Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Banyak orang bangga sebagai sosok perkasa. Menjadi manusia hebat. Sebagai orang yang ditakuti. Perkasa secara fisik, kuasa, harta, atau apapun yang sifatnya duniawi. Bahkan tidak sedikit yang merasa hebat atau perkasa karena ilmu, profesi, prestasi, dan kesuksesan hidup. Rasa perkasa atau hebat itu membuat dirinya istimewa dan sebaliknya memandang orang lain kecil dan dapat diperlakukan apa saja.
Apakah engkau tahu siapa orang perkasa? Nabi menjawab, “Bukanlah orang perkasa itu yang sanggup membanting orang lain hingga terjerembab ke tanah, orang yang perkasa itu ialah yang mampu mengekang dirinya tatkala marah” (HR. Ahmad). Sabda Nabi tersebut membalikkan logika keperkasaan dan kehebatan manusia, yang sering ukurannya serba fisik dan inderawi, bukan rohani. Keperkasaan hanya diukur dari kekuatan jasmani.
Ada orang yang merasa hebat atau perkasa tatkala marah. Kemarahan menjadi ciri dari keperkasaan atau kehebatan dirinya. Apalagi manakala kemarahan itu dipicu oleh tindakan orang lain yang dianggapnya keliru dan salah, maka semakin banggalah dirinya. Meluapkan marah karena sebab-sebab yang ditimbulkan oleh tindakan orang lain sering dianggap sah dan benar. Bila perlu untuk kemarahan seperti itu ditunjukkan dengan berkata dan bertindak kasar, vulgar, keras, dan garang.
Amarah adalah perasaan gusar atau berang yang dipicu oleh sesuatu yang tidak menyenangkan. Perasaan dihina, diperlakukan tidak baik, dan apapun yang tidak menyenangkan dapat membuat seseorang memuntahkan amarah. Amarah itu sama dengan marah. Orang menumpahkan amarah atau marah dapat beragam cara, yang menjadikan dirinya sering tidak terkendali apakah itu berupa kata-kata, tulisan, gerak tubuh, dan tindakan yang biasanya meluap dengan buruk.
Marah itu pada dasarnya normal dimiliki setiap insan. Manusia itu bukan Malaikat yang memang tidak memiliki nafsu amarah. Jika seseorang memperoleh perlakuan tidak baik atau tidak menyenangkan wajar bereaksi gusar. Sebaliknya tidak wajar kalau sama sekali tidak mempunyai rasa marah. Nabi juga pernah marah, kadang beliau tampak raut wajahnya memerah karena menahan marah. Marah karena membela agama atau kebenaran bahkan dibolehkan, yang membentuk ghirah (kecemburuan positif) dan syaja’ah (keberanian bertindak benar). Marah seperti itupun tetap harus terkendali dan tidak boleh melampaui batas, dengan niat yang tulus dan benar serta bukan karena mengumbar hawa nafsu.
Namun manusia juga bukan setan, makhluk Tuhan yang suka membangkang. Karena bukan setan, maka manusia beriman tidak boleh meluapkan amarah sekehendaknya sehingga tidak terkendali. Sebutlah mengeluarkan kata-kata kasar, kotor, buruk, dan nista yang membuat diri kehilangan kendali sekaligus orang lain tersakiti. Contoh lain ialah melakukan tindakan-tindakan yang tidak patut seperti merusak sesuatu atau bahkan melakukan kekerasan terhadap orang lain yang menyebabkan sakit secara fisik dan psikologis. Kendati marah, manusia beriman tidak boleh melampaui batas sehingga menyerupai perangai setan.
Menahan amarah harus menjadi sifat orang bertaqwa. Wal-kadhimin al-ghaidha, demikian firman Allah (QS. Ali-Imran : 134). Apalah artinya mengaku diri beriman atau bertaqwa apabila masih belum mampu mengendalikan diri dari nafsu amarah. Bahkan menjadi sangat kontradiksi atau berlawanan jika mengaku diri paham agama, bahkan merasa paling taat atau konsisten dalam ber-Islam, tetapi kalau marah tak terkendali. Apalagi sampai melakukan tindakan-tindakan kekerasan, kasar, dan tidak patut tatkala marah. Apapun alasannya, segala tindakan kekerasan baik fisik maupun non-fisik yang dipicu nafsu amarah tidaklah mencerminkan perangai orang beriman.

Ketika orang Badui berlaku kasar terhadap Nabi, maka Umar bin Khaththab marah dan nyaris akan melakukan tindakan fisik. Nabi justru mencegahnya dan meminta kepada Umar agar menahan diri serta Nabi pun memaafkan orang dusun Arab itu. Disitulah kemuliaan ajaran Islam dan keutamaan uswah hasanah Nabi, bagaimana kehebatan atau keperkasaan diri justru ditandai oleh kemampuan menahan amarah. Bukan mengumbar marah, apalagi menjadi budak amarah. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top