Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dr. Umar ibn Abdullah al-Muqbil menuturkan, al-Qur’an memuat sedikitnya empat belas pertanyaan yang pernah diajukan kepada Nabi Muhammad SAW. Seluruhnya dimulai dengan kalimat yas-aluunaka (mereka bertanya kepadamu), lalu disusul dengan jawaban qul (katakanlah) atau fa qul (maka katakanlah). Satu-satunya ayat yang dimulai dengan kalimat yas-aluunaka tetapi tidak disusul dengan jawaban qul atau fa qul hanya terdapat dalam ayat tentang doa.
Firman Allah, “Wahai Muhammad, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang keberadaan-Ku, maka Aku sangat dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia memohon kepada-Ku” (QS. al-Baqarah [2] : 186). Ayat ini terletak di tengah rentetan sabda Allah SWT tentang kewajiban puasa. Kalimat bersyarat “apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang keberadaan-Ku”, ternyata langsung disusul dengan “maka Aku sangat dekat”. Ketiadaan kalimat “katakanlah” atau “maka katakanlah” menandakan kekhususan ayat yang terkait ibadah paling agung itu, yaitu doa.
Ya, doa memang esensi dari setiap ritual ibadah. Doa juga merupakan salah satu wujud keimanan seorang hamba. Apabila doa tanpa dibarengi kerja itu kebiasaan pemalas, maka kerja tanpa disertai doa jelas perilaku atheis. Melalui ayat barusan, Allah hendak memotivasi kita supaya rajin berdoa. Soalnya, ada kedekatan khusus antara seorang hamba dan Tuhannya ketika sedang berdoa. Tidak ada aktivitas lain yang lebih mendekatkan kita kepada Allah sebagaimana saat bermunajat melalui ritus doa.
Berdoa tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kapan saja kita bisa melangitkan hajat kepada Allah. Juga tidak perlu melalui wasilah atau perantara, kecuali amal bajik kita sendiri. Sebagian orang menganalogikan Allah sebagaimana kedudukan seorang raja atau pembesar, yang apabila hendak menemuinya harus lewat perantara semacam ajudan atau protokoler pribadinya. Analogi semacam itu tentu kurang pas. Sebab, antara Allah dan kita tidak berjarak laksana jarak kita dengan raja atau pembesar itu. Telah ditegaskan, Allah lebih dekat kepada kita melebihi nadi kita sendiri (QS. Qaf [50] : 16).
Ruh Allah yang dipinjamkan kepada kita telah memenuhi setiap relung sel dan menggerakkan segala aktivitas kita. Dengan demikian, untuk menyampaikan hajat kepada Allah, kita hanya butuh berdoa secara tulus disertai ketaatan terhadap perintah-perintah Allah sepenuh keimanan. Tidak harus dengan cara tawassul kepada wali-wali atau para shalih, apalagi yang sudah wafat. Berhentilah menyangka bahwa doa kita baru akan terkabul apabila melalui ‘orang suci’ tertentu. Inilah tauhid yang benar.
Kalau doa kita memenuhi syarat, Allah pasti mengabulkan. Tidak ada seseorang atau sesuatu yang mampu menghalangi setiap doa apabila Allah berkehendak mengabulkan. Tentu, setelah ketaatan terhadap perintah Allah sepenuh keimanan, kita harus melabuhkan harapan dengan cara yang benar, tulus, dan merendahkan diri di depan kedigdayaan Allah.
Namun, penting diingat, mengabulkan doa bukan berarti meluluskan setiap permintaan kita. Allah mempunyai kebijaksanaan sendiri di luar prediksi dangkal manusia. Adakala Allah menunda untuk meluluskan permintaan kita supaya sikap penghambaan bertambah. Dengan terus menguatkan doa sembari meneguhkan keimanan, Allah bermaksud menambah saldo pahala kita untuk dirupakan nikmat yang lebih dahsyat di hari akhirat kelak. Tertundanya pengabulan keinginan dapat pula menjadi penangkal kita dari suatu musibah buruk di dunia. Itulah hikmah tersembunyi dari ayat “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku.”
Pastinya, pertolongan dan petunjuk Allah akan datang kepada siapa saja yang sungguh-sungguh mengharapkan. Sejauh mana ketundukan, kegigihan, kesabaran, dan ketulusan kita dalam berdoa, sejauh itu pula pertolongan dan petunjuk Allah bertandang kepada kita. Penelantaran Allah hanya akan menimpa mereka yang kehilangan sikap syukur seraya ogah merendahkan diri dalam berdoa.

Betapa indah sekiranya kita bersedia menampakkan kefakiran dan kelemahan dengan bersimpuh luruh di hadapan keagungan Allah. Alangkah bahagia siapa saja yang mau mengetuk pintu kasih sayang Allah dengan terus mengintimi-Nya dalam doa-doa untuk mengharapkan kemuliaan dunia dan akhirat. Kemarilah, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan emas. [islamaktual/sm/m.husnaini]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top