Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Saiang itu begitu membosankan, sama seperti hari-hari sebelumnya. Hampir sebulan terakhir aku berada di atas kapal, diayun ombak manja, menanti giliran sandar di pelabuhan. Meski sudah hampir lima tahun kujalani, sebenarnya bekerja di ats kapal bukanlah bagian dari jiwaku. Menurutku, hidup di atas kapal seperti orang dipenjara, terpontang-panting di tengah lautan, dan tidak banyak aktivitas yang bisa kukerjakan selain memancing, nonton TV, menulis surat dan membaca alkitab.
Ya, yang terakhir itu adalah aktivitas yang paling sering kukerjakan selama berlayar. Bahkan saking menganggurnya, sampai-sampai aku berulangkali mengkhatamkan kitab suci tersebut.
Tapi aku tak sendiri. Ada seorang temanku yang kebetulan muslim, juga suka mengkhatamkan al-Qur’an. Saat itu pun kami sering berdebat kecil soal isi kitab suci masing-masing.
Perdebatan itu mendorongku untuk semakin mendalami kitab suciku sendiri. Dari situ aku menemukan menemukan beberapa kejanggalan. Akhirnya, saat sudah berada di daratan, aku bertanya pada seorang pemuka agama. Namun aku tak menerima jawaban yang memuaskan. Aku pun bertanya kepada pemuka agama yang lainnya, tapi jawabannya sama.
Beberapa hari itu aku sangat gelisah. Bisa dibilang aku adalah sosok religius. Aku tak pernah setengah-setengah dalam beribadah. Sedikit saja ada pergolakan pada hal yang kuyakini, aku merasa harus segera mencari kebenarannya.
Akhirnya aku memutuskan pergi ke Islamic Centre Surabaya untuk mencari kejelasan itu. Tak disangka, aku melah mendapat sebuah jawaban dari seorang ustadz. Beliau berkata, “Islam adalah agama yang mempu dicerna oleh logika. Semuanya sudah diukur oleh Allah berdasarkan kemampuan manusia.”
Aku terperangah mendengarnya. Aku masih belum sepenuhnya percaya. Saat aku kembali berlayar, aku membawa al-Qur’an terjemahan dan kitab suciku sendiri. Diatas kapal aku membandingkan isi keduanya. Aju juga berdiskusi kembali dengan teman muslim sekapal.
Menuntun Ibu Mengucap Syahadat
Dengan membandingkannya, lama-kelamaan aku sadar sebenarnya selama ini aku salah. Tahun 1992, di sela-sela rehat berlayar, aku memutuskan menjadi seorang muallaf dan mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Falah Surabaya. Sayangnya, respon ibu begitu menyentakku. Setelah beliau tahu aku telah masuk Islam, air matanya menderai membasahi parasnya.
Baginya hal itu adalah sebuah ironi yang menyesakkan hati. Sebab, sejujurnya dahulu kami adalah keluarga muslim, sebelum ayahku memutuskan untuk memeluk Katholik dengan menggeret istri dan ketiga anaknya. Peristiwa itu terjadi saat aku masih tujuh tahun. Waktu itu, aku belum tahu apa-apa soal agama. Begitu jga ayahku. Meski muslim, pengetahuannya soal Islam sangat minim.
Aku tetap berusaha meyakinkan ibu tentang keputusanku. Alhamdulillah, ibu mau menerima alasanku, meski beliau tetap pada keyakinannya. Beberapa waktu berjalan, aku juga berhasil mengajak adik keduaku untuk memeluk Islam.
Setahun kemudian ibu jatuh sakit. Beliau terpaksa dirawat di rumah sakit. Saat itu ibu harus memenuhi panggilan Allah untuk berpulang. Sesaat sebelum Ibu wafat, Ibu memintaku untuk membimbingnya mengucap syahadat. Subhanallah, beliau wafat dalam keadaan memeluk agama Islam.
Kejadian itu semakin menguatkan keyakinanku akan kebenaran Islam. Aku belajar keras untuk mengenal Islam. Berbagai aliran Islam kuikuti, tetapi tidak semuanya kuamalkan. Aku menyaringnya satu persatu untuk menemukan kebenaran Islam yang sesungguhnya.
Dengan izin Allah SWT, pada tahun 2010 aku berkesempatan mengunjungi baitullah. Disana aku mengalami peristiwa-peristiwa yang menggetarkan hati. Dalam ibadah haji itu aku menyaksikan seseorang melantunkan ayat suci al-Qur’an dengan sangat indah. Hati ini menjadi damai mendengarnya.

Karena itu, setibanya aku pergi haji kembali ke tanah air, aku lebih rajin belajar mengaji. Kini, hampir satu minggu penuh aku mengikuti taklim. Semoga ikhtiar ini membawakebaikan dalam hidupku. Dan aku berharap kelak dapat menjadi penceramah yang dapat menyebarkan kebaikan Islam pada orang lain. Amiin. [islamaktual/alfalah/rasminomoerjandono]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top