Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Kejutan Musik dan Adzan Di Polres Bogor


Di suatu siang yang terik, ketika hari itu saya memperpanjang sim A saya di Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Bogor. Saat masuk ruang tunggu untuk antri diambil fotonya, alangkah terkejutnya saya.
Saya melihat Live Music! Ya benar live music dengan iringan band dua orang itu menyanyikan lagu-lagu yang slow. Pemandangan yang tak pernah saya temukan di tempat seperti ini yang terkesan formal. Mantap pujiku dalam hati.
Setidaknya, setiap orang yang melakukan tes pengambilan SIM di Polres Kabupaten Bogor tidak merasa stress karena sedikit terhibur disitu.
Sedang asyik mendengarkan lagu live music, tiba-tiba terdengar lantunan adzan. Saya pikir itu hanya adzan biasa, ternyatai ada yang berbeda kali ini. Setelah adzan berhenti, saya mendengar pengumuman dari pengeras suara.
"Bagi anggota dan masyarakat beragama islam, mari kita sholat berjamaah"
Semakin aku terpesona dengan perubahan di Polres Kabupaten Bogor ini.
Saya melangkah ke arah masjid untuk mengambil wudhu dan bersiap untuk sholat berjamaah. Ketika saya melihat ke dalam masjid, subhanallah, aku melihat pemandangan tak biasa. Masjid hampir penuh dengan jamaah sholat berjamaah yang berseragam. Dan lebih terkejut lagi, ketika sholat usai, Pak Kapolres Kabupaten Bogor berdiri memberikan taushiyah.
Mantap!
Secara garis besar, isi taushiyahnya seperti ini:
Pak Kapolres berujar, “Gung, kesini!”. Seorang polisi berpangkat briptu bernama Agung berdiri mendekati kapolres. “Siap komandan!,” jawab polisi itu.
Kapolres kemudian bertanya, “Kenapa kamu kesini?” “Dipanggil komandan,” jawab anggota polisi tersebut.
“Kenapa kamu ga bilang, nanti aja komandan. Emang yang gaji saya kamu ndan?” tanya kapolres.
“Yang gaji saya masyarakat ndan,” jawab briptu itu.
"Ya udah sana kembali, " perintah kapolres kepada anak buahnya.
“Siap ndan!” jawab anggotanya sambil kembali ke tempat duduknya semula.
Kemudian kapolres kembali melanjutkan tausiyahnya.
"Saya ini cuma ditunjuk jadi Kapolres, dan saya pun tidak tau kepastian hidup dari Agung itu bagaimana, tapi kenapa dia nurut ketika saya panggil ?" ujar Kapolres Bogor.
"Intinya begini, sama manusia yg ga bisa apa-apa saja kita nurut, kita harus lebih nurut sama yang punya hidup yakni Allah SwT" tegas Kapolres Kabupaten Bogor.
Seketika itu pula jantungku berdegup kencang. Deg! Tak pernah seumur hidup ada pimpinan polisi yang berani ngomong seperti ini.
Ternyata di balik seragam coklat dan pangkat tingginya, saya masih menemui polisi yang menurut saya baik akhlaknya.
Dalam hati saya hanya bisa mendoakan agar bapak nantinya bisa menjadi Kapolri, memimpin rutinitas sholat jamaah bersama anak buahnya, sehingga bisa dicontoh oleh umat Islam di Indonesia.
Aminn. [islamaktual/tatzkyrezasetiawan]

Din Syamsuddin : Islam adalah 'Religion of Nature'


Indonesia mendapat undangan khusus dalam acara bertajuk 'Protect the Earth, Dignify Humanity, The Moral Dimensions of Climate Change and Sustainable Development'. Konferensi yang diadakan di Vatikan ini dihadiri oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, Selasa (28/4) kemarin.
Sebagai perwakilan pembicara Islam, Din menyampaikan mengenai agama Islam yang disebutnya sebagai 'Religion of Nature'. Dalam kesempatan ini dipaparkan bahwa Islam merupakan agama yang sangat memberi perhatian kepada alam dan lingkungan hidup.
Ketua MUI ini menjelaskan dengan menyebut bahwa 750 ayat dari 6.666 ayat al-Quran yang berbicara tentang alam dan lingkungan hidup dengan segala keterkaitannya. Ia menunjukkan ayat tentang kejadian semesta, keragaman hayati, dan keseimbangan dalam penciptaan lingkungan hidup.
Dalam konferensi yang dihadiri sekitar 100 tokoh dari berbagai negara tersebut, ia juga  mengajukan sejumlah prinsip moral dan etika Islam untuk pembangunan berkelanjutan dan pemuliaan lingkungan hidup. Prinsip itu mengungkapkan alam dan lingkungan hidup adalah ciptaan Tuhan dan berdimensi sakral.
Alam adalah anugerah Tuhan kepada manusia tapi manusia bukanlah pemiliknya. Manusia hanyalah penghuni yang meminjam sementara untuk ditinggali. Oleh karena itu, manusia harus memperlakukan alam secara adil dan bertanggung jawab.
Menurutnya ini bertujuan memuliakannya untuk dimanfaatkan generasi mendatang. Prinsip2 ini, menurut Din, bertumpu pada Trilogi Kehidupan yaitu Tauhid, Khilafah, dan Akhirat. Dari keyakinan tauhid ada hubungan antara Tuhan, alam, dan manusia.
Kesadaran manusia sebagai wakil Tuhan di bumi harus melakukan misi pemuliaan dan pembangunan lingkungan hidup dengan tujuan pertanggungjawaban di akhirat nanti. Di akhir pembicaraannya, ia juga mengajak semua pihak untuk membangun 'Mega Koalisi Pemuliaan Lingkungan'.
Program ini akan melibatkan baik agamawan, penentu kebijakan/politisi, pengusaha dan sebagainya untuk menjaga lingkungan. Usulannya mendapat sambutan apresiasi dan respon meriah dari seluruh undangan yang hadir.

Selain Din, pembicara lainnya adalah Rabbi David Roshen (tokoh Yahudi dari Israel), Dr. Olav Tveit (Sekjen Dewan Gereja Sedunia/WCC), Metropolitan Immanuel France (Tokoh Gereja Ortodoks), Rev. Kosho Niwano (tokoh Buddha dari Jepang), Swami Brahmanda (tokoh Hindu dari India). [islamaktual/rol]

Muhammadiyah Kirim Dokter Spesialis Ke Nepal


Muhammadiyah menunjukkan diri sebagai organisasi yang concern pada masalah kemanusiaan. Tak berselang lama dengan terjadinya gempa Nepal pada Sabtu (25/4) lalu, Muhammadiyah pada hari Rabu (29/4) kemarin mengirimkan tim pertama yang akan melakukan misi kemanusiaan di Nepal.
Tim yang berangkat atas nama program MuhammadiyahAID ini berjumlah 3 orang. Tim terdiri dari dr. Meidy Ferdianto, Sp.OT, dokter spesialis ortopedi, dr. Indragiri SpAn, dokter spesialis, serta seorang perawat anestesi. Program ini merupakan program kerja kemanusiaan untuk luar negeri yang dilakukan oleh Muhammadiyah lewat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) serta LazisMU.
Tim dari Muhammadiyah merupakan bagian dari delegasi Republik Indonesia untuk bantuan kemanusiaan korban Gempa Nepal. Tim ini bersama tim yang lain seperti dari BNPB serta Tim Kesehatan TNI terbang menggunakan pesawat Boeing 737 milik TNI AU dari Bandara Halim Perdanakusuma dan transit di Aceh kemudian menuju Kathmandu.
Dikutip muhammadiyah.or.id, Budi Setiawan Ketua MDMC menyatakan bahwa komitmen Muhammadiyah membantu korban bencana gempa di Nepal merupakan wujud komitmen warga Muhammadiyah terhadap pengamalan ke-Islaman. Hal ini khususnya adalah konsep semangat Al-Ma’un yang menjadi dasar keterpanggilan Muhammadiyah untuk bersama memecahkan masalah kemanusiaan dimanapun juga.
“Kalau ketika kita menghadapi gempa bumi Yogyakarta 2006, Tsunami Aceh 2004 dan bencana lainnya kita dibantu oleh seluruh warga dunia, Muhammadiyah merasa bahwa kejadian bencana dimanapun juga memanggil rasa kemanusiaan kita untuk berbuat,” terang Budi.

Selain itu, program MuhammadiyahAID dijadwalkan pada hari Jumat (1/5) besok akan kembali mengirimkan tim kedua serta membawa bantuan berupa 400 buah selimut bagi korban bencana gempa Nepal. [islamaktual]

Kenapa Merasa Berat Berjuang?


Waktu itu jelang Perang Tabuk. Musim di jazirah Arab kebetulan panas sekali. Sementara, buah-buahan sedang siap dipanen. Penduduk tentu lebih nyaman tinggal di rumah dan tidak pergi ke luar. Ketika Rasulullah memaklumatkan pergi berjihad ke Tabuk, sebagian kaum Muslimin menunjukkan gelagat enggan menunaikan jihad itu. Padahal, sebelumnya mereka berikrar untuk menunaikan apapun yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.
Dengan peristiwa itu, maka Allah SwT menurunkan ayat ke-41, surat at-Taubah sebagai teguran terhadap mereka yang tidak mau berjihad itu. Ayat itu berbunyi, yang artinya: “Berangkatlah, baik dalam keadaan ringan ataupun berat. Dan berjihadlah dengan harta kamu dan diri kamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS. at-Taubah [9]:41).
Menurut sebagian riwayat, diantara kaum Muslimin yang merasa berat pergi ke medan juang Tabuk itu terdapat orang-orang tua dan sakit. Maka, dengan ayat al-Qur’an, surat at-Taubah ayat 41 itu, Allah memberikan pilihan, bahwa jika tidak mampu dengan fisik, maka berjihadlah dengan harta. Hal itu jauh lebih baik. Jika tidak memiliki apapun, dengan hati dan doa. Sikap yang ditegur Allah itu ialah keengganan menjalankan jihad di jalan-Nya. Yang sebenarnya banyak pilihan manakala berniat, jika benar-benar tidak mampu secara fisik. Tidak sedikit orang banyak alasan untuk tidak menunaikan jihad di jalan Allah.
Kini, dalam kehidupan umat Islam dimana pun, jihad dalam makna berjuang di jalan Allah terbuka banyak cara. Jihad dengan pikiran, waktu, harta, ilmu, kekuasaan, dan apapun yang dimiliki. Bagi sebagian yang berada dalam kancah pergolakan mempertahankan diri dari serangan luar, seperti bangsa Palestina yang di agresi Israel dan lain-lain, tentu berlaku jihad dengan fisik, selain dengan yang lainnya sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasulullah.
Apapun bentuk jihad itu, pertama harus diniati dengan ikhlas untuk meraih ridla Allah. Dalam hal ini, menurut Tarjih Muhammadiyah, jihad ialah jalan yang mengantarkan kepada keridlaan Allah dengan cara menjalankan perintah-Nya dan melaksanakan ketetapan-Nya. Niat ikhlas menjadi patokan utama dalam berjihad. Karena kalau niatnya karena kepentingan duniawi, maka sebatas kepentingan itulah yang akan didapat.
Jihad dalam arti berjuang di jalan Allah, apa pun wujudnya haruslah bersungguh-sungguh. Sebagaimana salah satu makna jihad, yakni “badl al-juhdi” atau mengerahkan segala kemampuan. Bagi siapapun yang berjuang di jalan Allah dengan sepenuh kesungguhan, maka Allah akan membukakan banyak jalan. Sebagaimana firman-Nya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut [29]:69).
Dalam berjuang di medan dakwah melalui gerakan Islam, sungguh betapa banyak jalan untuk berjihad meraih ridla Allah. Apapun wujudnya melalui tenaga, pikiran, ilmu, pengalaman, harta, kedudukan. Dan apapun yang dimiliki harus diniati dengan ikhlas dan ditunaikan dengan kesungguhan. Kesungguhan itu tidak harus dimaknai habis-habisan. Sehingga diri dan keluarga tidak terurus, tetapi ada optimalisasi dalam berkiprah mengemban misi dakwah di jalan organisasi. masing-masing memiliki ukuran, tetapi harus diniati dan dilaksanakan dengan sepenuh hati serta frekuensi yang maksimal sehingga tercapai tujuan.

Karenanya, dalam beraktivitas di organisasi dakwah janganlah merasa berat dan seadanya. Karena kiprah tersebut sejatinya berjihad di jalan Allah yang tentu akan bermuara pada raihan pahala, ridla, dan karunia Allah yang ujungnya menempati surga jannatun na’im. Disabdakan Nabi, bahwa “Sesungguhnya, di dalam surga itu ada seratus derajat yang disediakan oleh Allah SwT untuk para pejuang di jalan Allah. Jarak antara satu derajat dengan lainnya adalah seperti jarak antara langit dan bumi”. Lalu, kenapa masih berat berjuang? [islamaktual/sm/a.nuha]

Gereja dan Misi Kristenisasi


“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan
kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki
yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata
bagi mereka kebenaran”
(QS. al-Baqarah [2]:109)

Dr. Walter Bonar Sidjabat pernah menulis fungsi gereja dalam kaitannya dengan misi kristenisasi. Walter mengatakan, “...Guna penuaian panggilan inilah gereja-gereja kita berserak-serak di seluruh penjuru Nusantara agar rakyat yang bhineka tunggal ika, yang terdiri dari penganut berbagai agama dan ideologi dapat mengenal dan mengikuti Yesus Kristus.” (Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini).
Kalimat tersebut di atas dikutip oleh Ustadz Adian Husaini dalam Catatan Akhir Pekan beliau yang berjudul “Untuk Apa Gereja Dibangun?”. Sedangkan Dr. Walter Bonar Sidjabat adalah seorang tokoh Kristen Batak.
Menurut Adian, jika mengikuti pemikiran tokoh Kristen Batak ini, bisa dipahami bahwa kehadiran sebuah gereja bagi kaum Kristen bukanlah sekedar persoalan “kebebasan beribadah” atau “kebebasan beragama”. Banyak kalangan Muslim dan mungkin juga kaum Kristen sendiri yang tidak paham akan eksistensi sebuah gereja. Pendirian sebuah gereja bukan sekedar pendirian sebuah tempat ibadah, tetapi juga bagian dari sebuah pekerjaan Misi Kristen; agar masyarakat di sekitarnya “mengenal dan mengikuti Yesus Kristus”. Oleh karena itu, tepat jika dikatakan pendirian sebuah gereja terkait erat dengan misi Kristenisasi.
Apabila sebuah masjid dibangun karena kebutuhan sejumlah masyarakat Muslim di lingkungan tersebut untuk shalat dan ibadah lainnya secara berjama’ah, maka sebuah gereja bisa dibangun tanpa keberadaan sejumlah anggota jemaatnya. Faktanya memang demikian, mereka bisa membangun sebuah gereja yang besar meskipun di lingkungan sekitar hanya ada 1 keluarga jemaat gereja. Karena tujuan utama pembangunan gereja bukanlah untuk beribadah bersama sejumlah anggota masyarakat di lingkungan sekitar. Akan tetapi lebih kepada kepentingan mengkristenkan masyarakat setempat.
Strategi Pembangunan Gereja
Menurut ustadz Bernard Abdul Jabbar, pembangunan gereja merupakan salah satu upaya strategis untuk melakukan kristenisasi. Ustadz Bernard, yang notabene mantan misionaris ini tentu paham betul apa saja modus dan strategi pihak Kristen untuk menjalankan misinya.
Menurut beliau, paling tidak ada tiga tahapan kristenisasi. Pertama, memberikan bantuan dana (donate now); Kedua, memberikan pelayanan dan melayani (opportunities to serve); dan ketiga, mengajak bergabung dalam ritual (join us in prayer).
Tahapan-tahapan itu dijalankan dengan beberapa modus dan strategi, yaitu: penyamaran identitas, aksi bantuan sosial dan pembangunan gereja.
Gereja dibangun sebagai pusat operasi berbasis sosial kemasyarakatan dan lintas kultural. Gereja didirikan dengan pola gerakan rahasia sehingga masyarakat, umat ini tidak menyadari bahwa di wilayah tempat tinggal mereka sedang terjadi proses pembentukan aktivitas kristenisasi terselubung. Biasanya, masyarakat baru menyadari hal ini ketika gereja sudah berdiri tegak, eksis dengan program-programnya, memiliki jaringan yang kuat dan sudah berhasil menciptakan ketergantungan sosial-ekonomi.
Sebelum mendirikan sebuah gereja, tahapan yang harus dilakukan adalah membentuk Persekutuan Rumah Tangga (PERMATA). PERMATA bermula dari pertemuan do’a kecil atau serikat do’a internal. Bisa juga berbentuk persekutuan rumah tangga dari beberapa jemaat gereja. Jika tahapan ini berhasil luput dari pantauan masyarakat, maka selanjutnya didirikanlah ‘gereja perintis’, dan kemudian menjadi ‘gereja satelit’. Gereja Satelit adalah gereja penopang dari induk gereja yang ada di kota tersebut. Jika hal ini berhasil dicapai, maka selanjutnya adalah mendirikan gereja permanen.
Menghalalkan Segala Cara
Untuk mewujudkan misi mereka dalam mendirikan gereja, mereka bisa melakukan apa saja. Sebagaimana sudah kita kenal, misi Kristen diemban dengan melakukan berbagai cara tipu muslihat dan kejahatan lainnya. Untuk mengkristenkan seseorang, bahkan cara ‘Memacar-Menghamili-Menikahi’ sudah maklum bagi mereka. Seperti itu pula cara untuk membangun gereja. Mereka bisa memalsukan tanda tangan, menyogok aparat, mengadu-domba ormas Islam dan memfitnah para tokoh.
Masih menurut ustadz Adian Husaini, sejak awal mula misi dijalankan, Gereja sudah menyiapkan diri untuk melakukan konfrontasi, khususnya dengan umat Islam. Bahkan, konfrontasi itu harus dilakukan dengan mengerahkan jiwa dan raga demi kemuliaan Tuhan.

Kesimpulan beliau bukan tanpa alasan. Tanpa perlu membaca buku tersebut pun kita sudah bisa menyaksikan beberapa kasus terakhir yang menunjukkan betapa brutalnya misi kristenisasi ini dijalankan. Tengok saja kasus Ciketing di Bekasi dan GKI Yasmin di Bogor. [islamaktual/tabligh]

Tokoh Pelaut Muslim


Nautika atau ilmu kelautan telah dikenal para pelaut Muslim jauh sebelum penjelajah Eropa mengelilingi dunia. Para navigator Muslim terbukti memiliki kontribusi yang luar biasa dalam pengembangan pelayaran.
Para pelaut Barat seperti Cristopher Colombus dan Vasco Da Gama pun merasa berutang budi pada pemikiran dan jasa-jasa pelaut Islam yang menakjubkan. Berikut beberapa nama pelaut Islam yang sangat diakui kapasitasnya.
  • IBNU MAJID
Pelaut Muslim ini mendapat julukan ‘Sang Singa Laut’. Ibnu Majid lahir dari keluarga pelaut. Ayah dan kakekanya terkenal sebagai muallim (Master of Navigator) dan ahli tentang Laut Merah.
Pelaut ulung yang hidup pada pertengahan abad ke-9 H/15 M ini oleh orang-orang Portugis dijuluki al-Malande atau al-Marante yang berarti “Raja Laut”.
Menurut catatan Vasco Da Gama, kisah pelaut Arab ini memiliki pengaruh yang luar biasa sehingga dirinya bisa melakukan pelayaran dari Tanjung Harapan di Afrika sampai ke India.
Di Institut Studi Ketimuran, Leningrad, terdapat manuskrip berbahasa Arab berupa tiga bait puisi yang ditulis oleh Ibnu Majid. Puisi itu berisi penjelasan tentang cara melakukan pelayaran di berbagai kawasan yang berbeda seperti melintasi Laut Merah, dan Samudera Hindia. Manuskrip tersebut merupakan petunjuk yang sangat penting untuk melakukan pelayaran. Orang-orang Portugis tidak akan bisa melintasi Samudera Hindia tanpa bantuan Ibnu Majid karena ombak dan anginnya yang kencang.
Ibnu Majid memberikan penjelasan dan informasi berharga tentang laut. Penjelasan itu terkait petunjuk-petunjuk pelayaran, seperti pengetahuan tentang jarak tempuh antara satu tempat dengan tempat lainnya, tiupan angin, kondisi medan, serta kemudahan yang mungkin dapat diperoleh.
Selain itu Ibnu Majid dikenal pula sebagai seorang berpengetahuan luas di bidang pemetaan, astronomi dan geografi.Karya-karyanya dalam bidang tersebut diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Karya inilah yang dikutip oleh para sarjana baik yang berasal dari kalangan Arab sendiri ataupun dunia Islam umumnya, serta sarjana-sarjana Barat.
  • IBNU BATTUTA
Ibnu Battuta, lahir pada tahun 1304 M di Tangier, sebuah kota di dekat Selat Gibraltar, Maroko. Sejak kecil ia tertarik pada petualangan pelayaran. Ia dikenal sebagai penjelajah ulung. Pernah menempuh jarak sejauh 72 ribu mil melalui lautan dan daratan. Jarak ini jauh lebih panjang dari yang dilakukan Marcopolo dan penjelajah manapun sebelum datangnya teknologi mesin uap.
Ibnu Battuta memulai perjalanannya pada usia 21 tahun dengan tujuan menunaikan ibadah haji. Ia bersama jamaah Tangiers lainnya menempuh keringnya hawa Laut Mediterania di tengah teriknya daratan berpasir Afrika Utara. Semuanya dilakukan hanya dengan berjalan kaki, menyusuri Pantai Utara Afrika melewati Aljazair, Tunisia, Tripoli, Alexandria, Kairo, Jerussalem, lalu singgah di Damaskus, Madinah dan Makkah.
Tahun 1326 M, ia melanjutkan perjalanan ke wilayah Iran dan Irak sekarang. Setahun berikutnya kembali ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua, dan tinggal selama setahun di kota suci tersebut.
Tahun 1328 M, Battuta melanjutkan perjalanan ketiganya ke Pantai Timur Afrika hingga ke kota Kilwa, sekarang Tanzania. Penjelajahannya berlanjut menuju Somalia, pantai-pantai Afrika Timur, termasuk Zeila dan Mambasa. Kembali ke Aden, kemudian ke Oman, Hormuz di Persia dan Pulau Dahrain.
Battuta melakukan perjalanan ke wiayah Asia Tengah melalui Anatolia ke Turki Asia dan singgah di Konstantinopel sebelum berlayar menyeberangi Laut Hitam ke wilayah Asia Tengah.
Dari wilayah Sungai Volga, pada 1334 M, Ibnu Battuta menerobos wilayah Afghanistan melalui Kabul hingga ke Delhi, India.
Tahun 1342 M, sultan di Delhi mengutus Ibnu Battuta melakukan perjalanan ke Cina sebagai Duta Besar. Pada tahun 1346 M, ia memulai perjalanan pulang dari Beijing, selama empat tahun perjalanan darat dan pelayaran laut, ia kembali ke kota kelahirannya, Tangiers di Maroko.
Battuta pergi berkelana pada umur 21 tahun dan kembali pada umur 44 tahun, sebuah perjalanan selama hampir 24 tahun yang mengesankan. Pada tahun 1354 M, Ibnu Battuta kembali ke tanah kelahirannya dan menetap di kota Fez dan berteman baik dengan sultan. Sang sultan kagum dengan perjalanan Battuta serta memintanya menuliskannya ke dalam sebuah buku, yang dikenal berjudul Rihla atau My Travel. Buku ini dijadikan pegangan oleh para pelaut sebelum berlayar ke sebuah tempat.
  • PIRI REIS
Piri Reis adalah seorang laksamana yang gagah berani. Dia lahir pada tahun 1465 M di Gallipoli, Turki, yang merupakan wilayah pantai. Ayahnya bernama Haci Mehmet, sedangkan pamannya merupakan seorang laksamana terkenal kala itu, Kemal Reis.
Seperti anak-anak pada umumnya yang dipengaruhi lingkungan dimana ia hidup, sejak dini ia bergelut dengan pantai dan terbiasa untuk berlayar. Tak heran ketika umurnya baru 12 tahun, ia telah bergabung bersama pamannya, Kemal Reis. Meski masih belia, rupanya Piri sarat ilmu pengetahuan. Masa itu menjadi awal karir baginya untuk mengarungi lautan bersama Kemal Reis. Selama 14 tahun sang paman memberikan bimbingannya.
Bergabungnya Kemal Reis di angkatan laut kesultanan Turki, membuat Piri akhirnya bergabung pula. Ia tetap berada di bawah komando sang paman. Selain mumpuni mengarungi hamparan air yang luas, ia mampu pula menuangkan rekaman perjalanannya ke dalam sebuah karya monumental yang menjadi panduan penting dalam dunia geografi dan ilmu pelayaran.
Pada 1513 M, ia mampu menghasilkan sebuah peta dunia. Ia memetakan Laut Atlantik serta pantai-pantai di Eropa. Karyanya diberi tajuk I-Bahriye yang merupakan karya monumental bagi dunia kelautan.
Pada 1516-1517 M, Piri mendapat perintah memimpin pasukan Ottoman melawan Mesir. Dalam kesempatan ini, ia berlayar ke Kairo melalui Nil dan kemudian menggambarkan sebuah peta dan memberikan informasi yang detail tentang wilayah tersebut.
Pertempuran dahsyat ia alami juga bersama pamannya ketika melawan pasukan dari Venesia pada 1520 M. Saat itu pasukan Ottoman mampu memukul mundur pasukan musuh. Hal ini merupakan kemenangan yang besar bagi Ottoman. Kegembiraan yang ia rasakan beberapa saat kemudian berubah menjadi duka. Sang paman, Kemal Reis, gugur. Untuk menggantikan posisi Kemal Reis, pihak pemerintah kemudian menunjuk Piri Reis menjadi Laksamana Kesultanan Ottoman.
Meski telah menjadi laksamana yang begitu padat kegiatannya, dia tetap sempatkan untuk menuliskan rekaman perjalanannya. Pada 1528 M sampai 1529 M, Piri Reis melengkapi peta pertamanya yang tercantum dalam I-Bahriye.

Kali ini, ia berhasil memetakan wilayah Barat Daya Atlantik, sebuah wilayah yang disebut dunia baru yang terletak dari Venezuela hingga bagian selatan, Greenland. [islamaktual/hidayatullah/wahyumurtiningsih]

UEA Kucurkan Dana Kemanusiaan Bagi Yaman


Perang yang berkecamuk di Yaman tak mengendurkan simpati negara Timur Tengah pada dampak yang terjadi. Ini dibuktikan oleh Uni Emirat Arab (UEA) yang mengucurkan bantuan pada Yaman di saat konflik. UEA dikabarkan telah memberikan bantuan sekitar U$ 27 juta kepada komite bantuan yang berafiliasi dengan Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi, seperti dikutip islampos.com Selasa (28/4).
Bantuan UEA itu sendiri diprakarsai langsung oleh Putra Mahkota Abu Dhabi dan Deputi Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.
Bantuan tersebut nantinya akan disalurkan kepada Komite Tinggi pemerintah Yaman di bawah pimpinan Wakil Presiden dan Perdana Menteri Khaled Bahah.
Dalam konferensi pers yang dilakukan Senin sebelumnya, Komite Tinggi itu mengatakan bahwa provinsi Aden, Taizz dan Dali adalah zona bencana. Mereka juga menambahkan data sekitar sembilan juta orang Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan segera dampak dari perang.

Seperti diketahui, Uni Emirat Arab merupakan salah satu dari beberapa negara Timur Tengah yang berpartisipasi dalam perang koalisi Saudi terhadap kelompok Syiah Houthi di Yaman. [islamaktual]

Menkeu : Indonesia Harus Miliki Bank Syariah Besar


Indonesia dinilai sudah harus mempunyai bank syariah besar, baik hasil merger atau dibentuk bank baru. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam diskusi di Forum Riset Ekonomi Keuangan Syariah (FREKS) 2015.
Menurut Menkeu, yang penting saat ini adalah harus berdiri bank syariah BUKU IV di Indonesia.
''Ini penting. Kalau tidak, akan sulit. Dibandingkan BUKU IV, BUKU III saja masih sulit. Karena skala ekonomi itu penting,'' ujar Bambang, Selasa (28/4) seperti dikutip republika.co.id.
Pemerintah akan bersyukur jika ada pihak swasta yang memiliki modal besar serta mau membuat bank syariah besar di Indonesia. Akan tetapi jika pun tidak ada swasta yang berminat, maka pemerintah yang berkewajiban membentuk, entah nantinya membuat bank baru atau merger bank syariah milik bank-bank BUMN.
Hal yang sama juga diungkapkan Muliaman D Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan. Muliaman mengatakan bahwa pada dasarnya Indonesia membutuhkan bank besar syariah agar bisa melakukan banyak hal. Sebab jika hanya berbentuk bank-bank kecil, nantinya tidak bisa berbuat banyak sehingga tidak bisa memberi kontribusi nyata bagi pembangunan.
Menurutnya, untuk menjadi besar, ada 2 langkah yang bisa diambil, yaitu bisa organik dan non organik, salah satunya dengan merger. Menteri BUMN sudah punya komitmen kuat untuk itu lanjut Muliaman.
''Detilnya nanti dilihat, tapi semoga semoga sebelum akhir tahun ini sudah ada arahnya. Bila perlu, jangan hanya menggabungkan bank-bank syariah yang ada tapi pemerintah juga berpartisipasi memberi modal sehingga bank barunya bisa langsung jadi BUKU IV,'' tutur Muliaman.

OJK dalam hal ini berusaha mendukung dengan bekerjasama dengan Kementerian BUMN. Sehingga minimal ada Bank BUKU III, satu dulu saja. Kalaupun business nature empat bank syariah anak BUMN itu berbeda, Muliaman melihat nanti empat bank itu akan bisa saling melengkapi jika nantinya jadi digabung. [islamaktual]

MUI : Dunia Harus Hormati Kedaulatan Hukum Indonesia


Majelis Ulama Indonesia melalui Ketua Komite Pusat Gerakan Nasional Anti Narkoba (GANAS ANNAR), Anwar Abbas, menegaskan bahwa dunia internasional sebaiknya tidak mengintervensi hukum yang berlaku di Indonesia.
''Untuk itu, kita menghimbau masyarakat dunia untuk menghormati hukum yang berlaku di Indonesia dan jangan sekali-kali mencoba memaksakan kehendak dan keinginan mereka terhadap Indonesia yang berdaulat," ujar Abbas dikutip republika.co.id, Selasa (28/4).
Menurut Abbas, jika negara-negara tersebut mengecam hukuman mati kepada terpidana narkoba serta tidak mau rakyatnya dihukum mati, maka jangan biarkan rakyatnya membawa dan memperdagangkan barang haram tersebut ke Indonesia.
Ia juga menilai pelaku kejahatan narkoba merupakan extraordinary crime, karena menurutnya, mengedarkan narkoba sama saja mengedarkan kematian kepada banyak orang.
Selain itu, Abbas juga mengapresiasi Presiden Joko Widodo karena tetap konsisten tidak terpengaruh oleh tekanan serta ancaman negara asing dalam penegakan hukum terutama kepada para terpidana kasus narkoba.
"Kita pantas menyampaikan rasa salut dan bangga kepada presiden Jokowi yang meskipun ditekan dan diancam oleh kepala-kepala pemerintahan yang warganya akan dijatuhi hukuman mati malam ini atau dalam beberapa hari kedepan," ujar Bendahara Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini.

Selain itu, ketegaran Presiden Jokowi yang tidak memberikan grasi kepada para narapidana kasus narkoba juga patut dipuji. Dia menilai, ketegasan Presiden Jokowi yang sama sekali tidak mengintervensi putusan pengadilan yang memberikan hukuman mati kepada para narapidana kasus narkoba patut diapresiasi. [islamaktual]

Saatnya Muhasabah


Setiap akhir tahun yang juga awal tahun baru, umat Islam terbawa hura-hura suasana tahun baru. Mestinya melakukan apa? Idealnya setiap Muslim memiliki kesadaran pentingnya ber-muhasabah pada akhir tahun. Lebih ideal lagi jika tidak hanya di akhir tahu ber-muhasabah, melainkan selama hayat masih dikandung badan. Namun tidak ada salahnya jika menjelang tutup tahun ini kita kembali melakukan refleksi dari atau ber-muhasabah. Makna generik muhasabah adalah bertanya pada diri sendiri dalam rangka introspeksi, evaluasi, dan audit diri sendiri.
Tujuan muhasabah adalah untuk menumbuhkan kesadaran moral terhadap pentingnya mengetahui jati diri, dinamika perjalanan hidup, dan kekurangan diri, sehingga berkomitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas integritas pribadi. Muhasabah itu penting agar kita tidak hidup merugi dan bangkrut, padahal kita sudah diberikan umur relatif panjang.
Muhasabah merupakan momentum penyucian diri (tazkiyatun nafsi), memperbarui i’tikad dan komitmen mental-spiritual dengan Allah SWT dan sesama. Melalui muhasabah yang mendalam, kita menyadari bahwa hidup di dunia ini tidak lama (al-hayat al-dunya = kehidupan yang sangat dekat, sementara atau rendah). Setiap saat umur kita berkurang, berkurang dan terus berkurang, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, dan tahun demi tahun. Kita semua sedang menempuh perjalanan menuju kematian.
Kontrak umur -dalam bahasa Arab, ‘umur berarti kemakmuran- adalah amanah dan salah satu anugerah yang di akhirat kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT: “Untuk apa umur yang diberikan itu dipergunakan?” Apakah usia yang dianugerahkan itu digunakan untuk melakukan ketaatan kepada Allah ataukah untuk kemaksiatan?
Oleh karena itu, muhasabah harus dimodali dengan empat hal. Pertama, ketulusan dan kejujuran hati untuk mau berintrospeksi dan berkomitmen selalu bertaubat dan beristighfar kepada Allah SWT. Kedua, kejernihan akal pikiran untuk mau melakukan perubahan menuju perbaikan kualitas hidup, dengan prinsip bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih berkualitas dari hari ini. Ketiga, ketangguhan mental-spiritual untuk merencanakan masa depan yang lebih baik, dengan meningkatkan aneka amal kebaikan dan keshalihan. Keempat, menjadikan takwa sebagai modal dalam menatap dan memperbaiki masa depan dengan tidak melupakan Allah SWT.
Coba perhatikan firman Allah SWT berikut ini : “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. al-Hasyr [59]: 18-19).
Jadi, momentum muhasabah ini harus dimaknai sebagai sebuah refleksi mental-spiritual menuju pendakian dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Marilah kita merenung sejenak, dengan mengkalkulasi secara sederhana. Rata-rata kita menghabiskan waktu kurang lebih 8 jam/hari untuk tidur. 8 jam itu sama dengan ⅓ dari 24 jam/hari. Jika misalnya kita dikaruniai usia hingga 60 tahun, berarti kita tidur salam 20 tahun. Jika usia kita nanti sampai 75 tahun, berarti 25 tahun kita gunakan untuk tidur.
Lalu ⅔ usia bangun kita itu untuk apa? Berapa lama kita sudah belajar, bekerja, berkarya, berdedikasi, beribadah kepada Allah, memberi nilai tambah (manfaat) bagi diri sendiri dan orang lain? Ungkapan Umar ibn al-Khattab r.a tampaknya masih relevan kita renungkan kembali: “Hitunglah (amalan) dirimu, sebelum engkau dihitung (oleh Allah); dan timbanglah amal perbuatan atau kinerjamu sebelum benar-benar ditimbang di akhirat kelak!”
Memenej waktu juga sangat penting, sehingga perjalanan hidup kita ke depan menjadi lebih bermakna. Nabi SAW bersabda: “Jagalah dan manfaatkanlah (waktu antara) yang lima sebelum datang yang lima: waktu mudamu sebelum pikunmu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. al-Hakim).

Proses muhasabah juga harus dibarengi dengan pembuatan rencana atau program yang jelas dan visioner (melihat jauh ke depan). Dan harus berusaha mewujudkan dengan sungguh-sungguh. [islamaktual/sm/muhbibabdulwahab]

Visit Us


Top