Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Peristiwa pada Perang Hawazin. Rasulullah membagikan barang rampasan perang kepada kaum Muhajirin dan orang-orang muallaf. Kaum Anshar marah karena tidak mendapat bagian apapun. Nabi pun dianggap berat sebelah, hanya memihak kepada kaumnya.
Sa’ad bin ‘Ubadah selaku orang Anshar menyampaikan aspirasi kepada Nabi. Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Anshar marah kepada engkau karena memberikan rampasan perang hanya kepada kaum Muhajirin. Apa jawaban Rasulullah? Hai, Sa’ad, dalam hal ini kamu memihak siapa? Sa’ad berkata, aku memihak kaumku ya Rasulullah. Rasulullah lantas meminta Sa’ad mengumpulkan orang-orang Anshar.
Rasul berkata kepada kaum Anshar. Wahai orang-orang Anshar, telah sampai kepadaku bahwa kalian marah. Bukankah aku telah datang kepada kalian saat berada dalam kesesatan, lalu Allah memberi hidayah. Waktu itu kalian dalam keadaan miskin, kemudian Allah memberikan kekayaan. Kalian saat itu dalam keadaan bermusuh-musuhan, Allah kemudian mempersatukan hatimu. Benarkah demikian? Kaum Anshar menjawab, “Benar, Allah dan Rasul-Nya yang memberi nikmat dan keutamaan.”
Rasulullah kemudian berkata. Wahai kaum Anshar hendaklah kalian jawab dengan benar, bahwa Rasul datang kepada kami sebagai orang yang tidak mendapat pertolongan, lalu kami tolong. Rasul datang sebagai orang yang diusir, lantas kami lindungi. Rasul datang sebagai orang yang memerlukan bantuan, kemudian kami bantu.
Kemudian Rasulullah meneruskan perkataannya. “Wahai kaum Anshar, apakah kalian marah kepadaku hanya karena kenikmatan dunia. Padahal harta rampasan perang itu aku gunakan untuk melunakkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam. Sedangkan aku percayakan kepada kalian keIslamanmu? Apakah kamu kaum Anshar tidak rela bila orang-orang Muhajirin dan Mu’allaf itu pergi membawa kambing dan unta, sementara kalian pulang dengan membawa Rasulullah?”
Rasul melanjutkan sabdanya, Demi Dzat yang menguasai diri Muhammad, jika tidaklah karena hijrah, maka aku pasti menjadi orang Anshar. Andaikan orang-orang melewati satu bukit yang dilaui orang-orang Anshar, pasti aku akan melewati bukit itu. Ya Tuhan, sayangilah kaum Anshar, putra-putranya, serta cucu-cucu mereka. Kaum Anshar menangis mendengar jawaban dan wejangan penuh kasih sayang dari Rasulullah itu. Mereka kemudian berkata, “kami ridla dan senang membawa Rasulullah sebagai bagian yang kami peroleh!”
Kisah di zaman Rasulullah itu memberikan pelajaran sangat bermakna. Dalam perjuangan Islam sering berhadapan dengan godaan-godaan duniawi. Dalam Perang uhud, karena ghanimah dan ketidaktaatan kepada Rasulullah, umat Islam jatuh dalam kekalahan. Padahal di Perang Badar satu tahun sebelumnya meraih kemenangan karena umat Islam taat kepada Allah dan Rasulullah serta memiliki jiwa jihad fii sabilillah.

Sejarah sering menunjukkan, bahwa umat Islam dan para tokohnya berselisih karena rebutan kepentingan duniawi yang mengalahkan ruh jihad dan dakwah. Maka para pemimpin dan umat mesti memilih mana yang paling berharga dalam perjuangan. Disinilah pentingnya merenungkan kisah Rasulullah di atas serta firman Allah SWT berikut, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. al-Kahfi : 28). [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top