Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Musim panas tahun 1389 H (1969 M), di Beirut, Lebanon. Secara kebetulan, tiga orang ulama besar bertemu di rumah seorang muhaqqiq (editor untuk buku-buku Islam klasik) dan pengusaha di bidang penerbitan buku, Syaikh Zuhair al-Syawis. Ketiga ulama tersebut adalah Dr. Yusuf Qardlawi (Mesir), doktor di bidang Hadits dari Universitas al-Azhar yang pada waktu itu baru saja ‘ditugaskan’ pemerintahan Anwar Sadat ke Qatar, Syaikh Abdul Fatah Abu Ghaddah (Syiria), ulama Hadits bermazhab Hanafi dan beraliran Asyariah, dan Syaikh Nashiruddin (Albania), salafi dan ahli Hadits yang dikenal dengan sikapnya yang anti mazhab fikih. Setelah bertemu, tiga orang ulama tersebut terlibat dalam diskusi dan percakapan serius.
Diskusi dimulai oleh Syaikh Abu Ghaddah. Ia mengajukan klarifikasi kepada Syaikh Albani mengenai metode beliau dalam meneliti Hadits. Ia menanyakan apa maksud Albani yang masih memberikan komentar “sahih” untuk Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim. Seperti yang dilakukan Albani ketika meneliti kesahihan Hadits-hadits kitab Syarh Aqidah Tahawiyyah karua Ibnu Abil ‘Iz (w. 792 H). Padahal, sebagaimana jamak diketahui bahwa kitab Hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab Hadits yang tidak diragukan lagi keshahihannya, bahkan sampai dikatakan bahwa dua kitab Hadits tersebut adalah kitab paling shahih di muka bumi setelah al-Qur’an.
Qardlawi menimpali, “Saya sering dimintai pendapat tentang metode anda,”. “Namun saya selalu mengajak berpikir positif, bahwa maksud pencantuman kata shahih tersebut adalah untuk menyebutkan bahwa hadits itu bukan termasuk hadits yang dikritik dari Shahihain.” Memang, ada beberapa Hadits, baik dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang dikritik para ulama karena disusun berdasarkan kriteria yang agak longgar.
“Metode ini tidak dibenarkan, karena akan melahirkan skeptisme di tengah masyarakat terhadap Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Juga, nantinya akan memunculkan anggapan bahwa dalam dua kitab ini ada hadits-hadits yang berkualitas dhaif,” lanjut Abu Ghaddah.
Karena ditanya, Albani akhirnya menjawab pertanyaan klarifikasi tersebut, konon dengan agak sedikit emosional. “Inilah metode yang saya pilih! Saya akan mencantumkan komentar ‘shahih’ pada setiap hadits yang shahih dan ‘dhaif’ pada hadits yang dhaif”.
Diskusi panas tersebut berhenti di sini. Namun, setelah forum ‘tidak sengaja’ tersebut, di kemudian hari hubungan intelektual khususnya antara Albani dan Abu Ghaddah menjadi tegang. Sebuah buku misalnya ditulis oleh Abdul Karim al-Rabian, murid Albani, untuk mendiskreditkan Abu Ghaddah. Judulnya al-Shaif al-Shaqil al-’Abqariy ‘ala Tilmidz al-Kautsari (Pedang Mengkilat lagi Istimewa untuk Murid al-Kautsari). Abu Ghaddah adalah murid Zahid al-Kautsari, ulama Hadits dari India yang bermazhab Hanafi. Selain itu, dalam kata pengantar untuk edisi keempat Syarh Aqidah Tahawiyyah, Albani membuat pernyataan negatif tentang Abu Ghaddah. Dalam buku tersebut, Albani menuduh Abu Ghaddah sebagai dlalal (sesat), jahl (bodoh), dhayyiqul fikr (berpikiran sempit), taklid, munafik, fanatik terhadap mazhab Hanafi dan aduwun ladud (musuh utama) dari Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim serta Muhammad bin Abdul Wahhab.
Karena merasa namanya didiskreditkan dan difitnah, Abu Ghaddah mengambil tindakan. Ia kemudian menyusun buku yang berjudul Kalimat fi Kasyfi Abathil wa Iftiraat, Raddun ‘ala Nashiruddin al-Albani (Uraian untuk Mengungkap Kesalahan dan Reduksi, Suatu Jawaban untuk Nashiruddin Albani). Dalam bukunya ini, ia menjelaskan tentang posisinya terhadap pemikiran tiga tokoh di atas, yang ia dituduh menjadi musuh utamanya. Hanya saja, menurut penulis, yang cukup disayangkan, selain bertindak defensif, Abu Ghaddah justru tidak menjelaskan kritik yang lebih mendetail untuk metode Albani dalam melakukan penelitian Hadits. Padahal justru inilah substansi kritik untuk Albani. Belakangan, metode Albani dalam kritik Hadits kemudian mendapatkan sorotan tajam dari ulama-ulama Hadits lainnya. Misalnya Hasan al-Saqqaf menulis buku berjudul Tanaqudhat al-Albani al-Wadhihah (Kontradiksi Albani yang Terang Benderang). Kata Saqqaf, “Untuk Hadits yang sama, di satu tempat Albani mengatakan shahih, di tempat lain ia mengatakan dhaif”.
Khusus untuk Yusuf Qardlawi, sejak lama antara beliau dengan Albani telah terjadi hubungan intelektual yang kritis, tetapi masih dalam koridor cukup santun. Misalnya, buku Qardlawi al-Halal wa al-Haram fi al-Islam yang menjadi buku spektakuler di dunia Islam sampai hari ini, dinilai Albani masih memuat Hadits-hadits dhaif. Tidak tanggung-tanggung, untuk mengkritik Qardlawi, Albani sampai menulis buku Ghayatu al-Maram fi Takhrij AHaditst al-Halal wal Haram fil Islam (Batas Maksimal dalam Meneliti Hadits-hadits Kitab al-Halal wal Haram fil Islam). Buku Qardlawi yang lain Musykilatu al-Faqri wa Kayfa Alajaha al-Islam (Problem Kemiskinan dan Bagaimana Islam Mengobatinya) juga diteliti keshahihannya oleh Albani. Qardlawi merespon kritik-kritik Albani dengan tulisan klarifikasi yang kemudian dimuat di kitabnya Fatawa Mu’ashirah. Ia menyatakan bahwa Hadits yang ia gunakan bukanlah Hadits berkualitas maudhu’ (palsu), melainkan Hadits yang dapat ditolerir kedhaifannya. Dalam beberapa karyanya yang lain, Qardlawi juga mengkritik Albani sebagai literalis (harfiy) dan terkadang tidak konsisten menilai Hadits.
Itulah dialektika intelektual para teladan kita, ulama yang mulia. Sebagai manusia, mereka juga tidak luput dari sifat berlebihan dan kekurangan. Semoga Allah memaafkan mereka. Sebagai thalibul ilmi (pembelajar), kita tidak perlu mengikuti hal-hal yang negatif dan mengulang kekhilafan mereka. Sekalipun tentu saja kita berharap, para ulama sebagai pewaris para nabi (waratsatul anbiya) seharusnya dapat menjadi teladan bagi kita semua. Al-Qur’an dalam hal ini mengajarkan bahwa bukan saja dengan sesama Muslim, bahkan ketika berdebat dengan ahlul kitab pun, kita harus menggunakan bahasa yang santun (al-Ankabut : 46).
Sisi negatif para ulama, mari kita kesampingkan dan kita ambil ibrahnya saja. Yang perlu kita ikuti adalah nilai-nilai positif dari mereka; semangat belajar-mengajar yang tinggi dan tidak mengenal lelah, produktif berkarya, serta semangat mereka memperjuangkan Islam. Dalam hal berdiskusi, kita munculkan suasana yang kondusif, bersahabat, tanpa harus memberikan stigma-stigma yang berlebihan. Al-Qur’an sekali lagi mengingatkan bahwa stereotyping bukanlah akhlak yang mulia.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum  mengolok-olok kaum lain (karena) boleh jadi yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan mengolok-olok perempuan lainnya, (karena) boleh jadi yang diolok-olok lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS. al-Hujurat : 11).

Dialektika memang harus mencerdaskan, mencerahkan, namun juga harus menyejukkan. Wallahu a’lam[islamaktual/sm/m.rofiqmuzakkir]

Referensi: - Syarh Aqidah al-Tahawiyah (Nashiruddin Al-Albaniy)
- Kalimat fi Kasyfi Abathil wa Iftiraat Raddun 'ala Nashiruddin al-Albani (Abu Ghaddah)
- Ibnu Qaryah wa al-Kuttab (Yusuf al-Qaradlawi)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

2 comments:

  1. Subhanallah semoga bisa jadi pembelajaran

    ReplyDelete
  2. Ane baca tulisan ini lsg geli, gelinya dimana?? Sejak kapan syaikh qaradawi jadi ulama hadith?? Dan sejak kapan ada ulama hanafi yang menjadi pakar hadith?? Lawong imam sjafei aja melarang mengambil hadith dari abu hanifah..
    Tulisan ini bungkusnya keren..tapi isinya oncom basi...bayangin bray oncom aja bisa basil alias dah tau kan busuknya gimana..

    ReplyDelete

Visit Us


Top