Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Abdul Qadir al-Arna'uthi, tokoh kelahiran Tolkota Vrela, Kosovo pada 1928 ini pernah diusulkan menjadi penerima penghargaan dari Raja Arab Saudi, Raja Faishal, atas kiprah dakwah dan sumbangsih pemikirannya bagi dunia Islam. Abdul Qadir al-Arna'uthi memang dikenal dengan kepakarannya di bidang hadis dan fikih.
Kealiman Syekh al-Arnauth mendapat pengakuan banyak ulama, terutama mereka yang berdomisili di kawasan Balkan. Bahkan, selama ting gal di Damaskus, Suriah, al-Arna'uth pernah didaulat sebagai imam sekaligus khatib di beberapa masjid. Ia pun menjadi kebanggaan warga Kosovo.
Sikap dan pandangannya sangat berkarakter dan berprinsip. Ia terkenal gigih mempertahankan kebenaran.
Banyak sekali sikap dan pandangan al-Arna'uth yang menunjukkan kegigihannya dalam membela sunah Rasulullah SAW dan menentang bid'ah sekaligus kemungkaran para pelakunya. Ini setidaknya tergambar dari berbagai karya yang berhasil ia karang, di antaranya Zaad al-Ma'ad dan al-Wajiz fi Manhaj Salaf as-Shalih wa Washaya Nabawiyah.
Ilmu agama
Nama kecil pemberian dari kedua orang tuanya adalah Qadri Shauqel Abdoe. Sebutan al-Arna'uthi merupakan panggilan sebutan penisbatan bagi warga penduduk yang tinggal di pinggiran kawasan Albania pada era Dinasti Turki Ottoman. Al-Arna'uth lahir dari keluarga yang sangat mencintai ilmu agama.
Sejak kecil ia bersama keluarga memang hidup berhijrah dan berpindah-pindah. Ini dilakukan sebagai upaya menghindari penindasan pemerintah komunis Yugoslavia di bawah etnis Serbia saat itu.
Pada saat berumur tiga tahun, al- Arna'uth bersama ayahnya hijrah ke Damaskus Suriah. Di Damaskus inilah al-Arna'uth mendapatkan hidup yang sangat kondusif pada saat itu, termasuk dapat menimba ilmu keagamaan. Al-Arna'uth tidak memiliki ijazah pendidikan, selain ijazah kelas lima ibtidaiyah dari Madrasah al-Is'af al- Khairi.
Sang Ayah ketika awal di Damaskus, mempercayakan pendidikan agama al-Arna'uth kecil kepada beberapa pengajian para syekh. Sebagai fondasi mencari ilmu di negeri orang, al-Arna'uth belajar Mabadi' al-Funun, kitab bekal bagi para pencari ilmu kepada Syekh Shubhi al-'Aththar dan Sulaiman Ghawidji al-Albani di perkampungan Arna`uth di Damaskus.
Sejak remaja, al-Arna'uth pernah bekerja di Damaskus, termasuk beker ja sebagai tukang jam di toko kelon tong milik pakar agama, Syekh Sa'id al-Ahmar. Syekh Sa'id al-Ahmar adalah lulusan Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Dan Syekh Sa'id saat itu sangat kagum dengan kecerdasan yang dimiliki al- Arna'uth. Terutama, bacaan Alqurannya yang memukau disertai dengan muratal dan tajwid.
Al-Arna'uth terus memperdalam ilmu agama. Berbagai dinamika dalam mencari ilmu pernah ia lewati. Ia sempat tak disukai oleh Syekh Farfur lantaran kebiasaannya merujuk karya-karya Ibn al-Qayyim yang ketika itu dicap sebagai pentolan Wahabi klasik.
Peristiwa itu pun mengilhaminya untuk lebih belajar hadis dari ulama asal Albania, yaitu Syekh Abdurrahman al-Albani. Riwayat hadis yang ia terima kebanyakan berasal dari ulama bermazhab Hanafi. Dari sinilah al-Arna'uth terdorong untuk belajar hadis secara autodidak. Perlahan namanya melambung. Al-Arna'uth disejajarkan dengan al-Albani ketika tokoh yang terakhir ini wafat.
Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
Syekh Abdul Qadir al-Arna`uthi terkenal dengan budi pekertinya yang luhur. Sosoknya selalu ceria, pandai beranekdot dan berkelakar. Ia tidak mengenal kata takabur dan tidak memandang dirinya beruntung. Semakin bertambah ilmu maka ketawaduannya kian tampak. Ia tak segan meminta petuah ke ulama- ulama hadis.
Kerendahan hatinya itu tergambar jelas pula melalui pernyataan yang tertulis dalam berbagai karyanya. Ia selalu menuliskan kalimat berikut:
"Hamba yang fakir kepada Allah yang Mahatinggi lagi Mahakuasa, Abdul Qadir al-Arna`uth, khadim (pengabdi)
ilmu hadis di Damaskus". Tetapi, di balik ketawaduannya itu, ia adalah pribadi yang teguh memegang prinsip.
Al-Arna'uth juga dikenal sebagai seorang yang dermawan, pandai bergaul dengan masyarakat. Meski tetap bersosialisasi, al-Arna'uth jarang menghadiri beragam acara perayaan yang mereka gelar. Tetapi, pintu rumahnya selalu terbuka untuk para penuntut ilmu. Bahkan, al-Arna'uth tak jarang kewalahan menerima tamu- tamunya.

Al-Arnau'th mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan umat. Ia pun senantiasa menjadi sumber rujukan dan bertanya segenap Muslim, hingga pada 27 November 2004, bertepatan dengan 14 Syawal 1425 hijriah, Syekh al-Arna'uth meninggal dunia. Kini, jejak dakwah dan warisan al-Arna'uth diwariskan kepada anaknya, Mahmoud Abdul- Qader al-Arna'uthi yang kembali ke Kosovo dan memberikan dakwah dan ceramah di masjid-masjid besar Kosovo. [islamaktual/rol]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top