Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dia adalah Ibnu Waqs al Imam Abu Rabi’ al Anshari, al Asyhali atau ‘Abbad ibn Bisyr, salah seorang sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Dia termasuk salah seorang pemimpin suku Aus. Dia hidup selama 45 tahun. Dia adalah sahabat yang diterangi oleh tongkatnya pada malam hari ketika pulang ke rumahnya dari rumah Rasulullah SAW. Dia masuk Islam di tangan Mush’ab ibn Umair.
Dia salah seorang pembunuh Ka’ab ibn Asyraf al Yahudi. Nabi SAW mempekerjakannya sebagai penarik zakat dari suku Muzayyinah dan bani Salim serta menjadikannya penjaga beliau pada waktu Perang Tabuk. Dia adalah sosok terhormat dan terpandang. Diriwayatkan dari Yahya ibn Ibad ibn Abdullah, dari ayahnya, dia berkata : “Ada tiga orang dari golongan Anshar yang tidak tertandingi kemuliaannya, semuanya berasal dari bani Abdul Asyhal, yaitu Sa’ad ibn Mu’ad, Abbad ibn Bisyr dan Usaid ibn Khudhair.
Sosok Ahli Ibadah
Ketika Islam mulai tersiar di Madinah, ‘Abbad ibn Bisyr masih muda. Dia mendekatkan diri kepada seorang da’i dari Makkah, yaitu Mush’ab ibn ‘Umair r.a. Dalam tempo singkat hati keduanya terikat dalam ikatan iman yang kokoh. ‘Abbad mulai belajar membaca al Qur’an kepada Mush’ab. Suaranya merdu, menyejukkan dan menawan hati. Begitu senangnya membaca kalamullah, sehingga menjadi kegiatan utama baginya. Diulang-ulangnya siang dan malam, sehingga dia terkenal di kalangan para sahabat sebagai imam dan pembaca al Qur’an.
Pada suatu malam, Rasulullah SAW sedang melaksanakan shalat malam di rumah ‘Aisyah r.a yang berdempetan dengan Masjid Nabawi. Terdengar oleh beliau suara ‘Abbad ibn Bisyr membaca al Qur’an dengan suara yang merdu, laksana suara Jibril ketika menurunkan wahyu ke dalam hatinya.
“Ya ‘Aisyah, suara ‘Abbad ibn Bisyr-kah itu?” tanya Rasulullah. “Betul, ya Rasulullah!” jawab ‘Aisyah. Rasulullah berdo’a, “Ya Allah, ampunilah dia!”
‘Abbad ibn Bisyr selalu turut berperang bersama-sama Rasulullah dalam setiap peperangan yang dipimpin Rasulullah SAW. Dalam peperangan-peperangan itu dia bertugas sebagai pembawa al Qur’an. Ketika Rasulullah kembali dari peperangan Dzatur-Riqo’, beliau beristirahat dengan seluruh pasukan kaum Muslimin di lereng sebuah bukit.
Setibanya di tempat pemberhentian di atas bukit, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Siapa yang bertugas jaga malam ini?” ‘Abbad ibn Bisyr dan ‘Ammar ibn Yasir r.a berdiri, “Kami, ya Rasulullah!”, kata keduanya serentak. Rasulullah SAW telah menjadikan keduanya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah.
Ketika keduanya keluar ke mulut jalan (pos penjagaan), ‘Abbad bertanya kepada ‘Ammar, “Siapakah diantara kita yang berjaga lebih dahulu?” “Saya yang tidur lebih dahulu!” jawab ‘Ammar yang bersiap-siap untuk berbaring tidak jauh dari tempat penjagaan. Sementara itu ‘Abbad memilih untuk berjaga sambil shalat.
Dalam shalat malam itu dibacanya surat al Kahfi dengan suara memilukan, merdu bagi siapapun yang mendengarnya. Ketika ia sedang bertasbih dalam cahaya Ilahi yang meningkat tinggi, tenggelam dalam kelap-kelip pancarannya, seorang musuh datang memacu langkah tergesa-gesa. Laki-laki tersebut melihat dari kejauhan seorang hamba Allah sedang beribadah di mulut jalan. Dia yakin Rasulullah dan para sahabat pasti berada di sana. Sedangkan orang yang sedang shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.
Laki-laki itu segera menyiapkan anak panah dan memanah ‘Abbad tepat mengenainya. ‘Abbad mencabut panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tenggelam lagi dalam shalatnya. Orang itu memanah lagi dan mengenai ‘Abbad dengan jitu. ‘Abbad mencabut juga anak panah kedua ini dari tubuhnya seperti yang pertama. Kemudian orang itu memanah lagi. Lagi-lagi ‘Abbad mencabutnya dan tetap larut dalam munajat-nya.
Ketika tiba giliran jaga saudaranya, ‘Ammar, ‘Abbad merangkak ke dekat saudaranya yang terlelap tidur lalu membangunkannya seraya berkata, “Bangun! Aku terluka parah dan lemas!”
Sementara itu, ketika melihat mereka berdua, si pemanah buru-buru melarikan diri. ‘Ammar menoleh kepada ‘Abbad. Dilihatnya darah mengucur dari tiga buah lubang di tubuh ‘Abbad. “Subhanallah! Mengapa kamu tidak membangunkanku ketika anak panah pertama mengenaimu?” tanyanya keheranan.
“Aku sedang membaca al Qur’an dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut menyia-nyiakan tugas yang dibebankan Rasulullah, menjaga mulut jalan tempat kaum Muslimin berkemah, biarlah tubuhku putus daripada memutuskan bacaan dalam shalat tahajudku,” jawab ‘Abbad.
Sosok Pemberani
Ketika perang dalam rangka memberantas orang-orang murtad berkecamuk di masa Abu Bakar r.a., Khalifah menyiapkan pasukan besar untuk menindas kekacauan yang ditimbulkan oleh Musailamah al Kadzdzab. ‘Abbad ibn Bisyr termasuk pelopor dalam ketentaraan tersebut.
Setelah diperhatikannya celah-celah pertempuran, ‘Abbad berpendapat kaum Muslimin tidak akan menang karena kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling menyerahkan urusan satu sama lain. Bahkan mereka saling membenci dan saling mencela. ‘Abbad yakin kaum Muslimin tidak akan menang dalam pertempuran dengan kondisi pasukan yang tidak kompak itu. Kecuali jika kaum Anshar dan Muhajirin membentuk pasukannya masing-masing dengan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dengan begitu dapat diketahui dengan jelas mana pejuang yang sungguh-sungguh.
Sebelum pertempuran yang menentukan itu dimulai,’Abbad bermimpi dalam tidurnya, seolah-olah dia melihat langit terbuka. Setelah dia memasukinya, dia langsung menggabungkan diri ke dalam dan mengunci pintu. Ketika Subuh tiba, ‘Abbad menceritakan mimpinya itu kepada Abu Sa’id al Khudriy. “Demi Allah, itu seperti benar-benar kejadian, hai Abu Sa’id!”, ujarnya.
Ketika perang mulai berlangsung, ‘Abbad naik ke suatu bukit kecil seraya berteriak, “Hai kaum Anshar, berpisahlah kalian dari tentara yang banyak itu! Pecahkan sarung pedang kalian! Jangan tinggalkan Islam terhina atau tenggelam, niscaya bencana menimpa kalian!”
‘Abbad mengulang-ulang seruannya, sehingga sekitar empat ratus prajurit berkumpul di sekelilingnya. Diantara mereka terdapat perwira seperti Tsabit ibn Qais, Al Barra’ ibn Malik dan Abu Dujanah.

‘Abbad dan pasukannya menyerbu memecah pasukan musuh dan menyebar maut dengan pedangnya. Kemunculannya menyebabkan pasukan Musailamah al Kadzdzab terdesak mundur dan melarikan diri ke ‘Kebun Maut’. Disana, ‘Abbad ibn Bisyr gugur sebagai syahid. Wajah dan tubuhnya penuh dengan luka pedang, tusukan lembing, panah yang menancap dan lainnya. Para sahabat hampir tak mengenalinya, kecuali setelah melihat-lihat beberapa tanda di bagian tubuhnya yang lain. Semoga kita bisa meniru ibadah dan keberanian ‘Abbad ibn Bisyr dalam memperjuangkan Islam. [islamaktual/tabligh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top