Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Lho, kenapa kamu pindah Islam? Gak sayang?”, begitu celetuk salah satu temanku yang dulunya seagama denganku. Batinku yang bersuara, bahwa ini memang kemauanku, aku tahu mana yang baik dan benar buatku.
Aku melirik Islam dari lingkungan sekitar, yang paling dekat adalah teman satu kosku, ia seorang muslimah. Sehari-hari dia shalat dan mengaji di kamar. Entah kenapa, aku bisa tenang melihat temanku melakukan itu. Gerakan shalat, lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an, membuatku trenyuh dan terpaku.
Sampai suatu ketika, aku sangat ingin belajar mengaji, aku ingin tahu, apa isi dari ayat-ayat yang dibaca temanku. Akhirnya, temanku itu memberiku sebuah al-Qur’an yang lengkap dengan terjemahannya. Dari situlah aku mulai membaca-baca isinya.
Saat ini aku sedang dekat dengan seseorang, Insya Allah dialah calon suamiku, ini juga sudah mendapat restu dari ibu, kami masih proses untuk melangkah maju. Calon suamiku ini seorang muslim juga, tapi bukan karena dia muslim, yang menjadikanku latah ingin jadi muslim. Ini murni dorongan dari dalam hatiku.
Pria yang dekat denganku ini tidak pernah memaksakan kehendak agar aku berpindah keyakinan mengikutinya. Namun bisa dibilang, kehadirannya juga mungkin sebagai jembatan yang menghubungkan langkahku mendekati Islam.
Pergolakan hati tidak dapat dihindari ketika akan memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Hari berganti hari, aku coba berkomunikasi dengan hati, bertanya pada diri sendiri tentang keyakinan yang benar-benar aku yakini. Ya akhirnya, Islam lah jawabannya, disitu aku seolah menemukan sebuah ketenangan.
Akhirnya, tekadku sudah bulat untuk melangkah mengikrarkan diri menjadi muslimah. Aku pergi ke masjid Al-Falah untuk segera mengucap dua kalimat syahadat. Sebelum diantar oleh teman pria yang selama ini selalu menemaniku, dia bertanya lagi padaku, apakah aku yakin dan benar-benar siap menjadi seorang muallaf. Kujawab dengan mantap; Ya, aku sangat yakin.
Sebelum mengucap ikrar syahadat, ustadz yang akan mengislamkanku juga mewanti-wanti, kalau pindah karena hanya ingin menikah, lebih baik jangan. Tentu saja saya berkata tidak. Karena ini murni kemauanku sendiri. Tepat pada 20 Juni 2013, saya resmi menjadi seorang muslimah. Alhamdulillah, di tahun itu, aku pertama kalinya melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan dan merayakan hari kemenangan, Idul Fitri.
Mengenai keislamanku, ibuku berpesan, bahwa aku sudah dewasa, aku bisa menentukan mana yang baik bagiku. Ibuku yang masih berpegang teguh pada keyakinannya, mempersilahkan aku untuk memilih jalan yang aku kehendaki.
Ibu membuka lebar pintu restunya, aku sangat terharu. Ibuku sosok yang sangat luar biasa bijaksana, beliau mengatakan jika aku sudah memutuskan pilihan pada Islam, maka aku haru serius mendalami agama ini. Ibu selalu mengajariku untuk menjadi seorang yang pemberani, mandiri dan memilih jalan hidup yanh kuyakini.
Kini aku telah menjadi seorang muslimah dan kini aku siap menyelami dalamnya lautan islami. Aku jadi teringat almarhum ayahku. Aku begitu merindukan ayah, dan berharap dia turut senang melihat keislamanku.
Ketika telah menjadi seorang muslimah, aku merasa seperti bayi yang baru dilahirkan ke dunia. Islam begitu menyentuh hatiku. Ketika aku baca terjemahan al-Qur’an, aku kagum dan takjub karena semua tentang kehidupan tercantum di dalamnya.
Aku merasakan kedamaian dan ketenangan. Kini, aku mencoba memperbaiki diri dengan berjilbab. Saat bekerja kemanapun, aku selalu menutup diriku dengan jilbab. Jilbab memang merupakan perintah bagi setiap muslimah yang sudah tertulis di dalam al-Qur’an, supaya wanita menjaga kehormatannya.

Islam begitu memuliakan wanita. Bagiku jilbab dapat membawa kenyamanan dan selalu menjaga perangaiku untuk lebih sopan. Semoga Allah selalu menunjukkan jalan terbaik untukku. Amin Ya Robbal ‘Alamin. [islamaktual/alfalah/novalia]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top