Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kaum muslimin dan umat-umat lainnya sangat mencintai Rasulullah. Beliau adalah sosok “uswah hasanah” (QS. al-Ahzab : 21), teladan dari segala teladan hidup yang terbaik. Allah menjuluki kemuliaan Nabi sebagai “berakhlak aqgung” (QS. al-Qolam : 4). Akhlak Rasulullah itu al-Qur’an, ujar Siti ‘Aisyah. Kaum kafir Quraisy pun memberinya gelar Al-Amin, sosok paling terpercaya nan sejati.
Di belakang sebutan Nabi akhir zaman itu selalu termaktub kalimat do’a, “shallallahu ‘alaihi wa salam”, artinya “semoga Allah memberikan shalawat serta salam kepadanya”. Allah memang memerintahkan umat untuk bershalawat kepadanya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzab : 56).
Nabi wafat pada hari Senin bulan Rabiul Awal tahun ke-12 hijrah bertepatan tanggal 6 Juni tahun 632 Masehi. Keluarga dan seluruh umat berdua. Di tengah kabar sedih yang mendalam itu, muncul sosok yang karena cintanya kepada Nabi seakan tak percaya Rasulullah dipanggil ke haribaan Allah. Dialah Umar bin Khattab, sahabat Nabi pemberani, lugas, cinta rakyat dan ksatria.
Tatkala mendengar kabar duka dan sempat menjenguk Nabi yang tengah berbaring ditutupi burd hibarah (kain bersulam dari Yaman), Umar hanya mengira Rasul pingsan atau dipanggil Allah untuk sementara. Umar menyebut orang yang mengabarkan Nabi wafat sebagai dusta, seraya berkata di hadapan para sahabat, “Ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah wafat. Tetapi, demi Allah sebenarnya dia tidak meninggal, melainkan ia pergi kepada Tuhan, seperti Musa bin Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya selama empat puluh hari, kemudian kembali lagi ke tengah mereka setelah dikatakan dia sudah mati. Sungguh, Rasulullah akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa dia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong”.
Para sahabat bingung dengan sikap Umar yang tidak percaya Nabi wafat. Umar demikian cintanya kepada Nabi, boleh jadi terguncang hatinya. Akhirnya, tibalah Abu Bakar ash-Shiddiq untuk menenteramkan Umar dan meyakinkan para umat yang mulai terpengaruh oleh ucapan Umar. Setelah mengucap puji dan syukur kepada Allah, sebagaimana ditulis Haekal, Abu Bakar berkata, “Saudara-saudara, barangsiapa mau menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu hidup selamanya, tak pernah mati.” Kemudian Abu Bakar membacakan ayat al-Qur’an, yang artinya, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran : 144).
Umar tertunduk, lalu menyadari bahwa Nabi memang telah wafat. Kecintaan, kesetiaan, dan ketaatannya kepada Rasulullah membuat dirinya terguncang tatkala tahu Nabi yang dikasihi Allah itu telah tiada. Namun Abu Bakar dengan kearifan dan kecerdasannya mampu meluluhkan perasaan sahabatnya itu, sekaligus menegakkan keimanan akan qadha dan takdir Allah atas hukum kematian yang berlaku pada siapapun.

Apa yang disampaikan Abu Bakar mengandung pesan ajaran Islam yang utama. Bahwa manusia beriman tidak boleh mengkultuskan manusia, lebih-lebih hingga membelokkan keimanan yang lurus untuk bertauhid dan beribadah hanya kepada Allah semata. Apalagi pengkultusan terhadap manusia biasa, yang secara absolut tak layak disejajarkan dengan Nabi nan agung dan para sahabat pilihan. Pengkultusan terhadap manusia, apakah dia dianggap wali atau pemimpin yang baik, selain merusak akidah juga mematikan akal sehat. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top