Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ketika Abu Hanifah tinggal di Kuffah, salah seorang tetangganya adalah seorang pembuat sepatu. Sepanjang siang ia bekerja, menjelang sore hari ia pulang ke rumah dan memulai kesibukan baru yang telah menjadi kebiasaannya: meminum khamr sampai mabuk. Tiada malam yang terlewati, kecuali dalam keadaan mabuk. Dalam keadaan mabuk itu ia selalu bernyanyi-nyanyi dan mengumandangkan syair. Semuanya selalu terdengar oleh Abu Hanifah, karena ia selalu terjaga untuk melaksanakan qiyamul lail.
Abu Hanifah juga sering mengadakan pengajian bagi murid-muridnya di rumahnya. Pernah pada suatu malam, ketika pengajian sedang dimulai, tetangga Abu Hanifah bernyanyi dengan suara keras. Ada sebagian jama’ah pengajian yang merasa terganggu dan berdiri mohon izin untuk keluar agar bisa menghentikan nyanyian tersebut. Sungguh, rasanya kurang begitu nyaman dan tidak lazim jika ada pengajian di sebuah rumah sementara disebelah rumah itu ada seorang yang sedang mabuk sambil bernyanyi.
Abu Hanifah menolak permintaan jama’ah dan menyuruh mereka duduk untuk mendengarkan kembali pengajian. Sebagian jama’ah pengajian ada yang merasa kesal karena menyaksikan kemungkaran tapi tidak diizinkan untuk mengubahnya.
Inilah Abu Hanifah. Ia adalah seorang imam ahli fiqh yang paham tentang kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Beliau juga paham tentang hak-hak bertetangga dan mengenal betul fiqh dakwah. Pengajian di rumah Abu Hanifah pun berjalan dengan iringan suara bising nyanyian dari tetangga beliau yang sedang mabuk.
Kejadian ini berulang beberapa kali. Setiap kali pengajian berlangsung, pemabuk itu pun selalu bernyanyi dengan suara keras. Sehingga ada diantara jama’ah pengajian yang tidak mampu bersabar lagi. Secara diam-diam ada yang melaporkan kejadian ini kepada petugas keamanan. Sehingga tetangga Abu Hanifah pun ditangkap dan dipenjara.
Pada suatu malam, Abu Hanifah tidak mendengar tetangganya itu bernyanyi-nyanyi seperti biasanya. Sesaat ia keluar untuk mencari kabarnya. Ternyata menurut keterangan tetangga lain, ia baru saja ditangkap polisi dan ditahan.
Selesai shalat Subuh, ketika hari masih pagi, Abu Hanifah naik bighalnya pergi menuju kantor Gubernur. Kepada penjaga kantor Gubernur, ia meminta izin untuk bertemu dengan Gubernur Kuffah. Mendengar bahwa yang ingin bertemu adalah Abu Hanifah, ulama besar paling berpengaruh dan menjadi rujukan masyarakat, Gubernur memerintahkan petugas agar membiarkan Abu Hanifah masuk. “Biarkan ia masuk, jangan sampai ia turun dari bighalnya. Biarkan bighalnya menginjak permadani kantor.”
Dengan penuh antusias, Gubernur menyambut tamunya dan menanyakan maksud kedatangannya. “Ada yang bisa aku bantu?” tanya Gubernur. “Aku mempunyai tetangga seorang tukang sepatu yang ditangkap oleh petugas kemarin”, jawab Abu Hanifah.
Dengan bersegera, Gubernur berkata:”Bebaskan semua tahanan yang ditangkap kemarin, tanpa terkecuali…”, seru Gubernurkepada petugas penjara. Gubernur bermaksud menyenangkan hati Abu Hanifah.
Imam Abu Hanifah memang sangat disegani dan dihormati oleh semua orang, termasuk Gubernur Kuffah.
Abu Hanifah pulang dengan naik bighalnya pelan-pelan. Sementara, si tukang sepatu berjalan kaki di belakangnya. Ketika tiba di rumah, Abu Hanifah turun dan menoleh kepada tetangganya itu seraya berkata,”Maafkan aku karena mengecewakanmu..” “Tidak, bahkan sebaliknya,” sanggah tetangganya itu. Lalu ia menambahkan,”Terimakasih. Semoga Allah memberimu balasan kebajikan.”
Sejak itu, pemabuk itu bertaubat dan tidak lagi mengulangi kebiasaannya.
Teladan Dalam Bertetangga
Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara baik. Bahkan, Rasulullah SAW pernah mengira tetangga termasuk dalam ahli waris, dikarenakan seringnya Jibril mewasiatkan agar bertetangga dengan baik. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya.” (HR. Bukhari-Muslim). Namun, ternyatawaris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum dan mengirimkan hadiah. Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,”Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.” (HR. Muslim).
Dan dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, terdapat seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubadzir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya. Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman…!” Sahabat bertanya,”Siapa ya Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya.”.
Teladan Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Diantara hal yang perlu sekali diperhatikan seorang pelaku amar ma’ruf nahi munkar adalah mengukur dan melihat kemaslahatan yang ditimbulkan. Karena syari’at ditegakkan untuk mendapatkan kemaslahatan dan menghilangkan kemafsadatan.
Ibnu Taimiyah menjelaskan kaidah ini dalam pernyataannya: “amar ma’ruf tidak boleh menghilangkan kema’rufan lebih banyak, atau mendatangkan lebih besar kemunkaran. Nahi munkar tidak boleh mendatangkan kemunkaran yang lebih besar atau menghilangkan kema’rufan yang lebih kuat darinya.” (al-Hisbah, hal.124).
Imam Sufyaan ats-Tsauriy pernah berkata,”Tidak beramar ma’ruf nahi munkar kecuali orang yang memiliki 3 sikap: rifq, adil dan berilmu dalam mengajak dan mencegah” (Ibnu Rajab, Jami’ Ulum wal Hikam, 2/156).
Imam Ahmad ibn Hambal ditanya tentang amar ma’ruf nahi munkar, beliau menjawab: “Para sahabat Abdillah ibn Mas’ud jika melewati satu kaum, yang mereka lihat melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, berkata: sabar,sabar, semoga Allah merahmati kalian.” (Ibnu Rajab, Jami’ Ulum wal Hikam, 2/156).
Demikianlah para ulama memahami kewajiban amar ma’ruf nahi munkar dengan ilmu dan kebijaksanaan. Ibnul Qayyim pernah meceritakan bahwa guru beliau-Ibn Taimiyyah-berkata: “Saya dan sebagian sahabatku di zaman Tartar melewati satu kaum yang meminum khamr. Salah seorang yang bersamaku mengingkari mereka, lalu saya cegah. Saya katakan padanya:’Allah mengharamkan khamr karena ia menghalang dzikir dan sholat, sdangkan khamr menghalangi mereka dari membunuh, menawan anak-anak serta merampok, maka biarkanlah mereka...’ “ (Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, 3 / 4-5)

Inilah teladan dan kebijaksanaan dalam mengubah kemunkaran. Semoga Allah memberikan ilmu, kesabaran dan kebijaksanaan kepada para da’i dan mubaligh. [islamaktual/tabligh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top