Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Mungkin orangtuaku menganggap aku sudah tidak bisa diarahkan lagi. Mereka lepas tangan dan menyuruhku keluar dari rumah. Ya, aku memang terbilang orang yang keras kepala. Tapi, apakah aku salah jika aku punya cara pandang yang berbeda dengan mereka? Bukankah sebuah keyakinan itu tidak bisa dipaksakan?
Dulunya, seminggu sekali aku terbilang rutin beribadah di tempat ibadah. Hal itu sudah merupakan kewajiban karena taat pada agama. Bagi keluarga, agama adalah hal yang vital dan harus selalu dipegang teguh.
Selama 27 tahun aku menjalani kehidupanku sebagai penganut Nasrani. Waktu yang cukup lama. Namun, entah mengapa aku tidak merasakan sebuah greget dalam diri. Setelah banyak mempelajari alkitab, lama-kelamaan aku merasa ada yang aneh. Jujur saja, ada satu ayat yang kuingat, yang justru menumbuhkan keraguan dalam benak ini.
Ayat itu menerangkan, menikah itu baik tapi lebih baik tidak menikah. Aku orang yang tidak setuju dengan pesan ayat itu. Atas dasar apa bahwa manusia lebih baik tidak menikah? Itu yang masih membuatku menyimpan segurat tanya.
Aku orang yang suka membaca dan mempunyai pikiran kritis. Bermula dari pinjaman buku Tafsir Al Misbah dari seorang teman, aku langsung tertarik untuk mempelajari Islam lebih dalam. Luar biasa, semua pemikiranku lebih banyak kecocokan dengan agama ini. Banyak hal-hal yang membuatku takjub dengan ajaran Islam.
Tuntunan-tuntunan Islam sangat sesuai dengan logikaku selama ini. Sejak itulah aku kian tertarik untuk mengorek nilai-nilai dalam agama Islam. Aku membandingkan kitab suci umat Islam dengan Nasrani. Setelah kubaca dengan seksama, aku mulai yakin bahwa Islam adalah kebenaran.
Akhirnya di usiaku yang menginjak 28 ini, aku memutuskan untuk memeluk Islam. Aku berikrar mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Nurul Syafi’i, Gedangan Sidoarjo. Senang rasanya, walaupun tanpa sepengetahuan orangtua.
Resmi menjadi muslimin, seketika aku mencari-cari buku tuntunan sholat. Karena dalam Islam, sholat adalah tiang agama, dasar untuk menjadi muslim sejati. Aku menemukan buku tuntunan sholat di kios penjual buku di pinggir jalan. Aku baca dan pelajari sendiri, aku begitu ingin mempraktikkannya.
Dengan percaya diri, aku memberanikan langkahku menuju ke masjid di kampung. Aku ikut sholat berjama’ah, mengikuti gerakan sholat orang-orang disana. Walau sempat berulang kali salah, namun aku begitu senang bisa mempraktikkannya.
Yang aku sayangkan, keislamanku ini membuatku jauh dengan keluarga. Ayahku geram, sehingga aku diusir dari rumah. Disaat seperti ini, aku hanya bisa meyakinkan istriku, menyuruhnya bersabar dalam menghadapi cobaan ini.
Aku yakin ini semua adalah proses, aku yakin suatu saat nanti hubunganku dengan orangtuaku akan membaik. Walaupun saat ini aku kos dengan istri dan seorang anak yang masih berusia 1,5 tahun, dengan kondisi yang serba pas-pasan, aku tetap bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Aku masih diberi kesehatan dan semangat untuk mencari nafkah.
Alhamdulillah aku masih mampu menghidupi keluarga kecilku. Harapanku hanyalah mempertahankan keislamanku sampai akhir hayat nanti. Aku ingin tetap menjaga ibadahku hanya untuk Allah. Sebagai tanda kebesaran-Nya.

Aku bersyukur atas hidup yang telah Allah SWT berikan. Doaku yang terdalam adalah, ingin mengislamkan keluargaku dan berharap hubunganku dengan keluargaku membaik. Amin Yaa Robbal ‘Alamin. [islamaktual/alfalah/nikodemuswilamaage]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top