Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Negara asalku Perancis. Tahun ini merupakan tahun terakhir aku di Indonesia karena masa penelitian disini telah berakhir. penelitianku ini mengejar gelar Doktor dalam ilmu kesehatan. Aktivitas di dunia kesehatan yang kupilih ini telah menyebabkan banyak konsentrasiku terpengaruh oleh corak kebudayaan ilmiah yang tidak banyak memberikan kesempatan dalam bidang kerohanian.
Tapi ini tidak berarti bahwa aku tidak percaya atas adanya Tuhan. Yang kumaksud ialah karena dogma-dogma dan peribadatan dalam agamaku dulu, tidak membangkitkan pengertian dalam jiwa atas adanya Tuhan. Karena itulah maka logika dan naluriku atas Esanya Tuhan Allah telah menjadi penghalang antara pribadi dan kepercayaan Trinitas yang kuanut. Latar belakang keluargaku adalah Katholik.
Sebelum memeluk agama Islam, sejatinya aku telah percaya atas kebenaran kalimat syahadat pertama yang berbunyi Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah dan ayat-ayat al-Qur’an dalam Surat Al Ikhlas yang berbunyi: “Katakanlah; Dia itu Allah adalah Satu (Esa); Allah adalah Pelindung. Dia tidak melahirkan anak dan tidak pula dilahirkan sebagai anak, dan tidak ada sesuatu yang menyerupai Dia.”
Oleh sebab itu secara otomatis aku percaya kepada alam gaib dan segala yang ada di belakang kebendaan (metafisika) itulah yang menuntunku memeluk agama Islam, disamping sebab lain yang membuka pintu hidayah sehingga aku berbuat demikian. Aku tidak bisa menerima pengakuan para pendeta yang mengatakan, salah satu kekuasaan atau kewenangan mereka ialah ‘mengampuni dosa manusia’ sebagai Wakil Tuhan.
Dan secara mutlak aku juga tidak percaya atas dogma Katholik tentang ‘makan malam ketuhanan’ (rite of communion). Dogma ini menyerupai kepercayaan rakyat-rakyat pada abad primitif yang membuat lambang-lambang suci yang tidak boleh didekati orang. Kemudian bila badan lambang ini sudah mati, akan dijadikan sebagai sumber ilham bagi penganutnya.
Soal yang lain lagi yang menyeretku jauh dari agama Nashrani, ialah ajaran-ajarannya yang sedikitpun tidak ada hubungannya dengan kebersihan badan. Terutama sebelum melakukan ibadah menyembah Tuhan, sehingga kuanggap hal itu merupakan pelanggaran atas kehormatan Tuhan. Karena sebagaimana Dia telah meniupkan ruh, Dia juga telah menciptakan tubuh kita. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk tidak menyia-siakan badan kita.
Menurut hematku, agama Kristen itu bersikap pasif mengenai logika kehidupan jasmani kemanusiaan, sedangkan Islam adalah satu-satunya agama yang memperhatikan alam kemanusiaan.
Satu hal lagi yang menjadi alasan pokok kenapa aku memilih untuk memeluk Islam, yakni kitab suci al-Qur’an. Sebelum masuk Islam, aku getol mempelajarinya dengan semangat kritik intelektual Barat, dan karena itu wawasanku tentang Islam banyak terpengaruh oleh sebuah buku besar karangan Tuan Malik Bennabi yang berjudul Addzahiratul Quraniyyah (atau Le Phenomene Coranique).
Sehingga hal itulah yang semakin meyakinkanku bahwa al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan Allah. Sebagian dari ayat-ayat al-Qur’an yang diwahyukan lebih dari puluhan abad yang lalu mengandung beberapa teori yang sekarang ditemukan oleh pembahasan ilmiah yang paling modern. Hal itu sudah cukup mengarahkan pandanganku menjadi yakin dan percaya (iman) kepada syahadat kedua: Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Begitulah, maka pada tanggal 29 februari 2005, aku datang ke Mesjid di Paris untuk memberitahukan keimananku kepada Islam, dan Imam Masjid Paris memasukkan dalam daftar kaum Muslimin. Alhamdulillah, aku menerima nama baru sebagai Muslim, yakni Muhammad Selman. Namun biasanya orang menyebutku Selman Adam.
Rasanya puas tak terkira dengan kepercayaan atau aqidah yang baru dan sekali lagi kukumandangkan: Asyhadu An Laa ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah!

Salah satu sabda Rasulullah SAW yang menjadi pedomanku dalam menjalani hidup ini adalah “Berpikir satu jam lebih baik daripada beribadah 60 tahun.” (Riwayat Abu Hurairah). Dan “Pengetahuan itu milik orang Mukmin yang hilang, dimana saja dia menemukannya, dia lebih berhak atasnya.” (HR Turmudzi). [islamaktual/tabligh/selamnadam]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top