Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Di sebuah acara pengajian, ada seorang ustadz menyatakan: “Seseorang tidak dianjurkan menjadi imam, apabila jamaah tidak menyukainya”. Pernyataan ini secara spontan dinyatakan sang Ustadz tanpa menyebut dalilnya. Setelah usai pengajian itu saya pun tertantang untuk mencari dalilnya. Ternyata saya temukan sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari (sahabat) Abdullah bin Abbas.
Dinyatakan dalam Hadits tersebut bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
Ada tiga golongan yang tidak terangkat shalat mereka di atas kepala mereka meskipun satu jengkal (maksudnya: “tidak akan pernah diterima shalat mereka”), yaitu: seseorang yang mengimami suatu kaum sedang mereka (yang diimami itu) benci kepadanya, dan seorang istri yang bermalam sedang suaminya marah kepadanya, dan dua orang yang saling memutus (tali) persaudaraan” (HR Ibnu Majah, Sunan ibn Majah, II/115, dari Abdullah bin Abbas).
Secara tekstual hadits di atas bisa dipahami, bahwa siapapun yang dibenci oleh makmum, bisa ditolak keimamannya. Dan oleh karenanya, dengan alasan apapun, ‘dia’ dianggap tidak layak untuk diposisikan sebagai imam shalat.
Saat ini, kebencian terhadap seseorang bisa tumbuh dari berbagai sebab, bahkan dari sebab yang sangat ‘remeh-temeh’ (sederhana). Misalnya, “karena yang bersangkutan dipersepsikan oleh sebuah komunitas masjid tertentu sebagai imam yang kurang toleran terhadap kehendak jamaah”. Bisa jadi hanya karena terlalu seringnya membaca ayat-ayat al-Qur’an yang terlalu panjang atau -bahkan- karena terlalu banyak thuma’ninah, sehingga geraknya terkesan lamban dan shalatnya pun terkesan lama. Jika terdapat alasan yang cukup signifikan untuk dipahami oleh jamaah, sebenarnya bisa dimaklumi. Tetapi, bila alasan yang dikemukakan oleh para jamaah tidak cukup signifikan dan sama sekali tidak relevan untuk dijadikan sebagai sebuah alasan untuk membencinya, maka resistensi jamaah itu pun semestinya perlu dipertanyakan.
Para ulama, pada umumnya, menyatakan bahwa tidak ada dalil yang menjelaskan dan membatasi keumuman pernyataan Rasulullah SAW di atas. Sehingga, berpijak pada nalar ‘ibaratun nash (makna literal), kita bisa menerapkan kemutlakan Hadits di atas sebagai pijakan untuk menolak kehadiran Sang Imam itu. Tetapi, bila kita pahami berdasarkan relevansi maknanya (iqtidhaun nash) yang terkait dengan posisi kepemimpinan Sang Imam bagi para makmumnya, maka seharusnya kita kembangkan pemahamannya pada konteks kepemimpinan Sang Imam bagi para jamaahnya secara lebih ‘kritis’. Kita bisa (saja) mengkhususkan makna kebencian para jamaah itu berkaitan dengan sebab yang relevan, misalnya: “Sang Imam” mendapatkan resistensi sosial dari para jamaahnya karena persoalan muru’ah-nya, seperti para jamaah membencinya karena Sang Imam adalah seseorang yang kurang berhati-hati untuk menghindari perbuatan maksiat dalam kehidupan sehari-hari, atau pernah terpantau ---meskipun hanya sekali--- oleh para jamaahnya ‘pernah’ melalaikan kewajiban asasi yang telah dibebankan kepadanya, mislanya: “pernah mengimami shalat jamaah dengan dalam keadaan sangat terlambat”, padahal ---sebelumnya--- Sang Imamlah yang pernah menekankan aturan baku dengan menyatakan secara terbuka pada para jamaah (berkali-kali, sebagai perwujudan komitmennya untuk menjadi uswah hasanah): Seorang imam, sama sekali tidak boleh --sekali pun hanya sekali, tanpa udzur syar’i-- memberi contoh yang tidak baik dalam melaksanakan tugasnya sebagai imam, dengan misalnya ‘menimbulkan keresahan para jamaah karena terlambat’ hadir dalam shalat jamaah, sehingga para jamaah harus menunggunya.
Dalam hal ini, penulis berpendapat, bahwa ‘jika’ tidak ada dalil yang mengkhususkan sebab kebencian tersebut, maka yang lebih utama, bagi siapapun -yang telah memosisikan dan (bahkan) diposisikan sebagai imam oleh para jamaahnya- yang telah mengetahui bahwa para jamaahnya telah membencinya -tanpa sebab yang jelas atau karena sebab yang jelas, apalagi sebab yang bersifat syar’i- agar tidak memaksakan diri dan -juga dipaksakan- untuk menjadi imam bagi para jamaah. Dengan pertimbangan mashlahat, “meninggalkannya lebih besar pahalanya daripada melakukannya”. Tetapi jika dengan pertimbangan lain, ternyata ada nilai kemashlahatan yang lebih besar jika ‘dipaksakan’, maka keputusan untuk meninggalkan ‘peran’ sebagai imam pun bisa dikoreksi ulang. Hingga ‘Sang Imam’ pun harus memiliki kecerdasan untuk memilih, dengan berupaya memperbaiki diri agar citra dirinya di hadapan para jamaahnya menjadi lebih baik, dan pada akhirnya bisa diterima kehadirannya sebagai ‘Imam’ bagi para jamaahnya: “tetap menjadi imam atau tidak” demi kepentingan yang lebih penting. Bukan saja bagi para Imam shalat jamaah (yang terkait langsung dengan masalah ibadah), tetapi (juga) para imam dalam berbagai ragam kehidupan muamalah-duniawiah.

Dalam “Fikih Prioritas” disebutkan pilihlah yang terpenting di antara yang penting. [islamaktual/sm/muhsinhariyanto]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top