Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kerjasama antara Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dengan pihak University and Research Institute for Qur’an and Hadith Iran (UAR) menuai banyak kecaman dari berbagai kalangan di Indonesia. Tak terkecuali organisasi induk ulama di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyampaikan kegelisahannya.
Melalui Dr. H. Abdul Chair Ramadhan, MH, MM., anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat dikatakan bahwa dampak kerjasama antara pihak UIN Jakarta dengan UAR adalah makin banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia yang tidak mengerti apa itu Syiah sebenarnya.
“Mereka akan terperangkap pada pemikiran ideologi-politik Syiah Iran,” ujar Abdul Chair seperti dikutip hidayatullah.com, Jum’at (20/3) lalu.
Selain itu penandatanganan kerjasama itu juga dinilai hanya semakin memuluskan ekspansi ideologi imamah Syiah yang membahayakan bagi Indonesia. Menurut Abdul Chair, kerjasama kedua institusi itu hanya merupakan salah satu bagian dari kepentingan geostrategi Iran agar mendapat pengakuan dari Indonesia, bahwa Syiah adalah salah satu madzhab resmi dalam Islam.
Menurutnya, kelembagaan seperti Iranian Corner di beberapa kampus Islam di Indonesia juga memberi dampak semakin mudahnya Iran untuk ‘menjual’ Revolusi Imam Husein dan Revolusi Khomeini yang dijadikan jargon perjuangan negara Iran. Hal itu semakin menumbuhkan keingin tahuan pelajar, mahasiswa dan pemuda di Indonesia untuk mengikuti pemikiran ideologi politik Syiah Imamah Iran.
“Semua itu diarahkan untuk membentuk pemikiran yang mengarah kepada konsep Wilayatul Faqih sebagai pemegang kekuasaan Islam sedunia,” ungkapnya.
Kondisi ini, tentu akan merugikan bahkan mengancam keberadaan dan keberlangsungan ideologi Pancasila menurut Abdul Chair. UUD Negara RI Tahun 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika tidak dapat dipertemukan dengan ideologi manapun, termasuk dengan ideologi Imamah Syiah Iran.
Menurutnya, tujuan akhir dari kerjasama ini, Iran ingin mengembangkan ideologi Imamah Syiah Iran dalam rangka menunggu hadirnya Imam Mahdi versi Syiah. Selama masa ghaibnya Imam Mahdi, maka semua penganut Syiah wajib tunduk dan patuh kepada Rahbar pemimpin besar Syiah Iran yang sekarang dijabat oleh Ali Khamenei.
Abdul Chair menegaskan, dengan adanya pihak University and Research Institute for Quran and Hadith Iran (UAR), Iran ingin menunjukkan seolah-olah Syiah Iran sama-sama mengedepankan al-Qur’an yang sama dan begitu pula dengan pengkajian atas hadith, tidak ada dikotomi antara hadits Ahlus Sunnah dengan Syiah. Padahal dalam implementasinya Syiah cenderung antagonistik dan banyak memutilasi ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, terutama sahabat yang agung.
Oleh karena itu, pemerintah melalui kementerian terkait, seyogyanya harus mengawasi arus ekspansi ideologi imamah yang dilakukan Syiah Iran di Indonesia, ujar pria yang disertasinya membahas hubungan Syiah dan ketahanan nasional ini.
“Syiah dan Iran ibarat dua sisi dari mata uang yang sama, sejarah Syiah dalam banyak kasus telah menimbulkan konflik dan bahkan mampu mengambil alih pemerintahan, sebagaimana yang terjadi di Libanon dan Yaman,” ujar Abdul Chair lebih lanjut.

Seperti diketahui sebelumnya, pada Rabu (18/3) minggu lalu, pijak Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan UAR Iran sepakat menandatangani naskah kerjasama di gedung Rektorat UIN Jakarta. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top