Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Tidak semua orang mengenal wakaf, padahal wakaf merupakan salah satu instrumen keuangan syariah yang bermanfaat untuk kepentingan orang banyak. Sehingga dengan hadirnya asset yang diwakafkan, akan mampu mempermudah hajat hidup orang banyak.
Perlu diketahui bahwa wakaf sebagai salah satu instrumen keuangan syariah, sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Dari data yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama pada tahun 2011, aset wakaf mencapai 60 milyar dollar US atau setara dengan Rp. 660.000 trilyun (republika.co.id).
Besarnya potensi wakaf di Indonesia, merangsang kita untuk mensosialisasikan kepada masyarakat, tentang pentingnya wakaf untuk kesejahteraan ummat. Agar banyak masyarakat yang berpartisipasi mewakafkan sebagian harta yang dimilikinya.
Mengembangkan Wakaf Tunai
Wakaf dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja, karena wakaf merupakan perbuatan yang dilakukan oleh seorang wakif (orang yang berwakaf), untuk menyerahkan sebagian atau keseluruhan harta yang dimilikinya, dengan tujuan beribadah kepada Allah SWT.
Apabila mengacu pada hukum positif, khususnya Undang-Undang Nomor 41, Tahun 2004 tentang Wakaf, wakaf merupakan perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya, untuk dimanfaatkan selamanya, atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya, guna keperluan iabdah dan/atau kesejahteraan umum menurut Syari’ah.
Dari pengertian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa semua harta yang bisa diambil manfaatnya, dapat dijadikan sebagai objek wakaf. Sehingga timbul diversifikasi wakaf -yang intinya, wakaf bukan saja berupa harta mahal seperti tanah dan bangunan, akan tetapi berlaku untuk semua harta, yang nilai pokoknya tetap namun manfaatnya bisa dipergunakan.
Diversifikasi wakaf ini, akhirnya diperjelas oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang merupakan lembaga resmi pengelola wakaf. Adapun barang-barang yang dapat diwakafkan yaitu benda bergerak dan benda tak bergerak. Benda bergerak terdiri dari uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak atas kekayaan intelektual, hak sewa, dan benda bergerak lain yang sesuai dengan ketentuan syari’ah, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sedangkan benda tidak bergerak terdiri dari hak atas tanah, bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah, tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah, hak milik atas satuan rumah susun seusai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, dan benda tidak bergerak lainnya sesuai dengan ketentuan syariat dan perundang-undangan yang berlaku.
Ada satu hal yang sangat menarik dari kriteria wakaf yang dijelaskan oleh BWI, yaitu mengenai wakaf uang. Dimana wakaf uang ini merupakan wakaf yang sangat mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Apalagi ketika dikorelasikan dengan perkembangan zaman seperti sekarang ini, yang orang-orangnya tak lagi ingin repot. Tentu kehadiran wakaf uang yang mulai diperkenalkan ke masyarakat, akan menjadi solusi dan juga alternatif yang sangat efektif untuk membangun ekonomi ummat.
Wakaf uang inipun dipertegas oleh MUI, dengan dikeluarkannya Fatwa tentang Wakaf Uang pada tahun 2002, bahwa wakaf uang merupakan wakaf yang dikeluarkan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai, termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.
Salah satu yang menjadi pertimbangan dikeluarkannya fatwa ini, wakaf uang memiliki fleksibilitas (keluwesan) dan kemaslahatan besar yang tidak dimiliki oleh benda lain. Sehingga dengan menggunakan wakaf uang, dana masyarakat yang dikumpulkan dalam bentuk wakaf akan bermanfaat bagi masyarakat lainnya.
Dengan demikian, salah satu peranan kita sebagai umat Islam ialah memasyarakatkan wakaf tunai. Karena adanya wakaf tunai tidak memerlukan harta yang banyak, mulai dari yang terkecil hingga yang paling besar. Bayangkan saja jika setiap individu mampu mengeluarkan wakaf tunai, anggap saja per orang mampu mewakafkan uang tunai sebesar Rp. 10.000 per minggu. Tentu, jumlah dana yang terkumpulkan akan sangat banyak.
Peranan Bank Syariah
Bank syariah sebagai lembaga keuangan syariah yang memiliki dua fungsi, yaitu sebagai lembaga intermediary dan juga sebagai pengumpul dana sosial, sudah seharusnya lah menggandeng Badan Wakaf Indonesia (BWI) dalam melakukan sosialisasi wakaf tunai pada masyarakat. Sehingga msyarakat mengetahui bahwa ada wakaf yang sangat fleksibel dan bisa dikeluarkan oleh siapa saja, mulai dari jumlah rupiah terkecil hingga terbesar.
Memang benar untuk saat ini ada 12 Lembaga Keuangan Syariah (LKS), yaitu Bank Syariah Mandiri (BSM), BNI Syariah, Bank Muamalat Indonesia, Bank DKI Syariah, Bank Mega Syariah, BTN Syariah, Bank Bukopin Syariah, BPD Jogja Syariah, BPD Kalimantan Barat Syariah, BPD Jateng Syariah, BPD Riau Syariah, dan Bank Jatim Syariah yang berfungsi sebagai Penerima Wakaf Uang (PWU).
Namun, rasanya ke 12 Lembaga Keuangan Syariah (LKS) tersebut kurang efektif. Karena masih banyak masyarakat muslim yang belum mengerti dan paham tentang wakaf uang. Maka dari itu, hendaknya BWI memperluas kerjasama dengan semua LKS yang ada di Indonesia untuk melakukan sosialisasi. Sehingga masyarakat mengetahui bahwa uang pun bisa menjadi objek wakaf, yang pada akhirnya akan meningkatkan penrimaan wakaf di Indonesia. [islamaktual/tabligh/hamlisyaifullah]


data pendukung :

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top