Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kelahiran Nabi Muhammad SAW hingga beliau dewasa setidaknya telah memberikan warna baru bagi kancah perpolitikan di Timur Tengah. Salah satu kelebihan Nabi SAW di bidang politik adalah keahliannya dalam hal diplomasi. Suatu ketika ada seorang Quraisy bernama ‘Uthah ibn Rabi’ah yang mendatangi Muhammad untuk berkompromi mengenai jalan tengah terbaik tentang ajaran menyembah Allah yang sangat bertentangan dengan keyakinan orang Quraisy yang menyembah berhala. ‘Uthah dibacakan oleh Nabi Muhammad sebuah ayat lalu utusan kaum kafir tersebut kembali lagi ke bangsa Quraisy seraya berkata untuk menerima ajakan Muhammad dan supaya laki-laki bergelar al-amin tersebut tidak diganggu (Fu’adi, 2011:3-4).
Taktik yang dicetuskan Nabi untuk melindungi kaumnya dari siksaan kafir Quraisy adalah dengan memerintahkan berhijrah ke Habsyah atau Abbisina pada tahun 615 untuk sekedar mencari perlindungan (Hitti, 2005 : 142-143). Perintah hijrah sesungguhnya juga strategi politik dari Nabi karena nantinya di negeri seberang tersebut kaum Muslim juga menyebarkan agama Islam selain alasan utama yaitu menghindari siksaan yang melewati batas dari kaum kafir Quraisy.
Hijrahnya Nabi SAW beserta pengikutnya ke Madinah sangat berkaitan dengan pertemuan utusan Allah ini dengan beberapa penduduk Yastrib (mayoritas dari suku Khazraj) yang mengunjungi kota Makkah saat festival Ukaz pada tahun 621 sedangkan Hitti (2005 : 145) menyebutkan tahun 620. Cara Rasul SAW tersebut hingga sekarang masih ditiru oleh para pemimpin politik dunia dengan mengadakan kunjungan balasan bagi koleganya.
Penduduk Yastrib tersebut pada setahun kemudian (622) datang lagi kepada Rasulullah SAW dan menyatakan diri sebagai pemeluk agama Islam. Mereka kemudian meminta Muhammad SAW untuk pindah ke Yastrib sekaligus mereka berjanji akan membantu dan membela lelaki pilihan Allah tersebut dalam kaitannya dengan penyebaran Islam (Goldschmidt, 2002 : 34).
Dalam teori politik disebutkan bahwa menyingkir bukan berarti kalah, tetapi merancang strategi yang lebih baik lagi. Prinsip itulah yang dipegang oleh Muhammad SAW ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah. Nabi akhir zaman ini memang pergi meninggalkan tanah kelahirannya Makkah namun suatu saat beliau kembali dengan status sebagai seorang pemimpin yang dihormati. Masjid Quba menjadi saksi khutbah Jum’at Rasul yang berisi ketetapan takwa sebagai dasar negara dan politik negara yang berasaskan al-’adalat al-insaniyyah (perikemanusiaan), al-wahdah al-islamiyyah (persatuan Islam), asy-syura (demokrasi), dan al-ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan Islam) (Fu’adi, 2011 : 14).
Rasulullah memerintahkan pelaksanaan Shalat Jum’at tersebut sebenarnya ada alasannya yaitu simbol persatuan umat Islam di tengah-tengah kuatnya fanatisme kesukuan pada saat itu. Keberadaan masjid juga difungsikan sebagai tempat untuk mempercepat ikatan, menyambung tali silaturahim, dan menyatukan umat Islam. Sosok Nabi SAW secara perlahan berubah menjadi pribadi negarawan.
Taktik dan strategi Muhammad sebagai seorang pemimpin perangpun sangat sukses. Umat Islam yang berjumlah tiga ratus orang mampu mempermalukan seribu orang kaum kafir Quraisy pada Perang Badar yang terjadi sekitar 144,5 kilometer barat daya Madinah pada bulan Ramadhan 624. Teori politik menyatakan bahwa menyerang adalah pertahanan yang terbaik. Nasionalisasi Islam juga dilakukan yang antara lain keberadaan adzan menggantikan suara gong atau terompet, Jumat menggantikan Sabat, kiblat arah shalat dialihkan dari Yerusalem ke Makkah, dan kebiasaan mencium Hajar Aswad yang merupakan ritual sebelum kelahiran Islam diresmikan sebagai bagian dari peribadatan umat Islam.
Tahun 628 Nabi Muhammad SAW memimpin umat Islam dalam Perjanjian Hudaibiyah yang berlokasi 15,3 kilometer dari Makkah. Selang dua tahun kemudian pada akhir Januari tahun 8 hijriyah, pasukan Islam berhasil menaklukkan Makkah. Muhammad kembali menunjukkan kebijaksanaannya sebagai seorang tokoh politik yaitu memperlakukan secara baik dan penuh pengampunan bagi kaum kafir Quraisy meskipun mereka bertahun-tahun lamanya memusuhi dan menyiksa umat Islam.
Tahun 630-631 dijuluki sebagai tahun utusan (sanah al-wufud). Banyak sekali utusan yang berdatangan dari berbagai tempat untuk bergabung dengan Nabi sekaligus penguasa tersebut. Mereka berdatangan dari Hadramaut, Oman, dan Yaman. Bangsa Arab yang secara politik umumnya enggan untuk tunduk pada satu orang kini menjadi menyerah pada dominasi Muhammad SAW. Berbagai kebijakan politik Nabi SAW telah ditaati dan ditiru oleh para penguasa baik di Timur Tengah maupun dunia pada umumnya.
Komunitas keagamaan di Madinah telah melahirkan sebuah negara Islam yang besar. Perwujudan supremasi negara berada di kekuasaan Allah SWT. Nabi Muhammad adalah wakil-Nya sekaligus penguasa tertinggi di dunia. Allah mempunyai de jure sovereignity dan Muhammad mempunyai de facto sovereignity (Karim, 2007 : 74-75). Muhammad SAW telah memposisikan dirinya dengan menjalankan fungsi sebagai seorang kepala negara seperti yang dimiliki beberapa penguasa dunia saat ini.
Tempat ibadah umat Islam, masjid telah menjadi markas militer dan forum publik. Imam yang tugas utamanya adalah memimpin shalat mempunyai wewenang lain yaitu sebagai komandan pasukan yang berkewajiban melindungi komunitasnya dari ancaman dan gangguan dari luar. Teokrasi dan gaya kepemimpinan Islam yang berasal dari Madinah telah menyebar ke seluruh penjuru Semenanjung Arab serta mencakup dataran Afrika Utara dan Asia Barat.
Ajakan beliau untuk masuk ke agama Islam kepada para pemimpin dunia melalui surat yang dikirimkan merupakan langkah politis yang sangat berani. Keberhasilan Nabi dalam mempersatukan umat Islam dengan keragaman kabilah maupun suku dan mempersaudarakannya adalah sebagai bukti misi risalah yang dibawanya mempunyai dimensi religius dan sosial politik.
Muhammad telah sukses memberi inspirasi terbentuknya sebuah bangsa yang tidak pernah bersatu sebelumnya dalam selang waktu yang sangat singkat dan berangkat dari lingkungan yang tidak menjanjikan. Timur Tengah, khususnya Arab saat itu hanyalah sebuah batasan geografis namun oleh Nabi terakhir tersebut diubah menjadi sebuah negara yang solid. Agama Islam yang luas wilayahnya dibangun mengalahkan Kristen dan Yahudi serta diikuti oleh sejumlah besar manusia.

Kondisi politik Timur Tengah sebelum Muhammad menjadi pemimpin adalah masih didominasi oleh kerajaan-kerajaan kuno (Karim, 2007 : 50). Ketika Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW mulai menancapkan kukunya di Madinah, imperium-imperium tersebut beberapa runtuh sendiri dan berhasil ditaklukkan Islam serta di kemudian hari berada dalam satu bendera negara Madinah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad. Secara rinci urutan kekeluargaan bangsa Arab sebelum Islam datang adalah sebagai berikut; Banu -(diikuti nama rumpun)- syaikh (kepala klan) - qabilah (suku) - qawm (klan) - hayy - keluarga (satu tenda) - individu. Pemerintahan Nabi Muhammad ketika itu mempunyai corak republik bukan monarki. [islamaktual/sm/shubhimahmashonyharimurti]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top