Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Keringat dingin mulai mendarat di kening,
nafas pun tak beraturan, jantung berdetak cepat.
Aku gugup ketika getar bibir ini berikrar syahadat.

Di samping kanan, duduk adik sepupuku menjadi saksi. Ia menatapku lembut. Pandangannya tenang, seolah memberi semangat agar aku bisa menyelesaikan kalimat syahadat yang akan ku ikrarkan. Jauh di tempat berbeda, melalui telepon genggam, calon suamiku juga menyimak apa yang sedang kujanjikan dengan Allah SWT itu. Tiba-tiba air mata menetes deras mengaliri lekuk pipi saat ikrar tuntas kuucapkan. Bukan kesedihan yang kurasa, tapi kelegaan yang luar biasa.
Kupendam rasa itu selama 10 tahun lebih. Islam telah membuatku jatuh cinta sejak masa sekolah dasar (SD). Setiap ada pelajaran agama Islam, aku selalu mengikutinya. Padahal sebenarnya guru mengijinkan murid non-muslim meninggalkan kelas. Namun, ada hal menarik dalam Islam yang membuatku ingin tetap di dalam kelas.
Entah apa yang kurasa saat itu, yang pasti dengan tinggal di kelas, aku senang bisa mendengarkan penjelasan tentang Islam. Ketika menyimak lantunan ayat suci al-Qur’an saat teman-teman mengaji, aku merasakan kedamaian yang tak pernah ada di tempat ibadahku sebelumnya. Bisa dibilang, sejak saat itu hatiku sudah condong pada Islam. Tapi sayangnya, tiada keberanian yang sanggup mendorongku untuk mengutarakannya pada orangtua.
Kejadian di tahun 2003, saat aku kelas 2 SMP, merupakan alasan yang sekejap ‘mengerdilkan’ keberanianku. Ayah marah besar! Lewat secarik surat, beliau menuliskan pesan untuk kakak perempuanku. Isinya, Ayah tidak mau lagi menganggap kakak sebagai anaknya. Sebab kakak masuk Islam.
Aku menangis tak percaya. Dalam hati kecil, sebenarnya aku marah atas perlakuan Ayah terhadap kakak. Di samping itu, aku pun takut jika nantinya aku mengikuti jejak kakak yang masuk Islam, Ayah akan melakukan hal yang sama padaku. Aku masih terlalu kecil untuk menerima segala pertentangan hebat yang mungkin akan terjadi nanti.
Ayah adalah sosok yang tegas pendirian dan keyakinan. Hal itu pula yang diturunkan pada ketiga anaknya, terlebih soal keyakinan. Meski bukan tergolong orang yang fanatik terhadap agama, Ayah terbilang rajin beribadah dan mempertahankan tradisi keluarga pada kepercayaan Katholik.
Tapi bagiku itu bukan hal aneh. Sebab dalam silsilah keluarga, hanya ayah dan kakak perempuannya saja yang memegang kepercayaannya itu. Sedangkan Ibuku, dulunya adalah seorang muslimah.
Sesungguhnya keputusan Ibu berpindah pada agama Katholik tidak direstui nenek. Namun, ibu bersikeras dengan pilihannya. Karena itulah, nenek berdoa agar cucu-cucunya kelak dapat kembali dalam dekapan Islam. Tak heran jika neneklah orang yang paling mendukungku memeluk Islam. Nenek pula yang menjadi inspirasiku untuk belajar Islam.
Suatu siang kamar nenek tampak remang. Tak banyak sinar matahari masuk ruangan itu. Satu-satunya jendela di kamar itu yang mampu ditembus cahaya. Dari dekat, kudengar sayup suara nenek melantunkan bacaan dalam bahasa Arab yang sama sekali tak kumengerti.
Meski begitu, sebenarnya aku tahu kalau nenek sedang menjalankan ibadah shalat. Dalam keheningan, mataku tertegun memperhatikan gerakan demi gerakan yang dilakukan nenek. Hatiku terpesona oleh gerakan shalat itu. “Aku ingin bisa shalat seperti nenek,” bisik hatiku.
Hari demi hari, rasa ingin tahu tentang Islam semakin menggelora dalam hati. Sampai pada suatu siang, Agustus 2010, dengan ditemani sepupuku, aku pergi ke Masjid Al-Falah Surabaya untuk bertanya pada seorang ustadz tentang Islam. Setelah mendapat jawaban yang semakin memantapkan hatiku, ustadz pun langsung membimbingku mengucapkan ‘ikrar’ menjadi muallaf.

Ayah marah besar, setelah tahu kabar keislamanku. Selama setengah tahun ayah tak sudi bertegur sapa denganku. Meski begitu, aku berusaha meyakinkan ayah atas keislamanku, lewat shalat yang teratur dan ibadah lainnya. Kini, meski ayah sudah mau berbincang denganku, namun dari mimiknya masih tersirat rasa kecewa yang mendalam. Aku hanya bisa berharap suatu saat nanti ayah dan ibuku dapat kembali berada dalam dekapan ajaran Allah SWT ini. Semoga Tuhanku yang Maha Kuasa mendengar jerit hati ini. [islamaktual/alfalah/brigitanovita]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top