Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Setelah muncul gerakan ekstrem ISIS yang kemudian mendirikan Islamic State (IS) di wilayah Iraq dan Suriah, keingintahuan masyarakat mengenai Islam dan konsep khilafah semakin besar. Tak bisa dipungkiri bahwa isu khilafah ini menimbulkan sikap pro dan kontra dari masing-masing elemen yang ada. Bahkan semua pihak saling memperkuat pendapatnya dengan dalil-dalil Islam.
Berikut ini sekedar intermezzo dari seorang ustadz muda Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Kairo Mesir. Beliau adalah Ustadz Wahyudi Abdurrahmi. Tulisan ini juga dimuat di website pribadinya almuflihun.com.
Belakangan, gerakan Islam yang ingin mendirikan Khilafah Islamiyah semakin meningkat. Tidak hanya terbatas pada Hizbu Tahrir saja, namun juga gerakan Islam semacam Ikhwan muslimin dan sempalan-sempalan dari gerakan al qaidah.
Jika dilihat dari sejarahnya, pada masa Rasulullah saw, Khulafaurasyidin dan Khalifah Bani Umayah, umat Islam hanya mempunyai satu  Khilafah saja. Sementara pada awal dinasti Abasiyah, dunia Islam sudah terpecah menjadi dua kekuatan besar, Khilafah Islamiyyah yang pertama berpusat di Baghdad Irak, sedangkan satu lagi Khilafah Islamiyyah Bani Umayah  berada di Cordova. Bahkan di akhir khilafah Abasiyah, umat Islam sudah tercabik-cabik menjadi beberapa Khilafah yang lebih kecil lagi.
Pasca Mongol menghancurkan Baghdad, dunia Islam makin tercabik-cabik. Praktis, setiap wilayah mempunyai pimpinan sendiri yang semuanya mengaku sebagai Khalifah.
Umat Islam kemudian dapat disatukan lagi pada masa Turki Usmani, itupun wilayah India dan juga dunia Islam sebelah Timur, yang secara geo politik tidak masuk dalam bawahan Khilafah Islamiyah. Akhirnya pada tahun 1924, Khilafah Islamiyah resmi dibubarkan oleh Mustafa Kalam Attaturk. Dunia Islam kembali terpecah-belah. Ini berlangsung  hingga saat ini.
Banyak gerakan Islam yang bercita-cita agar Khilafah Islamiyah kembali didirikan. Memang ide yang sangat bagus. Hanya nampaknya kita perlu realistis bahwa saat ini sudah bukan masanya ekspansi wilayah kekuasaan dengan kekuatan militer. Jika penyatuan negara Islam dengan cara itu, maka yang terjadi adalah perang saudara.
Apalagi banyak dunia Islam dibawah bayang-bayang kekuatan asing, baik kekuatan yang di Barat maupun yang di Timur.
Menyatukan dunia Islam dengan satu pucuk pimpinan dan menjadi satu kesatuan dalam satu tatanan negara, menjadi hal yang sangat sulit.
Namun bisa saja kita ambil spirit dari Khilafah itu sendiri, yaitu persatuan umat Islam. Semua sepakat bahwa dunia Islam harus bersatu. Banyak manfaat yang akan didapatkan dengan bersatunya dunia Islam. Persatuan tersebut tidak harus dengan cara meleburkan antara satu negara dengan negara lainnya. Karena ini akan sangat sulit terwujud. Kesatuan negara Islam dapat dilakukan dengan membentuk suati wadah bersama antar negara Islam.
Sesungguhnya wadah tersebut sudah ada, yaitu OKI. Tinggal kemudian OKI dimanfaatkan secara maksimal, dilakukan berbagai kerjasama antara negara-negara Islam, baik dalam bidang ekonomi, politik, militer, sosial budaya, pendidikan, dan lain sebagainya. Sang Khalifah nantinya bergilir  dari satu negara ke negara yang lain.
Jika ini terjadi, sama artinya Khilafah itu sudah terbentuk dengan sendirinya tanpa kita harus melakukan ekspansi militer.
Kita contoh saja Uni Eropa, bagaimana kumpulan sekian negara tersebut dapat bersatu dan saling kerjasama. Meski demikian, setiap negara mempunyai kekhasan sendiri. Ada budaya lokal yang tidak perlu harus diberangus dengan jargon persatuan. Ada pasar bersama, mata uang bersama, parlemen bersama dan lain sebagainya. Sekarang, meski tetap banyak negara, mereka sudah bagai satu negara.

Itulah barangkali Khilafah Islamiyah yang saat ini lebih realistis. Semoga dengan bersatunya umat Islam, dunia Islam tidak mudah tercabik-cabik dan umat dapat tegak berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa dunia lainnya. [islamaktual/almuflihun]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top