Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Wakaf pada dasarnya adalah bagian dari sedekah. Bedanya, wakaf dilakukan dengan hanya memberikan manfaat dari suatu barang dengan tetap mempertahankan barang tersebut sebagai milik pewakaf, meski pewakaf tidak dapat lagi menggunakannya sesuka hatinya. Ibn Qudamah dalam asy-Syarh al-Kabir mengartikan wakaf sebagai tahbis al-ashl wa tasbil al-manfa’ah (mempertahankan barang dan mengalirkan manfaatnya).
Wakaf adalah salah satu bentuk ibadah sosial yang bertujuan memberikan manfaat kepada banyak orang tanpa batas waktu tertentu. Para ulama mazhab Maliki dan Syafi’i memandang, wakaf adalah kebaikan yang bersifat mutlak dan berkesinambungan.
Untuk kemaslahatan manusia, wakaf tidak terbatas pada pemberian sebidang tanah, misalnya untuk pembangunan masjid dan kuburan. Wakaf mencakup semua aspek yang mengandung kemaslahatan bagi orang banyak, mulai kecukupan pangan, pakaian, pendidikan, kesehatan, penginapan (hotel), senjata, biaya perang dan lain sebagainya. Singkatnya, wakaf menyelesaikan urusan perut rakyat sehingga menutup defisit anggaran belanja negara.
Praktik Wakaf di Masa Nabi SAW
Setibanya di Madinah, sebagai pemimpin, Rasulullah SAW langsung menghadapi persoalan-persoalan yang sangat berat. Pertambahan jumlah penduduk yang sangat signifikan, kemiskinan (terutama kaum Muhajirin), lapangan kerja, keterbatasan aktivitas perdagangan, perbedaan kultur pendatang dan pribumi, sisa permusuhan antar-sesama Anshar, dan lain sebagainya. Belum lagi tantangan dari luar lingkungan kaum Muslim, seperti sikap Yahudi yang sejak awal tidak bersahabat, ancaman kaum Musyrik Madinah.
Persoalan itu harus dihadapi bersamaan dengan kondisi negara yang sama sekali tidak memiliki dana. Pada akhirnya wakaf adalah solusi terbaik selain menggunakan modal sosial berupa kesalehan individu, kedermawanan, cinta berkorban, silaturrahim, dan lain sebagainya.
Ketika Madinah mengalami krisis air minum dan masyarakat hanya bisa mendapatkannya dengan membeli kepada seorang Yahudi pemilik sumber air, Bi’ru Rumah, Rasulullah SAW melakukan lelang wakaf. Menurut riwayat al-Bukhari dan an-Nasa’i, kala itu beliau mengumumkan, “Siapa yang dapat membeli Bi’ru Rumah dan memberikannya kepada kaum Muslimin maka dia akan mendapatkan surga?”
Usman ibn Affan menyambut lelang tersebut. Ia membeli Bi’ru Rumah dalam dua tahap dengan harga sebesar 20.000 dirham (setara Rp. 4 milyar). Setelah merampungkan pembelian sumur tersebut, sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi, Usman lalu berkata, “Aku menyerahkan sumur tersebut untuk keperluan seluruh kaum Muslimin.”
Ketahanan pangan menjadi masalah utama selanjutnya yang harus diselesaikan Rasulullah SAW. Beliau sendiri mewakafkan kebun pada tahun 3 hijriyah, atau setelah Perang Uhud. Menurut al-Waqidi dan Ibn Hisyam, kebun tersebut mulanya pemberian seorang Yahudi bernama Mukhairiq kepada Nabi SAW.
Berikutnya adalah Umar ibn Khattab. Di masa Nabi SAW, Umar mewakafkan kebun terbaik miliknya yang berlokasi di Khaibar. Menurut keterangan al-Bukhari dan Muslim, saat berwakaf, Umar menyatakan bahwa kebun yang diwakafkan tidak boleh dijual, dihibahkan, atau diwarisi dan hasilnya diperuntukkan bagi kaum fakir, kerabat, hamba sahaya, orang yang berstatus fiisabilillah, tamu dan musafir. Pengurusnya dibolehkan memakan hasilnya secara wajar atau memberikannya kepada temannya, tanpa tujuan memperkaya diri.
Menariknya, pewakaf di masa itu tidak terbatas pada para sahabat yang kaya. Sahabat yang memilih jalan hidup sederhana seperti Ali ibn Abi Thalib pun turut berwakaf. Artinya, di masa tertentu Ali bekerja keras untuk memiliki kekayaan dengan tujuan yang sangat luhur, yaitu mewakafkannya untuk kepentingan publik.
Menurut Raghib as-Sirjani dalam Rawai’ al-Auqaf, Ali mewakafkan sejumlah kebun miliknya di Yanbu’, Wadi al-Qura dan al-Udzainah untuk golongan fiisabilillah, kerabat jauh dan dekat. Kebun tersebut tidak boleh dihibahkan ataupun diwarisi selama-lamanya. Dalam sebuah riwayat dha’if di Musnad Ahmad, dinyatakan bahwa hasil wakaf Ali pernah mencapai 4000 dinar (Rp. 8 milyar) di saat Ali sendiri mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan lapar.
Bidang wakaf lainnya yang terkenal di masa Nabi SAW adalah wakaf untuk membiayai perang. Semasa Nabi SAW hidup, ada puluhan peperangan dan aktivitas militer yang membutuhkan dana sangat besar. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, wakaf adalah solusi yang paling tepat. Dalam perang Tabuk, misalnya Rasulullah SAW berkali-kali mengumumkan kekurangan dana untuk membiayai perang melawan Romawi tersebut.
Usman ibn Affan menyambut dengan mewakafkan ratusan ekor unta dan kuda, selain uang sebanyak 1000 dinar. Begitu juga Abu Bakar, Umar dan Abdurrahman ibn Auf yang menyumbangkan banyak sekali harta yang dibutuhkan dalam peperangan tersebut.

Wakaf di masa Nabi SAW begitu semarak dan beragam. Persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat dan negara banyak diselesaikan dengan dana wakaf. Praktik wakaf di masa awal Islam ini menjadi model yang terus ditiru dan berkembang di masa-masa berikutnya. Alhasil, peradaban besar berdiri dengan wakaf sebagai salah satu tonggak utamanya. [islamaktual/alfalah/asepsobari]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top