Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Agama Islam mengajarkan penganutnya untuk menghormati adat istiadat. Perbedaan adat dalam menjalankan agama tidak harus dipersoalkan sepanjang masih dalam koridor ketauhidan. Hal ini disampaikan Prod Dr Syafii Ma’arif saat acara diskusi peluncuran bukunya Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan, Selasa (14/4) malam lalu.
“Islam dari sisi pesan universal, namun jika masuk ke dalam lingkaran budaya akan ada Islam Nigeria, Islam Sulawesi, Islam Pacitan, Islam Gunung Kidul dan itu sah saja selama bingkai tauhid monoteisme,” kata tokoh Muhammadiyah ini dikutip republika.co.id.
Buya Syafii mengatakan, Rasulullah Muhammad SAW bersabda agar umat Islam bersikap khadah muhakamah, yakni menghormati adat istiadat. Ajaran Rasulullah itu, menurutnya, sama seperti ajaran Islam di dalam al Qur’an. “Seperti ayat Al quran yang turun di Makkah, Allah SWT satu, tetapi juga ada pesan kemanusiaan,” ujarnya.
Perbedaan agama dan cara penyembahan merupakan takdir Allah di mata Buya Syafii. Dalam al Quran surah Yunus ayat 99, Allah SWT berfirman, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semua?” Menurut Syafii, ayat tersebut menguatkan pengakuan Islam terhadap eksistensi keragaman suku, bangsa, agama, bahasa, dan sejarah.
Tidak ada paksaan dalam berkeyakinan dalam ajaran Islam. Setiap individu maupun kelompok berhak menjalankan agama sesuai keyakinan masing-masing. Sebab menurut Buya Syafii, sejatinya beragama mesti berangkat dari kesadaran bukan paksaan. Jika memang mereka tidak mau beriman, jangan dipaksa meskipun beriman itu baik kata Syafii.
Pun demikian, meski dalam Islam terdapat anjuran berperang, hakikatnya Islam sangat mencintai kedamaian. Syafii mengatakan, anjuran perang dalam Islam hanya dapat dilakukan dalam keadaan khusus. Selain itu, Islam juga mengajarkan semangat egalitarianisme. Sebab, kemulian manusia hanya diukur dari tingkat ketakwaan, bukan warna suku atau ras.
Syafii mengatakan, salah satu kesuksesan penyebaran Islam di Indonesia adalah karena penghormatan terhadap akulturasi budaya. Sehingga, imbuhnya, banyak masyarakat nusantara yang mau memeluk Islam tanpa paksaan.
Esensi ajaran tauhid dijelaskan Buya Syafii, selain mengajarkan tentang nilai-nilai ketuhanan, juga mengirimkan pesan kemanu siaan. Menurutnya, bukanlah orang yang bertauhid  seorang Islam yang tidak manusiawi, tidak berbuat baik dengan sesama manusia, jahat dan keras terhadap sesama manusia.
Buya Syafii juga menjelaskan, Islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah dan daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya.
Islam sebagai agama sejarah telah, sedang, dan akan terus bergumul dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Namun, sering kali Islam diasingkan dari persentuhan dengan fakta budaya dan sosial. Akibatnya, Islam menjadi ahistoris dan gamang menghadapi perubahan dan gagal mengembangkan misinya menuntun peradaban.

Peluncuran buku Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan merupakan salah satu rangkaian acara dari peringatan 80 tahun Ahmad Syafii Maarif yang jatuh pada 31 Mei. Dalam peluncuran buku ini tampak hadir sejumlah tokoh, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Zulkifli Hasan, Ketua Apindo Sofjan Wanandi, Johan Efendi, serta Frans Magnis Suseno. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top