Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


“Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. at-Taubah : 108). “Sesungguhnya Allah itu baik dan mencintai kebaikan, bersih (suci) dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, bangus dan mencintai kebagusan, bersihkanlah rumahmu…” (HR. Tirmidzi). Kutipan ayat al-Qur’an dan Hadits tersebut menegaskan kepada kita bahwasanya Allah SWT mencintai orang-orang yang senantiasa memperhatikan masalah kebersihan diri dan lingkungan.
Faktor lingkungan (environment) merupakan salah satu determinan yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat, dari sudut pandang epidemiologi penyakit, aspek lingkungan memiliki andil yang signifikan bagi timbulnya penyakit. Teori simpul paradigma kesehatan lingkungan mengilustrasikan, patogenesis penyakit dalam perspektif lingkungan dan kependudukan ditentukan hubungan interaksi antara sumber penyakit, media transmisi, komunitas, kejadian penyakit, dan variabel supra sistem yang meliputi kebijakan dan iklim. Sebagai contoh, bencana banjir yang terjadi akibat curah hujan yang tinggi didukung dengan kurangnya daerah resapan air, buruknya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sistem drainase wilayah, minimnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat, berpotensi menimbulkan berbagai wabah penyakit seperti diare, disentri, demam tifoid. Tidak hanya itu, penyakit bersumber binatang (vektor serangga) yang terkait dengan air pun berpotensi mengancam, kesehatan masyarakat misalnya filariasis, malaria, dan demam berdarah dengue.
Keterkaitan Musim Hujan dengan Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti
Setelah hujan turun akan timbul genangan-genangan air atau sisa air hujan tertampung dalam atap rumah aau wadah yang memiliki cekungan di sekitar rumah diantaranya ban-ban bekas, kaleng bekas, gelas air minum terutama yang terbuat dari plastik, vas bunga, bak penampungan air yang tidak terpakai dan segala macam cekungan yang dapat menahan air hujan. Genangan air merupakan media yang baik bagi nyamuk aedes aegypti betina meletakkan telur-telurnya.
Karakter nyamuk jenis ini menyukai air bersih yang tergenang pada wadah tidak berhubungan dengan tanah, berbeda dengan nyamuk malaria yang menetaskan telur-telurnya di air dengan dasar tanah. Setelah 1-2 hari kemudian telur menetas menjadi larva (jentik), 5 hari kemudian menjadi pupa, 2 hari kemudian menjadi nyamuk dewasa, sekitar 9-12 hari atau rata-rata dibutuhkan 10 hari mulai bertelur sampai menjadi nyamuk dewasa yang mampu memproduksi telur kembali lebih banyak lagi atau sekitar 100 buah telur. Nyamuk dewasa mampu menularkan DBD pada manusia melalui gigitan nyamuk yang infektif. Aedes aegypti adalah spesies nyamuk yang menggigit pada siang hari, dengan peningkatan aktivitas menggigit sekitar 2 jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari terbenam.
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DBD
Mencegah lebih baik daripada mengobati, salah satu pencegahan utama DBD adalah dengan metode pengendalian lingkungan, agar vektor nyamuk demam berdarah dapat diminimalisasi. Metode lingkungan untuk mengendalikan jentik dan nyamuk Aedes aegypti antara lain dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil sampling kegiatan manusia dan perbaikan desain rumah, antara lain :
  1. Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu;
  2. Mengganti/Menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali;
  3. Menutup dengan rapat tempat penampungan air;
  4. Mengubur kaleng=kaleng bekas, ban bekas di sekitar rumah;
  5. Memasang kasa pada ventilasi atau jendela rumah untuk mencegah gigitan nyamuk.
Menjaga kebersihan lingkungan baik di rumah, sekolah, dan tempat umum sangat penting dalam upaya pengendalian karena nyamuk ini senang bersarang berada di tempat gelap dan lembab. Metode ini murah, mudah, dan efektif memberantas jentik Aedes aegypti. Selain metode pengendalian lingkungan juga dapat dialkukan metode pengendalian biologi antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang). Juga dikenal pula metode pengendalian secara kimiawi diantaranya pemberian bubuk abate maupun pengasapan (fogging) dengan menggunakan malathion.

Karena itu dengan “memberantas jentiknya” melalui pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN-DBD) dengan cara menggiatkan gerakan 3M Plus (Menutup, Menguras, Menimbun) ditambah memberikan bubuk abate mungkin menjadi pilihan efektif menjauhkan DBD dari rumah dan lingkungan. [islamaktual/sm/ishakkenre]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top