Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Esensi akidah Islam adalah tauhid, yang tercermin dalam dua kalimat Syahadat: Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Dari segi bahasa, akidah yang berasal dari ‘aqada-ya’qidu berarti mengikat (as-syadd), berjanji/berkomitmen (al-ahd), membenarkan (at-tashdiq), kemestian (al-luzum) dan kepastian (al-ta’kid). Dari segi istilah, akidah Islam merupakan keimanan/keyakinan yang pasti (tidak ada keraguan sedikitpun) kepada masalah-masalah ghaib dan dasar-dasar ajaran Islam (ushuluddin) sebagai komitmen hidup yang benar untuk hanya beribadah kepada Allah SWT (QS. al-Fatihah [1]:5).
Akidah yang tidak sesuai dengan laa ilaha illa Allah berarti menyimpang dari akidah tauhid. Karena itu, Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, antara lain, datang untuk merevisi (meluruskan) akidah umat terdahulu yang sudah mengalami penyimpangan. Seperti: anggapan kalangan Yahudi bahwa Uzair itu anak Allah; dan keyakinan mayoritas Nasrani bahwa Isa as. itu putra Allah. Akidah tauhid itu pada hakekatnya sesuai dengan fitrah umat manusia.
Akidah semua para Nabi dan Rasul pada dasarnya sama, yaitu Tauhid, dan tidak mengalami perubahan dan penggantian (QS. al-Baqarah [2]:285). Tujuan utama dakwah para Nabi dan Rasul adalah mengajak masyarakat untuk bertauhid kepada Allah secara benar dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun.
Dari segi bahasa, tauhid-berasal dari wahhada-yuwahhidu-mengandung arti: mengesakan, menyatukan, memadukan, dan mengintegrasikan. Tauhid dalam konteks laa ilaha illa Allah berarti meyakini bahwa Allah itu Maha Esa. Tauhid ini mengimplikasikan 5 dimensi tauhid, yaitu : (1) tauhid al-ibadah atau unity of Godhead (QS. ad-Dzariyat [51]:56), (2) tauhid al-hadaf min al-hayah atau unity of purpose of life tauhid, kesatuan tujuan hidup (QS. al-Baqarah [2]:29), (3) tauhid al-khalq (tauhid penciptaan) atau unity of creation (QS. al-Baqarah [2]:29), (4) tauhid al-insaniyyah (tauhid kemanusiaan) atau unity of mankind (QS. al-Baqarah [2]:30), dan (5) tauhid mashdar al-haqq wa al-huda (kesatuan sumber kebenaran dan petunjuk, pedoman hidup) atau unity of guidance (QS. al-Baqarah [2]:147).
Dalam aktualisasinya, Muslim harus meyakini kesatupaduan ayat-ayat Qur’aniyyah dan ayat-ayat kauniyyah, sebagai sumber nilai tauhid. Integrasi kehidupan dunia dan akhirat merupakan pandangan dunia Muslim yang bertauhid. Semua ciptaan Allah ini merupakan ‘laboratorium tauhid’ bagi kehidupan manusia.
Oleh karena itu, Muslim harus mempunyai visi tauhid kemanusiaan yang meniscayakan integrasi tauhid personal, tauhid sosial, dan tauhid kultural. Tauhid personal merupakan pengamalan tauhid pada tataran personal, belum termanifestasikan dalam praksis sosial.
Tauhid sosial merupakan bentuk aktualisasi tauhid dalam praksis sosial. Teologi perubahan sosial yang pernah dipraktekkan oleh Kyai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dalam membelajarkan surat al-Ma’un kepada murid-muridnya adalah contoh paling aktual untuk memahami signifikansi tauhid sosial. Teks ayat al-Qur’an dan as-Sunnah bukan semata-mata dibaca dan dipahami, melainkan harus diamalkan dan diaktualisasikan dalam kehidupan sosial umat secara konkret dan bermaslahat untuk umat.
Adapun tauhid kultural, merupakan tauhid yang mewarnai dan memberi spirit kebudayaan. Tauhid kultural memandu kehidupan sosial budaya kita, sehingga kita tidak mudah menjadi, misalnya korban mode yang seronok dan mengumbar aurat, korban gaya hidup serba glamor, materialistik dan hedonistik, dan korban mindset sekuler. Tauhid kultural memberi nilai spiriyualitas pada budaya hidup yang kreatif dan produktif. Aktualisasi tauhid kultural dalam lintasan sejarah peradaban Islam, antara lain, terwujud dalam integrasi masjid, istana, pasar dan alun-alun. Masjid menjadi pusat pembinaan mental spiritual; istana sebagai pusat kebijakan sosial politik; pasar sebagai pusat aktivitas sosial ekonomi; sedangkan alun-alun sebagai pusat interaksi dan proses kreatf sosial budaya. Semua pusat itu terintegrasi dan disinari oleh spiritualitas masjid.
Tauhid kultural memberikan landasan teologis pentingnya hidup berbudaya yang disemangati oleh dedikasi tinggi dalam rangka pendekatan diri kepada Allah swt. Tauhid kultural memandu jalan terbaik yang harus dilalui muslim dalam hidupnya, dengan cara mengikuti syari’ah-Nya dan meneladani sifat-sifat-Nya yang tercermin dalam al-Asma’ al-Husna. Jadi, tauhid kultural bervisi ketuhanan dan berwawasan kemanusiaan.
Dengan tauhid kultural, setiap Muslim harus melakukan pembebasan diri (tahrir an-nafs) dari segala bentuk syirik, seperti: syirik politik, syirik ekonomi, syirik budaya, dan syirik hawa nafsu. Tauhid kultural pada akhirnya menghendaki aktualisasi diri (tahqiq ad-dzat) dalam bentuk amal shalih yang berorientasi sosial budaya dengan dilandasi oleh iman dan ilmu yang memadai.

Tauhid kultural juga menuntut lahirnya pribadi hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang (‘ibadurrahman). Mereka memiliki sifat rendah hati, bertutur kata yang baik ketika bertemu dengan orang jahil, melalui malam harinya dengan bersujud dan tahajjud, berdoa agar dijauhkan dari siksa neraka jahanam, tidak kikir dan tidak boros, bersikap moderasi dalam membelanjakan harta, tidak menyembah selain Allah, tidak membunuh jiwa kecuali dengan alasan yang benar, tidak memberi kesaksian palsu, tidak mengerjakan perbuatan yang tidak berguna (sia-sia), dan sebagainya (QS. al-Furqan [25]:63-77). [islam aktual/sm/muhbibabdulwahab]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top