Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Lulusan sekolah menengah atas (SMA) atau yang sederajat tak menjamin dapat pekerjaan setelah mereka lulus. Menurut data Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) Indonesia, dari total 125,3 juta angkatan kerja per Agustus 2014, jumlah pengangguran terbuka sekitar 7.244.905 jiwa. Dari jumlah itu lulusan SMA sederajat mencapai 3.295.307 orang.
Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Indonesia Tri Retno Isnaningsih merinci, jumlah pengangguran tersebut dimana lulusan sekolah dasar (SD) 1.694.100 jiwa, lulusan sekolah menengah pertama (SMP) 1.566.838 jiwa, lulusan SMA 3.295.307 jiwa, diploma 193.517 jiwa, dan sarjana 495.143 jiwa.
Tri Retno juga menyebutkan beberapa alasan mengapa SMA menjadi kelompok teratas pengangguran diantara semua level pendidikan. “Pertama, 50 persen lulusan SMA berasal dari keluarga ekonomi menengah kebawah,” ujarnya seperti dikutip dari republika.co.id di Jakarta, Kamis (12/3) kemarin.
Jadi menurutnya, anak keluarga tidak mampu yang menempuh pendidikan harus mendapat bantuan dari pemerintah. Akan tetapi, untuk sementara pihaknya hanya membantu biaya sekolah untuk jenjang wajib belajar 12 tahun atau SMA. Kemudian setelah lulus, anak-anak remaja itu tidak bisa merasakan mengenyam bangku kuliah.
“Sehingga, lulusan SMA itu tidak bisa melamar lowongan kerja yang mensyaratkan kualifikasi diploma atau sarjana,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, lulusan jenjang SMA tidak diberikan keahlian kerja apapun. Kalaupun ada yang mendapat pelatihan, mereka adalah beberapa siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) dan jumlahnya terbatas. Itupun para siswa yang setelah mendapat pelatihan itu masih harus mendapatkan sertifikasi kompetensi.
“Nah, kita yang belum siap dengan lembaga sertifikasi kompetensi ini,” ujarnya. Untuk itu, pihaknya menyambut baik adanya aplikasi online Jofom yang menyediakan lowongan kerja bidang informal dan untuk lulusan SMA sederajat. Ia berharap aplikasi Jofom ini dapat sangat membantu menyediakan informasi lowongan kerja.
Ini karena seringkali pencari kerja tidak mengetahui informasi lowongan pekerjaan. Sosialisasi dan komunikasi yang minim juga ikut menjadi penyebab para pencari kerja ini buta lowongan kerja. Di satu sisi, pengguna internet atau gadget dinilai mereka tinggi.
Kedua, perusahaan bisa segera menginfokan lowongan pekerjaan melalui Jofom. Ini juga sesuai dengan surat edaran yang diterbitkan Kemenaker yaitu perusahaan memberikan informasi sebanyak-banyaknya terkait posisi pekerjaan yang kosong dan ditawarkan. Pihaknya juga berkomitmen melakukan beberapa pembenahan. “Pertama, membenahi kualitas pendidikan di level SMA,” katanya.
Untuk perbaikan kualitas ini, pihaknya menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian, langkah kedua, menyiapkan dan mengoptimalkan pelatihan yaitu Balai Latihan Kerja (BLK) supaya para lulusan SMA bisa memiliki kompetensi lebih untuk memenuhi tuntutan pengguna tenaga kerja.
Pemerintah pada saat ini, sudah memiliki 34 BLK resmi pemerintah di seluruh wilayah Indonesia. Hanya saja, kadang jarak antara BLK dengan domisili pencari kerja terlalu jauh.  Sehingga, sebagai solusi masalah ini pemerintah melakukan pengadaan mobile training unit (MBU).
Menurut Tri Retno, lulusan SMA juga harus mempunyai keahlian, hal ini dilakukan agar nantinya para lulusan SMA dapat terserap pasar kerja.

Dengan dilakukannya upaya ini pihak Kemenaker berharap agar target presiden Joko Widodo untuk mengentaskan pengangguran minimal 2 juta jiwa setiap tahun bisa dipenuhi. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top