Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ibnu Khaldun tidak sedikit berbicara tentang pendidikan Islam di samping sejarah, sosiologi, politik, budaya, dan lain sebagainya. Gagasan dan teori-teori yang pernah dikemukakannya laksana mata air zam-zam yang tak pernah kering diminum. Sampai akhir tahun 1970-an telah tercatat 854 buku, artikel, review, disertasi, dan bentuk publikasi ilmiah lainnya yang ditulis oleh para sarjana (Barat dan Timur) tentang Ibnu Khaldun dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab al-Muqaddimah, sebuah karya klasik yang dinilai memuat dimensi modern dalam ilmu-ilmu sosial.
Riwayat Singkat
Nama lengkapnya Wali ad-Din Abu Zaid Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun al-Hadrami al-Ishbili. Lahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 M dan wafat di Kairo pada 17 Maret 1406 M (Ahmad Syafii Ma’arif, 1996:11). Ia lebih populer dipanggil Ibnu Khaldun.
Ibnu Khaldun keturunan dari keluarga yang berpengaruh dan terpelajar yang hidup pada masa penaklukan Andalusia. Dia dibesarkan dalam pangkuan ayahnya yang sekaligus guru pertamanya. Bersama ayahnya, ia diajari membaca al-Qur’an dan menghafalnya serta mempelajari berbagai macam qira’at dan penafsirannya, sekaligus belajar Hadits dan fiqih. Selain dari ayahnya, ia juga diajari tata bahasa dan retorika oleh ulama terkenal di Tunisia (Muhammad Abdullah Enan, 2003:21). Beberapa nama guru yang sempat dihampiri oleh Ibnu Khaldun untuk belajar antara lain: Abu Abdillah Muhammad bin Al-’Arabi al-Hasyayiri, Abu al-’Abbas Ahmad bin al-Qassar, Abu ‘Abdillah bin Bahar (bidang Bahasa), Syamsuddin Abu ‘Abdillah al-Wadiyasi (bidang Hadits), Abu ‘Abdillah Muhammad al-Jiyani, dan Abu Qahiri (bidang Fiqih). Selain ilmu-ilmu ke-Islaman, Ibnu Khaldun juga belajar ilmu-ilmu rasionalis (filosofis), yaitu teologi, logika, ilmu alam, matematika, dan astronomi, kepada Abu ‘Abdillah Muhammad bin al-Abili.
Pada masa mudanya, Ibnu Khaldun telah terlibat dalam berbagai intrik politik. Dalam dunia politik, Ibnu Khaldun tercatat sebagai pengkhianat karena seringnya ia berganti tuan demi sebuah jabatan. Hal ini terus berlangsung hingga akhirnya ia sampai pada titik jenuh dan memutuskan untuk meninggalkan panggung politik dan mengukuhkan diri bersama keluarga di Qal’at Ibnu Salamah. Pada masa kontemplasi di Qal’at Ibnu Salamah inilah ia menyelesaikan sebuah karya monumentalnya, al-Muqaddimah, yang hingga hari ini masih menjadi santapan intelektual bagi sarjana di berbagai penjuru dunia.
Setelah empat tahun tinggal di Qal’at Ibnu Salamah, perjalanan hidupnya dilanjutkan di Mesir. Di tempat tinggal barunya ini ia disibukkan dengan berbagai kegiatan, seperti menjadi guru, qadi, diplomat, dan kegiatan kenegaraan lainnya. Sebagai seorang guru, ia cukup dikagumi karena kemampuan mengajarnya yang membuat semua orang terpukau. Sedangkan sebagai qadi dari Madzhab Maliki, ia menunaikan tugasnya dengan seadil-adilnya.
Pemikiran Pendidikan
Merujuk pada kitab al-Muqaddimah akan didapati corak dari pemikiran Ibnu Khaldun bahwa dalam setiap analisisnya yang tajam dan rasional, ia senantiasa mengkonsultasikan antara fakta empiris dan rasional dengan wahyu. Wahyu tidak ia letakkan sebagai premis minor dalam tata fikir yang dikembangkannya, tetapi sebagai premis mayor yang menjadi referensi setiap pemecahan masalah (Warul Walidin, 2003:66).
Dalam kaitannya dengan ilmu, pendidikan atau pengajaran, Ibnu Khaldun mengawali konsepnya dengan menjelaskan bahwa manusia pada hakikatnya termasuk jenis binatang. Adapun yang membedakannya ialah kemampuan manusia untuk berfikir. Kemampuan berfikir baru merupakan potensi dan akan menjadi aktual setelah sifat kebinatangannya mencapai kesempurnaan yang dimulai dari kemampuannya membedakan (tamyiz) (Khaldun, Muqaddimah:532). Dengan kata lain, sebelum manusia memiliki kemampuan tamyiz, dia sama sekali tidak memiliki pengetahuan, dan dianggap sebagian dari binatang.
Setelah masa itu, pencapaian yang didapat oleh manusia adalah akibat dari persepsi sensual dan kemampuan fikirnya. Pikiran dan pandangan manusia tersebut akan dicurahkan untuk mencari hakikat kebenaran. Selain itu, manusia juga akan memperhatikan peristiwa-peristiwa yang dialaminya yang bermanfaat bagi esensi dan eksistensinya. Akhirnya, upaya mencari pengetahuan tentang hakikat sesuatu menjadi suatu kebiasaan dalam dirinya. Kebiasaan tersebut oleh Ibnu Khaldun disebut dengan malakah.
Ilmu pengetahuan timbul melalui malakah karena dengannya manusia mampu mengenali gejala dan hakikat segala sesuatu. Setelah itu, jiwa manusia akan tertarik untuk mendalami ilmu tersebut sehingga ia membutuhkan orang lain untuk melepaskan dahaga keingintahuannya (dari sinilah timbul pengajaran). Dengan demikian, ia kemudian menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan dan pengajaran (ta’lim) merupakan hal yang alami di tengah umat manusia (Khaldun, Muqaddimah:534).
Menurut Ibnu Khaldun, perbendaharaan ilmu manusia adalah jiwa manusia itu sendiri. Di dalamnya Allah SWT menciptakan persepsi yang bermanfaat untuk berpikir dan memperoleh pengetahuan ilmiah. Manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan melalui naluri yang ditanamkan dalam akal apabila tujuan esensial mereka dalam penyelidikannya itu adalah mencari kebenaran serta menggantungkan diri pada rahmat Allah SWT.
Ibnu Khaldun memandang kebenaran yang hakiki bersumber dari Allah SWT. Kebenaran bukan hanya ada di dalam realitas, melainkan ada kebenaran hakiki (haq al-yaqin) yang datang dari Ilahi. Meskipun demikian, pengetahuan yang mungkin didapat manusia dari penyelidikanya hanya sebatas ‘ain al-yaqin atau lebih tinggi lagi yang dapat dicapai manusia adalah ilm al-yaqin meskipun mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai yang haq al-yaqin.
Menurut Ibnu Khaldun, pendidikan merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Dalam kaitannya tentang tujuan pendidikan, meski tidak disebut secara eksplisit dalam Muqaddimah, namun dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut: pertama, pendidikan sebagai usaha transformatif potensialitas (attaqah al-quswa) manusia yang bertujuan mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya. Kedua, pendidikan sebagai bagian integral dari peradaban (al-umran) karena peradaban sendiri adalah isi pendidikan. Ketiga, pendidikan sebagai sarana bagi manusia mengetahui hukum-hukum Allah SWT yang telah disyariatkan atasnya dan menggapai ma’rifat dengan menjalankan praktik-ptaktik ibadah (Walidin, Konstelasi: 105-107).
Dengan demikian dapat disimpulkan tujuan pendidikan baginya ialah peningkatan kecerdasan dan kemampuan berpikir,peningkatan segi kemasyarakatan manusia dalam kehidupannya, peningkatan segi kerohanian manusia. Dengan tujuan tersebut diharapkan agar pendidikan Islam mampu menciptakan manusia yang siap menghadapi berbagai fenomena sosial yang ada di sekitarnya.
Pengertian kurikulum pada masa Ibnu Khaldun masih terbatas pada maklumat-maklumat dan pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau sekolah dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk kitab-kitab tradisional yang tertentu, yang dikaji oleh murid dalam tiap tahap pendidikan. Kurikulum pendidikan yang diajarkan kepada peserta didik menurut Ibnu Khaldun meliputi tiga hal, yaitu: pertama, kurikulum sebagai alat bantu pemahaman (ilmu bahasa, ilmu nahwu, balaghah, dan syair). Kedua, kurikulum sekunder, yaitu mata kuliah untuk mendukung memahami Islam (seperti logika, fisika, metafisika, dan matematika). Ketiga, kurikulum primer, yaitu inti ajaran Islam (Fiqh, Hadits, Tafsir dan sebagainya).
Ibnu Khaldun mengklasifikasikan ilmu pengetahuan menjadi dua macam, yaitu ilmu-ilmu filsafat atau rasional (‘aqliyah) dan ilmu-ilmu tradisional (naqliyah) (Khaldun, Muqaddimah:543-544). Ilmu ‘aqli dibagi menjadi empat kelompok: Logika, Fisika, Metafisika, dan Matematika. Ibnu Khaldun menyusun ilmu-ilmu naqli sesuai dengan manfaat dan kepentingannya bagi peserta didik menjadi beberapa bagian, yaitu: Al-Qur’an dan Hadits, Ulum Al-Qur’an, Ulum Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh, Ilmu Al-Kalam, Ilmu al-Tasawuf, dan ilmu al-Ta’bir Ru’ya.
Menurut Ibnu Khaldun, Al-Qur’an adalah ilmu yang pertama kali harus diajarkan kepada anak. Al-Qur’an mengajarkan kepada anak tentang syariat Islam yang dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap umat Islam. Ilmu-ilmu naqli hanya ditujukan untuk dipelajari pemeluk Islam. Walaupun dalam setiap agamasebelumnya ilmu-ilmu tersebut telah ada. Akan tetapi berbeda dengan yang terdapat dalam Islam. Dalam Islam, eksistensi ilmu berfungsi menasakh ilmu-ilmu dari setiap agama yang lalu dan mengembangkan kebudayaan manusia secara dinamis (Khaldun, Muqaddimah:545).
Pandangan Ibnu Khaldun tentang metode pangajaran merupakan bagian dari pembahasan dalam Muqaddimah-nya. Ia menjelaskan bahwa dalam memberikan pengetahuan kepada anak didik, seorang pendidik hendaknya: pertama, memberikan problem-problem pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal anak didik. Kedua, setelah pendidik memberikan problem-problem yang umum dari pengetahuan tadi, baru pendidik membahasnya secara lebih detail dan terperinci. Ketiga, pada langkah ini pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak didik secara lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua persoalan bagaimanapun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang sempurna.

Dalam Muqaddimah (hal. 537), secara eksplisit Ibnu Khaldun menyebutkan metode diskusi sebagai sebuah metode yang unggul. Sebab, dengan metode ini anak didik terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan mengasah otak, melatih untuk berbicara, di samping mereka mempunyai kebebasan berfikir dan percaya diri. Dengan kata lain, metode ini dapat membuat anak didik berfikir reflektif dan inovatif. Dengan berdiskusi, kreativitas anak akan lebih hidup. Anak juga dapat memecahkan masalah dan pandai menghargai pendapat orang lain. [islamaktual/sm/mukhrizalarif]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top