Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dalam blantika keilmuan, Al-Azhar merupakan universitas tertua, tidak hanya di kalangan umat Islam, namun di seluruh dunia. Universitas-universitas di Amerika dan Eropa baru didirikan dua abad setelah berdirinya Al-Azhar, sperti Universitas Paris (abad ke-12), Universitas Oxford di Inggris (abad ke-13).
Al-Azhar Tempo Dulu
Pada awalnya, perguruan tinggi Al-Azhar adalah sebuah masjid yang tidak jauh berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya. Masjid ini dibangun oleh Panglima Jauhar al-Shiqily pada 972 Masehi di bawah arahan Khalifah al-Muiz.
Atas perintah al-Muiz, Jauhar al-Shiqily telah mendirikan kota baru yang disebut al-Qahirah (Kairo) yang berarti “kota kemenangan”. Tujuan pendirian kota ini untuk menampung keperluan administrasi pemerintah dan tentara Berber. Kota Kairo pada masa-masa selanjutnya dijadikan sebagai ibukota Khilafah Fatimiyah. Dari al-Qahirah inilah, atas instruksi al-Muiz, Jauhar al-Shiqily membangun masjid yang didedikasikan untuk penyebaran kebudayaan, ajaran, dan pemikiran Syiah. Masjid tersebut diberi nama al-Azhar yang pada masa-masa berikutnya berubah menjadi universitas dan didaulat sebagai universitas Islam tertua di dunia.
Masjid al-Azhar dibangun pada tahun 361 H/972 M. Al-Azhar ini merupakan masjid pertama di Kairo dan masjid keempat di Mesir, setelah masjid ‘Amr ibn ‘Ash, masjid ‘Askar, dan masjid Ahmad ibn Thulun. Pada 365 H/976 M dibuka kegiatan belajar-mengajar dan majelis ilmu pengetahuan bermadzhab Syi’ah Ismailiyah di masjid ini. Abu Hasan bin Nu’man al-Maghribi mengajarkan kitab al-Iqtishar yang tidak lain karya ayahnya sendiri. Kitab ini berisi masalah-masalah fiqihiyah yang berpegang kepada iman ahlu al-bait. Selain Abu Hasan bin Nu’man al-Maghribi, saudara kandungnya yang bernama Abu Abdillah Muhammad bin Nu’man, pada tahun 385 H, turut pula membantu mengajarkan ilmu-ilmu ahlu al-bait. Dalam perkembangan berikutnya, ilmu-ilmu yang dipelajari di al-Azhar seperti ilmu Naqliyah atau Syar’iyah dan Aqliyah atau Hukumiyah, kadang disebut juga dengan ilmu ‘Ajam. Adapun yang termasuk ilmu Naqliyah antara lain: Fikih, Hadits, Tafsir, Nahwu, Lughah, al-Bayan, Adab, Ilmu Tafsir, Ilmu Qiro’at, Ilmu Hadits, dan Ilmu Kalam. Sedangkan yang termasuk ilmu Aqliyah adalah: Filsafat, Arsitektur, Ilmu Nujum, Musik, Kedokteran, Syair, Kimia, Matematika, Sejarah dan Geografi.
Dalam perkembangan berikutnya, al-Azhar telah menduduki posisi untuk membangkitkan kehidupan peradaban Mesir. Terutama yang berkaitan dengan dakwah Fatimiyah sejak masa Khalifah al-Aziz Billah. Pada masa itu, semangat umat Islam mulai bangkit untuk mempelajari ilmu-ilmu munadzarah dan mengkaji fikih syi’ah. Jami al-Azhar saat itu telah menjadi pusat ilmu pengetahuan dengan membawa misi menyebarluaskan dakwah Fatimiyah sampai dibangunnya Jami’ al-Hakim bi Amirillah. Sistem halaqah-halaqah yang ada merupakan dasar studi di al-Azhar.
Kekuasaan khilafah Fatimiyah berakhir setelah meninggalnya Khalifah al-Adhid Lidinillah pada tahun 567 H/12 September 1171 M. Shalahuddin al-Ayyubi memegang tampuk kekuasaan Mesir dan sejak saat itulah mulai berkuasa keluarga Ayyubiyyin. Shalahuddin al-Ayyubi mengambil kebijakan baru dengan menutup seluruh aktivitas di al-Azhar secara total. Hal tersebut dilakukan untuk membersihkan pengaruh-pengaruh Syiah yang lama dikembangkan pada masa penguasaan Dinasti Fatimiyah. Pada masa Shalahuddin, dihapuslah madzhab Syiah dari Mesir dan diganti dengan madzhab Sunni.
Al-Azhar Modern
Pada akhir abad ke-20, Universitas al-Azhar mulai memandang perlunya mempelajari sistem penelitian yang dilakukan universitas-universitas di Barat. Universitas ini mengirim alumni terbaiknya untuk melanjutkan studi ke Eropa dan Amerika. Tujuan pengiriman ini adalah untuk mengikuti perkembangan ilmiah di tingkat internasional, sekaligus upaya perbandingan dan pengukuhan pemahaman Islam yang benar. Cukup banyak duta al-Azhar yang berhasil meraih gelar Ph.D dari universitas luar tersebut, di antaranya ialah: Syeikh Dr. Abdul Halim Mahmud, Syeikh Dr. Muhammad al-Bahy, dan lainnya.
Sebelumnya, pada tahun 1930 M, keluar Undang-undang No. 49 yang mengatur al-Azhar mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, dan membagi universitas menjadi tiga fakultas, yaitu: Syariah, Ushuluddin, dan Bahasa Arab. Saat ini, al-Azhar telah mempunyai 41 fakultas, 19 fakultas di antaranya berada di Kairo dan selebihnya berada di berbagai provinsi di Mesir.
Fakultas-fakultas al-Azhar putera terdiri dari: 1) Fakultas Ushuluddin masa kuliah selama empat tahun, dengan jurusan-jurusan sebagai berikut: Tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur’an, Hadits dan Ilmu Hadits, Akidah Filsafat, Dakwah, dan Peradaban Islam; 2) Fakultas Syariah dengan jurusan sebagai berikut: Program Under Graduate, dengan jurusan: Syariah Islamiyah (4 tahun), Syariah dan Hukum (5 tahun), Program Post Graduate, dengan jurusan: Ushul Fiqh, Perbandingan Madzhab, Perbandingan Hukum, Sosial Politik; 3) Fakultas Dakwah dengan jurusan-jurusannya baru ada pada Post Graduate: Perbandingan Agama dan Kebudayaan Islam; 4) Fakultas Studi Islam dengan jurusan pada Post Graduate; 5) Fakultas Bahasa Arab dengan jurusan: Bahasa Arab dan Adab (Umum), Sejarah dan Peradaban, Pers dan Informasi. Untuk fakultas-fakultas umum, terdiri dari: Fakultas Bahasa dan Terjemah, Fakultas Perdagangan/Ekonomi, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Pasti, dan Fakultas Pertanian.
Adapun Fakultas-fakultas al-Azhar Puteri sebagai berikut: 1) Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab dengan jurusan: Syariah Islamiyah, Ushuluddin, dan Bahasa Arab; 2) Fakultas Studi Sosial; 3) Fakultas Kedokteran; 4) Fakultas Ilmu Pasti; 5) Fakultas Perdagangan; dan 6) Fakultas Farmasi.
Pada setiap fakultas al-Azhar terdapat dua program: pertama, Program Under Graduate/S-1, dengan masa kuliah minimal empat tahun. Lulusan program ini mendapat gelar Lc. (licence). Masa aktif kuliah dimulai pada bulan September sampai Desember dengan ujian term I pada bulan Januari. Kemudian dilanjutkan pada pertengahan Februari sampai Mei yang diakhiri dengan ujian term II pada bulan Juni. Bagi yang belum lulus untuk mata kuliah al-Qur’an diberi kesempatan mengulang di bulan Agustus. Pada program ini mahasiswa dituntut untuk: 1) lulus pada setiap mata kuliah, apabila tidak lulus lebih dari dua mata kuliah dianggap tidak naik tingkat dan harus mengulang mata kuliah yang tertinggal di tahun berikutnya. Kesempatan mengulang selama dua tahun berturut-turut, kalau masih gagal juga akan diberhentikan (mafsul/DO); 2) menghafal al-Qur’an sebanyak 2 juz untuk setiap tingkat bagi mahasiswa asing non-Arab.
Kedua, Program Post Graduate (Dirasah Ulya), dibagi dalam dua program. Program Magister (Master), dengan masa pendidikan selama dua tahun setelah Lc, ditambah 2 tahun penulisan thesis. Untuk meraih gelar Master dituntut supaya hafal al-Qur’an 30 juz bagi orang Arab dan 8 juz bagi non-Arab. Wajib lulus setiap mata kuliah pada ujian lisan dan tulisan yang diadakan dalam dua gelombang setiap tahunnya. Jika tidak lulus dalam satu mata kuliah harus mengulang seluruh mata kuliah pada gelombang selanjutnya, dan diberi kesempatan mengulang maksimal tiga tahun berturut-turut. Pada masa penulisan thesis harus mengajukan judul dengan kerangka pembahasan, setelah diterima kemudian ditentukan pembimbing. Program berikutnya adalah Program Doktor (Dr/Pd.D). Program ini berlaku hanya untuk lulusan Magister, dan diberi waktu untuk penulisan disertasi minimal dua tahun.

Di samping itu, al-Azhar juga mempunyai lembaga-lembaga pendidikan yang terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), I’dadiyah (setingkat SMP), Tsanawiyah (setingkat SMA), sekolah Pendidikan Guru, dan Institut Seni Membaca dan Menghafal Al-Qur’an. [islamaktual/sm/surawan]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top