Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Secara sosiologis, masyarakat terbagi pada kelompok dominan dan kelompok terdominasi. Kelompok dominan bisa karena mayoritas atau menguasai sumber-sumber ekonomi dan kekuasaan. Kelompok terdominasi bisa karena minoritas atau miskin tak berkuasa walaupun secara kuantitatif mayoritas. Kaum mayoritas atau penguasa, sering menghegemoni kebenaran yang secara memaksa harus diikuti kelompok minoritas atau mayoritas tak berkuasa.
Beda keduanya, kelompok minoritas, yang bukan karena kemiskinan, memiliki kesadaran kelompok lebih tinggi daripada kelompok mayoritas. Selain itu, kelompok minoritas memiliki kemampuan adaptasi lebih cepat dan substantif sebagai bagian dari usaha mempertahankan diri. Namun yang perlu dipahami ialah situasi keterasingan atau teralienasi dari kaum minoritas yang semestinya dipahami kaum mayoritas agar bisa mengembangkan strategi lebih humanis sekaligus sebagai bagian hubungan dialogis, bukan pola hubungan kekuasaan antara mayoritas dan minoritas. Di sisi lain, teologi mayoritas menempatkan kelompok mayoritas sering berada pada posisi terancam akibat kesadaran kolektif yang rendah.
Di masa lalu dalam sejarah kenabian, posisi minoritas dan mayoritas itu dikembangkan dalam hubungan Muhajirin dan Anshar saat peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah dari kawasan Mekkah. Kita mungkin bisa mengembangkan suatu gagasan teologi minoritas dalam hubungan dialogis dan hubungan dakwah melampaui hubungan kekuasaan atau hukum positif siyasah atau syariah. Dari situasi sosiologi dan psikologi kaum Anshar diperlukan strategi dialogis yang menempatkan kedua pihak pada posisi setara dan saling menguntungkan.
Minggu lalu, saya diajak seorang teman, orang penting negeri ini, untuk menghadiri suatu perhelatan nasional di sebuah hotel berbintang, dihadiri Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Karena yang mengajak orang penting, saya masuk dari pintu VVIP, duduk di deretan terdepan. Banyak orang penting, selebriti, pengusaha, pejabat dan jendral serta anggota parlemen yang hadir dan duduk di deretan depan yang hampir tak satupun mengenal. Posisi saya saat itu bagai ‘kethek ditulup’, metafora posisi seorang terasing yang dilihat banyak orang sebagai tertuduh, tidak punya hak membela diri karena tidak ada yang dikenal dan (mau) mengenal.
Tidak mudah hidup terasing sebagai minoritas di tengah mainstream di negeri ini, misalnya pengikut Ahmadiyah atau Syiah. Mereka tertolak oleh komunitas mainstream. Sosiologi sikap hidup minoritas ini penting dijadikan laboratorium memahami betapa derita sebagai minoritas agar sang mayoritas bisa memperlakukan kaum minoritas secara lebih manusiawi.
Seperti itulah penderitaan muslim Rohingya, minoritas di Israel, keterancaman oenganut Ahmadiyah dan Syiah di negeri ini. Tidak berbeda penganut agama minoritas yang seringkali diperlakukan tidak adil karena keadilan dihegemoni mayoritas. Boleh jadi muslim di Toraja, Bali, Timor Timur dan Papua merasakan hal serupa yang penting dipahami.

Hal itu bisa memberi kesadaran mayoritas untuk mengedepankan teologi minoritas bagi kebijakan-kebijakan sosial-politik. Islam dipahami sebagai rahmatan lil-alamien, keberagaman personal diserahkan sebagai takdir Allah bagi minoritas. Dari sini, dikembangkan suatu teologi minoritas tanpa kehilangan posisi dalam kehadiran Tuhan sesuai keyakinan mayoritas. [islamaktual/munirmulkhan/almanar]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top