Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dewasa ini isu pluralisme bagai kopi hitam diantara kumpulan sopir truk yang kelelahan. Perhatian masyarakat tersedot ketika isu ini diangkat, bahkan tak jarang beberapa reaksi keras muncul mengikutinya. Maka tak ayal, jika media menganggap isu pluralisme sebagai komoditi panas untuk diangkat ke muka. Berikut wawancara Fahmi Salim mengenai bahaya jebakan isu PLURALISME.
1. Seperti apakah model ideal proses interaksi umat Islam dengan non-Muslim, terutama dalam konteks ke Indonesiaan?
Islam adalah rahmat bagi alam semesta, dan tentu saja rahmat juga bagi Indonesia. Dalam artian, ajaran Islam dalam semua aspeknya pasti juga cocok, relevan dan menjadi rahmat bagi seluruh elemen bangsa Indonesia jika mau diterapkan secara utuh. Termasuk model ideal dalam hal toleransi umat beragama. Islam mengajarkan lakum diinukum wa liya diin, silakan kamu hayati dan amalkan agamamu dan akupun demikian, jangan saling mengganggu apalagi menghalangi penganut agama lain menjalankan agamanya. Bahkan diajarkan saling tolong menolong. Contoh kalo ada tetangga kita non-muslim ingin meminjam bangku atau tikar/karpet untuk acara di rumah mereka, kita wajib membantunya semaksimal mungkin. Itu toleransi. Namun kalo non-muslim datang ke rumah kita untuk meminang anak perempuan kita tentu saja harus ditolak, karena dalam Islam haram kawin beda agama. Itulah toleransi yang lahir dari pengakuan adanya pluralitas (keragaman) agama sebagai sunnatullah (kauniyah), meski demikian Islam tetap mengklaim bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar diridhoi Allah ta’ala. Suatu klaim yang pantas dan patut serta menjadi aksioma beragama.
2. Isu pluralisme agama kembali marak, terbukti dari banyaknya fenomena sosial yang dilandaskan pada isu ini, seperti nikah beda agama. Menurut Bapak ini gejala apa?
Pluralisme ini paham yang menyesatkan dan membingungkan akidah umat. Sehingga MUI telah memfatwakannya sebagai paham yang bertentangan dg ajaran Islam, dan haram umat islam mengikutinya. Karena paham yang membenarkan semua agama, dan semua menuju tuhan yang sama, lalu memberikan legitimasi semuanya bakal masuk surga Allah, tentu saja bertentangan dengan norma dasar islam. Menurut islam, hanya islam yang benar, dan yang lain adalah batil, meskipun muslim diajarkan utk menghormati dan menoleransi kebebasan umat lain menjalani keyakinannya. Jadi bukan membenarkan keyakinan/akidah non-islam (teologis), tapi menghormati kehendak dan kebebasannya (sosiologis) utk menjalankan apa yang diyakininya. Apa semuanya menuju tuhan yang sama? Menurut al-Qur’an itu tidak benar, sebab Qul ya ayyuhal kafiruun la a’budu ma ta’budun wala antum ‘abiduuna ma a’bud sangat jelas kan bahwa objek sesembahan muslim dengan orang kafir (diluar Islam) itu berbeda, sebab kalau sama saja maka ungkapan al-Qur’an tidak seperti itu. Lalu apa ia semua pemeluk agama apapun ya Islam dan selainnya bakal masuk sorga Allah? nah di sinilah, kaum liberal mengotak-atik tafsir firman Allah dalam al-Baqarah: 62, al-Maidah: 69 dan al-Hajj: 19 untuk mendukung pendapatnya itu. Nah fenomena nikah beda agama ini karena lemahnya akidah dan pegangan hidup sebagian kecil umat Islam yang disebabkan jauhnya mereka dari penghayatan agama yang baik dan bahkan cenderung sudah tidak peduli pada agama, alias sekuler. Jadi ini akar masalahnya. Lalu mereka cari dukungan justifikasi membenarkan kawin beda agama ini, rujukannya ya orang liberal macam Ulil Absar, Abdul Moqsith dan sejenisnya.
3. Dalam konteks ini, kerap muncul istilah pluralisme, pluralitas, dan toleransi, adakah korelasi dari ketiganya?
Pluralitas adalah fakta keragaman hidup manusia dalam hal agama, suku, etnis, bahasa, budaya dsb. Ini sunnatullah, tidak boleh dipertentangkan, sebab itu adalah tanda kebesaran Allah ta’ala (lihat Qs. Ar-Rum dan Al-Hujurat). Toleransi lahir dari kesadaran atas pluralitas itu. Sementara pluralisme, jika isme itu hanya merujuk kepada pandangan hidup soal keragaman sosiologis manusia, memang seolah sama saja dengan pluralitas. Namun pluralisme sudah menjadi barang baku dan olahan filsafat yang memandang semua perbedaan agama itu pada intinya sama saja, sehingga kita harus menghargai lebih dari sikap toleransi semata, harus melampaui itu semua dengan mengakui kebenaran keyakinan di luar dirinya. Ini problematis dari sudut pandang akidah islamiyah. Di fatwa MUI sudah dijelaskan rinci ketiga istilah itu. Kalo pluralisme benar dan sesuai ajaran Islam, tentu Rasulullah tidak akan mengajak non-muslim dan raja-raja, kaisar, kisra di sekitarnya untuk memeluk Islam. Kalau Nabi menganggap semua agama sama saja, untuk apa beliau mendakwahi non-muslim masuk Islam?
4.  Menurut Bapak, apa implikasi dari paham pluralisme ini?
Implikasinya besar, dapat menggerus dan mengikis habis keyakinan absolut muslim tentang kebenaran islam sebagai agama dan panduan hidupnya. Juga akan melahirkan sikap ambiguitas, bahkan apatis kepada ajaran agamanya sendiri. Kadang juga melahirkan sikap permisif dalam beragama, seperti latah mengadakan doa bersama lintas agama, padahal sudah difatwakan tidak benar oleh MUI dan juga Nahdlatul Ulama. Melemahkan loyalitas kepada syariat seperti keinginan melegalkan kawin beda agama. Bahkan bisa jadi dengan semangat pluralisme ini juga dapat melegitimasi kemunculan aliran-aliran sesat yang mengaku Islam dan sebagainya.
5. Pesan Bapak terkait dengan paham pluralisme yang kerap dilancarkan oleh kalangan liberalis?
Umat Islam harus kembali kepada penghayatan dan pengamalan agama Islam yg benar sebagaimana diamalkan oleh Rasul, keluarga dan para sahabatnya, serta ulama salafus soleh. Mengikuti panduan ulama sangat penting saya kira dalam menjaga orisinalitas ajaran Islam. Jika dasar keagamaan sudah kuat, insya Allah tidak akan tergiur oleh rayuan liberalis untuk memasarkan jualan pluralisme ini ke tengah umat Islam. [islamaktual/sp]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top