Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kata ‘ikhlas’ berasal dari kata akhlasha-yukhlishu yang berarti: memurnikan dan membersihkan noda, kotoran, dan aib. Ikhlas merupakan turunan dari kata khalasha-yakhlushu yang berarti murni, bersih tanpa noda dan kotoran. Dalam al-Qur’an, “susu murni” itu diungkapkan dengan “labanun khalishuni” yang menunjukkan kebersihannya tanpa campuran apapun yang menodai kemurniannya. (QS. an-Nahl [16]:66).
Ikhlas dalam ber-Islam berarti memurnikan, membersihkan, dan menghilangkan segala noda, fisik maupun psikis, yang dapat mengotori kemurnian hati dalam ber-Islam, sehingga terbebas dari syirik, riya’, sum’ah, ujub dan sebagainya. Disebut al-Ikhlas, karena surat ini dimaksudkan untuk memurnikan sifat-sifat Allah (Esa, sandaran hidup, tidak melahirkan dan dilahirkan, unik dan tiada yang menyamai-Nya) dari segala bentuk kemusyrikan. Karena itu, ikhlas merupakan sendi utama tauhidillah secara murni, tidak dibarengi dengan penghambaan kepada Tuhan palsu selain-Nya.
Disebut al-ikhlas, juga karena pembaca surat ini idealnya mengikhlaskan, tauhidnya hanya kepada Allah dengan tidak ‘berselingkuh’ kepada Tuhan palsu selain-Nya. Menurut ibn al-Qayyim, ikhlas itu mengorientasikan ketaatan hanya kepada Allah. Sedangkan ibn Qudamah berpendapat bahwa ikhlas itu antonim isyrak (menyekutukan, berbuat syirik). Ikhlas dalam bertauhid itu lawannya syirik dalam bertuhan (tauhid uluhiyyah). Jadi, esensi ikhlas adalah menomorsatukan dan menjadikan Allah sebagai tujuan penghambaan dan pencarian keridlaan-Nya semata.
Ikhlas juga menjadi penentu keber-Islaman kita, karena diterima atau tidaknya amal kita di hadapan Allah SWT, ditentukan oleh keikhlasan hati kita. Amal yang dikerjakan dengan tidak ikhlas, di mata Allah SWT, tidak bermakna dan sia-sia belaka. Nabi SAW bersabda: “Abu Umamah ra meriwayatkan bahwa ada seseorang datang menemui Nabi SAW, lalu bertanya: Tahukah engkau, seseorang berperang untuk memperoleh pahala dan sebutan tertentu baginya? Nabi lalu menegaskan: “Dia tidak mendapat apa-apa” Orang itu mengulangi pertanyaan sampai tiga kali, dan Nabi menegaskan hal yang sama: “Dia tidak mendapat apa-apa.” Kemudian Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali dilakukan dengan ikhlas, dan mencari ridla-Nya semata.” (HR. an-Nasa’i)
Memang ikhlas itu mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dilaksanakan. Karena menjadi mukhlish sering menemui banyak godaan.  Hati terkadang dihampiri rasa ingin dipuji, disanjung, dikagumi dan dipandang hebat. Ikhlas bukan hanya menjadi prasyarat sah, diterima atau tidaknya amal ibadah, melainkan juga menjadi kunci terbebasnya manusia dari tipu daya dan bujuk rayu setan. Jadi, ikhlas itu sumber energi untuk meraih pertolongan dan kekuatan dari Allah. Nabi SAW bersabda: “Allah SWT akan menolong umat ini dengan orang yang lemah di antara mereka melalui doa, shalat dan keikhlasan mereka.” (HR. Abu Dawud).
Dengan demikian, ikhlas itu bukan keterpaksaan, tetapi kemauan yang tulus, kesadaran hati dan pilihan yang murni untuk mau belajar: menyadari, menerima, merelakan, men-zerokan sesuatu yang menodai, mengganggu dan mengurangi nilai suatu amalan atau pekerjaan.
Dengan demikian, ikhlas harus menjadi ‘pangkal kejujuran spiritual’ kita karena ikhlas menjadipengaal kesucian, kemurnian tujuan, dan kemuliaan hidup yang diraih semata-mata karena mengharap ridla Allah SWT, bukan karena pamrih, menginginkan pujian, sanjungan, riya’, sum’ah (pencitraan), dan ujub (dikagumi sebagai orang hebat). Dalam konteks ini, Allah berfirman: “Padahal mereka hanya diperintah beribadah kepada Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. al-Bayyinah [98]:5).
Dengan ikhlas, amal yang kecil menjadi besar di mata Allah. Sebaliknya riya’ itu dapat mengkerdilkan amal besar menjadi seperti debu yang beterbangan tertiup angin, hilang dan sia-sia belaka. “Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. al-Furqan [25]:23).
Ikhlas itu penjaga kemuliaan hati, pikiran dan amal perbuatan. Umar ibn al-Khattab pernah menulis pesan kepada Abu Musa al-Asy’ari: “Siapa yang niatnya ikhlas, maka Allah akan mencukupkan apa yang menjadi haknya dan apa yang menjadi hak orang lain.” Polusi riya’ tidak hanya menggugurkan amal, melainkan juga potensial menjadi benih syirik yang semakin lama semakin membuat pelakunya defisit amal. Mukhlis senantiasa “memulangkan” segala balasan itu kepada Allah. “Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. as-Syu’ara [26]:109,127,145,164, dan 180).

Jadi, memahami hakekat ikhlas itu menjadi sangat penting, karena dapat meneguhkan benar dan murninya niat dalam segala hal. [islamaktual/sm/muhbibwahab]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top