradara kawakan Garin nugroho ini, Tjokroaminoto yang diperankan oleh Reza Rahadian sering menyebut kata 'HIJRAH'.
"Gus, sudah sampai kemana hijrah kita?" tanya Cokro kepada Agus Salim, rekan seperjuangannya di Sarekat Islam, organisasi politik pertama yang menyerukan kemerdekaan bumiputra terhadap penjajahan Belanda di awal tahun 1900-an.
Kepada istrinya pun, Pak Cokroaminoto, berulang-ulang mengucap kata hijrah. Ketika bercermin, hijrah yang ia ucapkan, di dalam hutan, hijrah lagi yang ia ucapkan. Terus menerus kata hijrah tidak luput dari kata kunci utama dalam film itu.
Dan di akhirnya cerita, dalam pencarian makna HIJRAH-nya, Cokro yang jadi tokoh utama tersebut, menyimpulkan, bahwa hijrahnya itu adalah: SETINGGI-TINGGINYA ILMU, SEPANDAI-PANDAINYA SIASAT DAN SEMURNI-MURNINYA TAUHID. Sebagaimana kesimpulan tersebut dituangkan di dalam kongres Partai yang dipimpinnya sehingga menjadi Program Azas dan Tandzim partai.
Adapun pada tahun 1934 sepeninggal ketua umum PSII, Cokroaminoto, maka kepemimpinan jatuh pada adik almarhum sendiri yaitu Abi Kusno Cokrosuyoso dan wakil ketuanya adalah Bapak SM Kartosuwiryo.
PSII dengan pimpinan baru mengadakan Kongres ke 23, dimana Syuro’ PSII menetapkan dan menugaskan Bapak SM Kartosuwiryo untuk menyusun brosur Hijrah. Setelah tersusun sebanyak 2 jilid, maka PSII menetapkan brosur tersebut sebagai konsep partai namun akibatnya terjadi pro dan kontra akan konsep partai yang baru. Karena konsep tersebut jelas menggariskan sikap non-kooperatif yang radikal.
Melihat kegoncangan sebagai reaksi dari konsep Hijrah, maka Abi Kusno mengadakan pemantauan ulang terhadap konsep tersebut yang akhirnya dia menyatakan pembatalan konsep hijrah sebagai konsep partai. Namun Bapak SM Kartosuwiryo berdiri di satu pihak untuk tetap mempertahankan konsep hijrah yang sudah jelas kebenarannya dan juga merupakan kelanjutan dari ide almarhum Bapak HOS. Cokroaminoto.
Selain kata hijrah, yang banyak disentuh film itu adalah nama Semaun dan kawan-kawan yang menyuarakan ideologi ke kiri-kirian dan dimunculkan juga sosok Sneevliet, orang buangan Belanda yang pada akhir cerita film itu di deportasi ke Negaranya, Belanda.
Selain Semaun, sang Pendiri Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berawal dari Sarekat Islam Merah, ada nama Kusno, atau Soekarno, sang ploklamator yang banyak disorot kedua setelah peran Semaun dalam film itu.
Dari awal cerita dalam film itu pun, ada istilah 'sama rata, sama rasa', seolah menggambarkan perkumpulan baru yang dibawa Cokroaminoto adalah sama rata sama rasa. Tidak memisahkan kaum buruh dan petani dengan kaum priyayi, minoritas bisa menjadi mayoritas dan mayoritas bisa menjadi minoritas, rakyat kecil bisa menjadi pejabat.
Akan tetapi ada satu hal yang lucu dalam film itu, dari ketiga murid terkenal Cokroaminoto; Semaun, Soekarno dan Kartosuwirjo. Hanya nama Kartosuwirjo yang tidak disebutkan sama sekali dalam film itu.
Tanya kenapa? Padahal dalam sejarahnya, istilah yang terus diucapkan berulang kali dalam film itu oleh Cokroaminoto diteruskan perjuangannya oleh SM Kartosuwirjo. Kartosuwirjo-lah yang diberi tugas untuk menyusun brosur Hijrah yang hingga dua jilid itu. Logikanya, masa keputusan kongres partai tentang brosus hijrah, bisa dibatalkan begitu saja oleh pimpinan partai yang pada saat itu Abi Kusno sebagai pucuk pimpinannya. Wallahu’allam bishowab. [islamaktual]

oleh : mamatmunandar-mantan wartawan Sumedang Ekspres

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top