Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Suatu kali Rasulullah meminta orang-orang untuk memerah susu unta. Siapakah yang bersedia memerah susu unta ini? Seseorang datang mengajukan diri. Rasul bertanya, siapa namamu? Namaku Murrah (pahit) ya Nabi. Rasul berkata, duduklah engkau. Rasul bertanya lagi, siapa lagi yang bersedia? Datang lagi seseorang dan menyebut namanya Harbun (perang). Nabi lagi-lagi meminta orang itu duduk.
Siapa lagi? Datanglah orang ketiga. Rasulpun bertanya sama, siapa namamu? Orang itu menjawab, namaku Ya’is (hidup). Nabi kemudian berkata, perahlah susu unta ini wahai Ya’is. Nabi lebih memilih Ya’is ketimbang Murrah dan Harbun, karena nama Murrah dan Harbun tidak baik artinya.
Pada kesempatan lain Nabi mengganti seseorang bernama Ashram (tanah tandus) menjadi Zur’ah (tanah subur), juga mengganti nama mata air Bis’an (malang) yang rasanya asin menjadi Nu’man (bahagia) yang kemudian menjadi tawar rasanya.
Rasulullah mencintai nama-nama yang baik dan tidak suka dengan nama-nama yang buruk. Jika William Shakespeare mengatakan what’s in a name (apalah arti dalam sebuh nama), Nabi akhir zaman justru memandang nama itu penting. Nama haruslah yang baik, yang menggambarkan makna kebaikan.
Tentu saja nama baik harus disertai perilaku yang baik. Hingga terpancar aura kebaikan. Penyandang nama baik pun harus memancarkan jiwa dari makna nama itu. Jika ia bernama Ahmad atau Muhammad harus terpuji sebagaimana keteladanan Nabi yang bernama Muhammad SAW. Jika bernama mukhlis harus menjadi sosok yang ikhlas. Begitu seterusnya.
Tidak harus berbahasa Arab. Nama-nama yang lahir dalam ragam nama etnik atau bangsa juga baik dan biasanya mengandung makna-makna yang baik. Orangtua memberikan nama-nama itu dengan harapan dan idealisasi tertentu yang sarat arti. Meski diberi nama-nama fenomena alam seperti Guntur, Guruh, Awan, Angin dan lain-lain tentu kebaikannya yang diserap dan ingin dipancarkan dari nama itu.
Maka bagaimana setiap insan memaknai dan menjiwai nama-nama yang disandangnya, yang mengandung spirit dan arti kebaikan. Lantas dihadirkan dalam sikap dan tindakan yang memancarkan kebaikan. Manusia siapa pun pada dasarnya suka pada kebaikan, dari mana datangnya dan oleh siapa pun kebaikan itu datang. Hatta dari musuh sekalipun. Namun, seringkali kebaikan itu tersembunyi hanya di dalam hati dan tidak terpancar dalam sikap dan tindakan. Maka, kebaikan itu harus dilahirkan, sehingga yang batin dan yang dlahir sejalan.
Allah dan Nabi bahkan melarang para hamba memberi julukan atau label buruk pada nama orang lain, selain larangan bersikap buruk lainnya dalam berhubungan dengan sesama. Allah berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dlalim.” (QS. al-Hujurat : 11).

  • Maka, kenapa masih suka menghujat sesama dan merasa diri paling baik. Lebih-lebih dengan sesama Muslim yang seiman, seaqidah, dan seagama. Nabi bersabda, “Takutlah hubungan yang tidak baik, sesungguhnya hubungan yang tidak baik itu adalah bencana yang membawa maut.” Allah Yang Maha Rahman dan Rahim akan melimpahkan kasih sayang-Nya kepada para hamba yang dalam dirinya terpancar kebaikan dan menyebarkan kebaikan untuk sesama. Itulah aura kebaikan yang sejati
  • Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. an-Nahl : 90). [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top