Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Adakah kegiatan dakwah itu mengalami kegagalan? Apakah seseorang yang mengajak orang lain agar kembali ke jalan yang benar tetapi orang yang diajak tidak mau, itu berarti dakwah yang tidak berhasil? Kebanyakan orang akan dengan cepat menjawab, benar, dan banyak orang yang merasa dakwahnya telah gagal. Sementara ada seorang teman menjawab, mungkin saja ada da’i (mubaligh) yang gagal, tetapi tidak ada kegiatan dakwah yang sia-sia.
Agaknya memang tidak mudah menjawab dua pertanyaan tersebut, karena setiap aktivitas dakwah ada banyak aspek yang terlibat. Terlebih jika kita membaca kisah-kisah Rasulullah Muhammad dan kisah-kisah Nabi dalam al-Qur’an yang sebagian umat menolak dakwahnya, tetapi bukan berarti para Rasul itu gagal.
Menurut Muhammad A. Khalafullah (2005), setiap gerakan dakwah akan berhadapan langsung dengan salah satu dari dua tipologi umat. Pertama, kelompok orang atau umat kehilangan jangkar spiritual, sehingga mereka sulit untuk maju atau kembali ke keadaan yang lebih baik. Mereka terlanjur terjerat oleh kebiasaan-kebiasaan, budaya dan tradisi lama yang telah berurat berakar (QS. Yasin [36]:6). Kedua, kelompok orang atau umat yang jiwanya memang siap menerima dakwah dan berkemauan menjadi lebih baik. Mereka sangat senang dan bahkan berharap agar ada orang yang lebih berpengetahuan membimbing ke jalan yang benar (QS. Yasin [36]:11).
Jadi, kegiatan tabligh atau dakwah juga dipengaruhi oleh kondisi masyarakat atau orang yang diajak. Masyarakat tipologi pertama cenderung bereaksi menolak, apatis, dan bahkan memusuhi ajakan dakwah. Terhadap kelompok ini, Allah telah menggariskan bahwa tugas da’i hanya menyampaikan, terlepas apakah orang dapat hidayah atau tidak dari apa yang disampaikan itu bukan urusan da’i, hidayah semata-mata atas kehendak Allah. “Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau mendapat petunjuk.” (QS. al-Qashash [28]:56).
Dalam hal inilah, jawaban teman tadi ada benarnya, bahwa ada da’i (mubaligh) yang gagal, tidak semua da’i/mubaligh berhasil. Maksudnya da’i/mubaligh yang berputus asa, kehilangan semangat, tidak melanjutkan misi dakwahnya lantaran beratnya tantangan yang dihadapi. Atau bisa jadi gagal menjadi da’i karena ketidakmampuan memilih cara, bahas, metode yang tepat dengan sasaran dakwahnya.
Oleh karena itu, kita tidak boleh menjadikan ayat tersebut (QS. al-Qashash [28]:56 dan QS. al-Baqarah [2]:272) sebagai alasan untuk berdakwah secara asal-asalan, seadanya, dan tanpa perencanaan. Dalam waktu yang sama juga tidak boleh berpatah arang karena kesulitan yang dihadapi. Para da’i/mubaligh harus fokus pada semangat, strategi dan metode yang terus diperbarui agar pesan-pesan kebaikan dan kebenaran mudah diterima.
Dakwah dengan lisan yang masih mendominasi dalam kegiatan dakwah Islam perlu memilih kata-kata guna memperlihatkan dakwah yang lebih bijak, meminimalisir madlarat, dan menggembirakan. Bagaimanapun ajaran yang benar harus disampaikan dengan cara dan ujaran yang bijaksana. Cara dan kata-kata yang salah apalagi yang menimbulkan efek menyakitkan hati dapat menutup kebenaran dan kebaikan sehingga sulit diterima orang lain. Al-Qur’an mengingatkan, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diringi kata-kata yang menyakiti” (QS. al-Baqarah [2]:263).

Dakwah dilakukan dengan baik (da’wah bilihsan), dengan memilih cara terbaik dan terorganisir sehingga dampak destruktif dapat terhindarkan. Al-Qur’an menegaskan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl [16]:125). [islamaktual/sm/m.jinan]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top