Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Al-Qur’an ketika menceritakan Isra’ dan Mi’raj (QS. al-Isra’ [17] : 1) menyebut nama Masjid Haram di Makkah dan Masjid Aqsha di Palestina. Apa sebetulnya yang dimaksud dengan dua nama tersebut, belum disepakati oleh ulama tafsir. Pada waktu itu belum ada umat Islam di Palestina sehingga belum ada masjid. Kalau yang dimaksud adalah rumah ibadat umat lain, maka Masjid Aqsha yang disebut ayat tadi harus dipahami sebagai gereja (Nashrani), sinagog (Yahudi) atau rumah ibadat lainnya. Begitu juga dengan Masjid Haram, kalau yang dimaksudkan dengan nama ini adalah bangunan yang mengelilingi Ka’bah, harus dianggap belum ada pada masa Rasulullah, karena memang pada waktu itu tidak ada bangunan atau pagar yang mengelilinginya.
Pada masa jahiliyah, yang ada barulah Ka’bah dengan halamannya yang diisi banyak berhala, konon sampai 360 buah (Hashem, 2005:16). Ka’bah terletak di sebuah lembah memanjang dari timur (Ma’ala dan Syib Amir) sebagai daerah hulu dan Misfalah di sebelah barat sebagai daerah hilir. Sedang dua sisi lainnya adalah pegunungan yang relatif terjal. DI sekeliling Ka’bah di luar tanah lapang yang menjadi halaman tersebut berdiri rumah-rumah orang Quraisy. Jadi, rumah-rumah ini terletak di sepanjang lembah memanjang dari barat ke timur, serta sedikit di lereng dan sela-sela pegunungan terjal di sebelah utara dan selatannya. Lembah di dekat Ka’bah relatif sempit, sedang lembah di bagian hulu dan hilirnya relatif lebih luas. Kalau turun hujan dan terjadi banjir, maka air bah akan melewati Ka’bah, bahkan kadang-kadang menyebabkan kerusakan yang sangat parah.
Pada awal Islam sebelum hijrah, ketika Rasulullah dan umat Islam ingin mengunjungi Ka’bah, mereka harus melewati berhala-berhala tersebut. Biasanya, Rasulullah  ketika datang langsung menuju Ka’bah untuk thawaf dan setelah itu menunaikan shalat atau ibadat lainnya. Begitu juga orang Arab jahilyah kalau datang ke Ka’bah mereka juga thawaf untuk menghormatinya. Namun setelah itu mereka pergi kepada berhala yang mereka agungkan untuk berdo’a, menyampaikan nadzar atau persembahan lainnya. Karena belum ada masjid, adalah wajar dan dapat dimaklumi sekiranya Nabi pernah melakukan thawaf sambil naik unta, pada tahun ketika Makkah berhasil dibebaskan ataupun ketika beliau bersama umat Islam menunaikan ibadah haji yang terkenal dengan Haji Wada’. Sekiranya masjid telah ada, tentu akan menjadi tanda tanya, kenapa Nabi membawa dan menunggang unta di dalam masjid.
Dalam catatan sejarah, orang pertama yang membangun Masjid Haram adalah Khalifah Umar (17 H/639 M), yang bentuk bangunannya hanya berupa pagar (dinding tanpa atap), berbentuk lingkaran sedikit di belakang Maqam Ibrahim dan sumur Zam-zam. Setelah itu diperluas oleh Khalifah Utsman (26 H) yang mengubah bentuk lingkaran menjadi segi empat, tetapi masih dalam bentuk pagar (dinding tanpa atap). Setelah itu diperluas lagi oleh Abdullah bin Zubeir (65 H/685 M), lantas oleh Dinasti Bani Umayyah (91 H)dan setelah itu diperluas lagi di masa Dinasti Bani Abbas (132-656 H/750-1258 M) sebanyak tiga kali. Setelah ini tidak ada lagi perluasan sampai masa Dinasti Sa’udi. Para Mamluk yang memerintah Mesir melakukan renovasi serta pemasangan berbagai ornamen. Dinasti Bani Utsman Turki (680-1342 H/1281-1923 M) melakukan renovasi secara menyeluruh (Muhammad Ilyas Abdul Gani, 2003 : 114).
Kalau pada masa sebelumnya Masjid Haram hanyalah dinding tanpa atap, maka pada masa Bani ‘Abbas sebagian ruangan di bagian belakang yang dekat dengan dinding diberi atap. Pada masa sebelumnya, dinding Ka’bah betul-betul merupakan pagar dalam arti di luar dinding ini ada halaman terbuka, maka pada masa Bani Abbas dinding luar Masjid langsung menjadi dinding dari bangunan yang menjadi rumah tinggal. Rumah ini dihuni oleh para mahasiswa yang belajar di Masjid Haram, para pengikut dan pengamal tarekat, serta para ulama yang menjadi mahaguru dan juga sebagian petugas Masjid Haram.
Dengan demikian, Masjid Haram tidak lagi mempunyai halaman di bagian luarnya. Pada masa ini juga Ratu Zubaidah, istri Khalifah Harun al-Rasyid, membuat kanal (saluran air) untuk mengalirkan air dari lembah an-Nu’man di Hinnin sejauh 36 kilometer dari Masjid Haram (174 H/791 M). Saluran ini sangat bermanfaat untuk membantu persediaan air para jamaah haji dan juga untuk mengatasi kekurangan air di Makkah. Pada zaman dahulu, saluran ini memerlukan biaya perawatan yang relatif besar, karena harus dikeruk sekiranya tertimbun pasir yang ditiup angin gurun, dan juga harus terus menerus ditambal sekiranya bocor karena berbagai sebab. Sisa dari saluran air ini, yang terbuat dari pasir dan batu yang diikat dengan semacam semen, masih dapat dilihat di berbagai tempat antara Aziziah dengan Mina.
Pembangunan menyeluruh Masjid Haram dilakukan oleh Dinasti Bani Usman dari Turki. Oleh penguasa Bani Usman, bangunan yang dibuat oleh dinasti-dinasti sebelumnya dirobohkan dan mereka membangun gedung yang baru. Halaman Ka’bah, ruang terbuka di dalam masjid mereka tata secara relatif menyeluruh. Lantai tempat thawaf diganti dengan lantai marmer dan diberi pagar. Sedang di luar ini tetap berlantai pasir sampai ke gedung yang diberi atap dan dinding. Gedung yang beratap diberi lantai marmer. Pada bagian ini ditancapkan banyak tiang untuk menggantungkan lampu pada malam hari, sehingga seluruh halaman masjid menjadi terang benderang. Gedung baru ini diubah dari bangunan beratap kayu (papan) menjadi beratapkan kubah kecil-kecil, yang terus dipertahankan sampai masa sekarang. Itulah bangunan rendah satu tingkat, yang sekarang ini ada di bagian dalam masjid, sebelum bangunan bertingkat. Di luar bangunan ini, Dinasti Bani Usman tetap membangun rumah untuk tempat tinggal para mahasiswa, para ulama dan sebagian petugas masjid. Pada beberapa bagian dari rumah ini dibuatkan pintu sebagai jalan untuk masuk, tiga buah yang besar yang masing-masingnya diapit oleh dua menara. Sedang pintu yang lebih kecil berjumlah belasan buah. Di dekat Shafa juga ada satu menara Sehingga semuanya berjumlah tujuh buah. Tempat sa’i masih terpisah dan berada di luar masjid. Pada tempat sa’i ini tidak ada dinding ataupun atap, tetapi banyak tiang sebagai tanda bagi orang yang mengerjakan sa’i dan untuk menggantungkan lampu pada malam hari. Lebih dari itu, tempat sa’i ini sampai ke dinding masjid merupakan pasar terbuka, sehingga sering orang yang mengerjakan sa’i harus berjalan dan berlari-lari di sela-sela orang yang sedang berjual beli, yang jumlahnya lebih banyak dari orang yang melakukan sa’i.
Adapun bangunan bertingkat yang ada di belakang bangunan buatan Bani Usman di atas, seluruhnya merupakan perluasan yang dilakukan oleh Dinasti Bani Sa’ud, penguasa Makkah dan Madinah sekarang. Pembangunan luar biasa besar yang mereka mulai sejak tahun 1950-an sudah menggusur banyak rumah, bahkan tempat sa’i pun yang berjarak sekitar seratusan meter dari Ka’bah telah menyatu dan menjadi bagian dari masjid. Dalam perluasan Dinasti Bani Sa’ud ini, rumah yang dahulu menyatu dengan masjid mereka hilangkan. Sehingga seluruh bangunan menjadi masjid, dengan halaman di bagian dalam dan luar masjid. Halaman luar ini relatif sangat luas, lebih luas dari masjid itu sendiri.
Sampai tahun 1925 M (1343 H), ketika penguasa Dinasti Bani Sa’ud merebut kekuasaan atas daerah Makkah dan Madinah, di halaman dalam masjid yang merupakan ruang terbuka ini ditemukan banyak bangunan. Mungkin bangunan ini dibuat untuk mengamankan sumur serta memudahkan orang menimba dan membagi-bagikan airnya. Di dekat Maqam Ibrahim diletakkan mimbar yang akan digunakan untuk khutbah Jum’at. Setelah itu, ditemukan bangunan untuk melindungi Maqam Ibrahim yang besarnya sekitar tiga sampai empat kali bangunan yang ada sekarang. Di samping bangunan sumur Zam-zam, sedikit di belakang Maqam Ibrahim, dibangun mihrab untuk imam shalat fardhu bagi jamaah bermadzhab Syafi’i, terdiri atas dua tiang dan sedikit dinding sebagai tanda bahwa tempat ini adalah mihrab. Sedikit di belakang Hijr Ismail ada bangunan yang merupakan ruangan bertiang empat, mempunyai kubah dan sedikit dinding di bagian depannya, yang digunakan sebagai mihrab untuk imam shalat fardhu bagi jamaah bermadzhab Hanafi.
Di sisi berikutnya mengikuti arah thawaf, antara Rukun Syami dengan Rukun Yamani ditemukan mihrab untuk imam shalat fardhu bagi jamaah bermadzhab Maliki, yang terdiri atas empat tiang tetapi tidak sampai sebesar dan semewah mihrab imam bermadzhab Hanafi. Di sisi berikutnya, mengikuti arah thawaf, antara Rukun Yamani dengan Rukun Hajar Aswad, ditemukan mihrab untuk imam shalat fardhu bagi jamaah bermadzhab hanabilah. Sedikit di belakang kira-kira setentang sumur Zam-zam berdiri pintu gerbang Babussalam, sebuah gapura besar dan mewah sebagai petunjuk tentang arah yang paling sering digunakan Nabi ketika beliau mengunjungi Ka’bah (Al-Fasi, Syifa’ al-Gharam : 461).
Sampai awal kekuasaan Bani Sa’ud, tempat untuk thawaf hanyalah ruangan antara Maqam Ibrahim dengan Ka’bah. Ruang sempit inilah yang digunakan oleh ribuan orang (pada zaman sahabat) sampai tiga ratusan ribu jamaah (pada masa awal Dinasti Sa’udiah) untuk menunaikan thawaf pada setiap musim haji. Tempat ini relatif sangat sempit sehingga banyak jamaah yang terjepit dan jatuh terinjak-injak karena saling berdesak-desakan.
Kapan, bagaimana, dan siapa yang memprakarsai pembangunan berbagai bangunan ini tidak penulis ketahui. Tetapi kuat dugaan dilakukan secara berangsur-angsur, ketika ada penguasa atau orang kaya Muslim di berbagai belahan dunia mengirimkan wakaf atau sumbangan untuk membangun berbagai bangunan tersebut.
Area di belakang bangunan-bangunan ini tidak dapat digunakan untuk thawaf karena dua sebab. Pertama, kuat keyakinan pada waktu itu thawaf haruslah di dalam ruang antara Ka’bah dengan sumur Zam-zam dan Maqam Ibrahim. Kalau sumur Zam-zam dan Maqam Ibrahim serta Ka’bah diletakkan di sebelah dalam dari orang yang thawaf, maka thawaf dianggap tidak sah. Kedua, ruang antara Maqam Ibrahim sampai ke bangunan beratap yang ada di belakang masih berlantai pasir, dipisah-pisahkan oleh sekitar tujuh jalan menuju Ka’bah. Jadi, hampir seperti petak-petak sawah dengan jalan-jalan itu sebagai pematang, yang sebagiannya mencapai tinggi setengah meter, sehingga sukar sekali dilangkahi.

Area berpasir ini biasanya digunakan oleh jamaah untuk memberi makan burung merpati yang banyak sekali di sana. Pada musim haji, ketika jamaah relatif melimpah, banyak jamaah yang menggunakan area ini untuk beri’tikaf dan menunaikan shalat. Tetapi hampir tidak ada yang menggunakannya untuk thawaf karena alasan tersebut. [islamaktual/sm/alyasa’abubakar]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top