Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pada suatu hari Rasulullah SAW pergi ke pasar. Dijumpai seorang pedagang makanan yang kelihatan bagus, kering, dan mengundang selera. Tapi Nabi melihat ada yang sedikit janggal, setelah dicermati dengan seksama ternyata makanan yang dijual itu di bagian bawahnya basah.
Nabi bertanya kepada si pedagang, “Mengapa makanan di bagian bawah ini basah?” Penjual itu menjawab, “Tadi terkena hujan.” Nabi bertanya lagi, “Mengapa yang basah ini tidak diletakkan di atas?” Penjual itu hanya terdiam. Lantas Nabi bersabda, “Man ghasyana fa laisa minna”, artinya barangsiapa me-ngicuh bukanlah bagian dari kami. (HR. Msulim).
Kicuh artinya tipu, mengicuh berarti menipu, memperdaya, bermuslihat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan kicuh sama dengan kicu, juga kecoh yang artinya tipu daya. Terutama menyangkut kecurangan-kecurangan yang merugikan orang lain, seperti barang palsu disebutkan asli, mengurangi berat atau timbangan, mencampuri dengan barang yang tidak baik.
Menurut Hasbi ash-Shiddieqy, kicuh dan tipu itu sama dengan tidak jujur. Kicuh itu membaguskan sesuatu yang tidak bagus. Kicuh dapat dilakukan dengan perkataan maupun tindakan. Islam melarang umatnya mengicuh dan menipu, karena hal itu merupakan perbuatan aniaya dan curang.
Kicuh menurut Hasbi sama pula dengan nifaq atau kemunafikan. Kicuh itu merusak tanggung jawab, kepercayaan, dan membiasakan diri memakai yang haram. Sifat nifaq menurut hadits Nabi yaitu bila dipercaya ia khianat, manakala bicara dusta, jika berjanji mengingkari, dan apabila bertengkar curang (HR. Bukhari). Kicuh sesungguhnya dilarang dalam Islam.
Sejumlah orang membenarkan kicuh di lapangan kehidupan politik. Ini dunia politik, tidak dapat sepenuhnya jujur, begitulah dalih membenarkan perbuatan kicuh. Demi meraih dukungan umat atau rakyat sebanyak-banyaknya, tak apalah melakukan kicuh sejauh itu siasat. Jualan bersih tetapi isinya kotor. Transaksi uang dalam politik bukan tergolong risywah atau suap, tetapi disebut mahar. Hal-hal yang salah dikemas seakan benar, yang buruk diubah seolah baik, dan yang tak senonoh menjadi patut dengan berbagai pembenaran dalih, dalil, dan bila perlu memakai bahasa Arab agar terkesan Islami.
Kalau ada perbuatan salah, dicari alat pencuci yang tampak cemerlang. Sebutlah ia fitnah, cerita fiksi, dan apapun yang mengesankan tidak salah. Sebut itu sebagai perbuatan oknum dan tidak ada kaitan apapun dengan lembaga. Bikin sesuatu yang tampak heroik dan membangkitkan fanatisme pengikut setia. Sebutlah bahwa itu perbuatan pihak lain yang membenci dan sedang meruntuhkan perjuangan Islam.
Dalam sehari-hari tukang kicuh pandai menyembunyikan perbuatannya yang mengecoh, memperdaya, dan menipu. Seorang kriminal dapat melakukan perbuatannya yang merugikan orang lain seperti mencuri, memperkosa, membunuh, dan perbuatan lainnya yang nista atau keji dengan berbagai akal bulus. Para koruptor atau pencuri uang atau kekayaan negara kelas tinggi menyembunyikan perbuatannya dengan praktik pencucian uang dan berbagai muslihat lainnya yang menyebabkan uang maupun tindakan korupsinya aman.

Maka tidak mengherankan bila tukang kicuh dalam bentuk dan di ranah apapun sering memikat hati banyak orang. Mereka lazim memakai kata-kata, atribut diri, dan apapun yang mengesankan benar, baik dan menarik. Menumbuhkan decak kagum. Bila perlu dengan memakai dalil dan simbol-simbol agama yang fasih serta memukau publik. Tukang kicuh pandai bermuslihat, laksana musang berbulu ayam. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top