Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Suatu kali Rasulullah menemukan kurma di jalanan. Nabi mengambilnya, tetapi tidak memakannya. Lalu, Nabi bersabda, “Seandainya aku tidak khawatir bahwa kurma ini berasal dari sedekah, tentu aku sudah memakannya.” (HR. Bukhari-Muslim). Nabi memberikan uswah hasanah tentang sikap wara;, yakni menjauhkan diri dari segala sesuatu yang syubhat atau mubah, yaitu barang yang samar-samar, dan meragukannya. Perkara syubhat atau mubah harus dijauhi, lebih-lebih yang haram.
Abu Bakar ash-Shiddieq meneladani sikap wara’ atau kesahajaan Nabi. Dikisahkan oleh Aisyah, ayahnya itu mempunyai seorang hamba atau pelayan yang mengurus kharaj, yakni sesuatu yang ditetapkan oleh tuan yang harus dibayarkan oleh pelayannya sedangkan dirinya juga memperoleh bagian. Kala itu Abu Bakar datang menemui pelayannya itu dan memakan makanan yang dimiliki sahayanya itu.
Sahaya itu berkata, “Tahukah tuan makanan itu dari mana?”. Kata sahaya itu, dulu dirinya pernah menjadi kahin (dukun) dan makanan tadi diberikan oleh orang yang pernah ia berikan layanan perdukunan. Bukan kahin sesungguhnya, sekadar siasat mencari untung. Abu Bakar kaget, kemudian memasukkan jari tangan ke mulutnya hingga muntah. Makanan yang baru saja ia makan dimuntahkan kembali. Sahabat Nabi yang dikenal hartawan, dermawan, dan lembut hati itu tidak ingin perutnya kemasukan barang yang tidak jelas.
Pelajaran penting dari Nabi akhir zaman dan Abu Bakar ash-Shidiq itu ialah sikap hati-hati dan menjauhi segala barang, uang dan apapun yang meragukan atau syubhat. Orang kini menyebutnya sesuatu yang abu-abu. Uang hasil korupsi dan tindak pidana pencucian uang atau yang tidak halal dibagi-bagikan, yang terlihat bersih tetapi sesungguhnya syubhat hingga haram. Uang mahar atau transaksi politik atau sumbangan apapun yang tidak jelas dari mana asalnya termasuk ranah syubhat atau mungkin haram. Hal-hal syubhat itu sebaiknya dihindari, bukan didekati. Apalagi yang haram.
Namuni di dunia politik dan bisnis sering barang-barang syubhat itu bersliweran dan seolah halal. Maka tidak jarang muncul kedermawanan model baru, politisi dan pebisnis dengan mudah membagi-bagikan uang dalam jumlah besar, tanpa tahu dan memberi tahu dari mana asalnya. Umat atau rakyatpun senang menerimanya. Lalu, mekarlah kebiasaan politik uang, mahar politik, suap dan segala transaksi syubhat hingga haram.
Sikap wara’ mengajarkan agar mengambil sikap hati-hati dan menjauhi segala sesuatu yang bersifat syubhat. Nabi bersabda, “Sesungguhnya halal itu jelas dan haram itu jelas, dan yang diantara keduanya terdapat hal-hal yang mutasyabihat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak, maka barangsiapa menjauhi yang syubhat berarti dia telah membersihkan agama dan nama baiknya. Barangsiapa terjatuh dalam syubhat maka dia jatuh dalam haram…” (HR. Bukhari-Muslim dari an-Nu’man ibn Basyir).
Nasehat Nabi kepada Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’ maka engkau akan menjadi sebaik-baiknya ahli ibadah. Jadilah orang yang qona’ah maka engkau akan menjadi orang yang benar-benar bersyukur. Sukailah sesuatu pada manusia sebagaimana engkau suka jika ia ada pada dirimu, maka engkau akan menjadi mukmin yang baik. Berbuat baiklah pada tetanggamu, maka engkau akan menjadi muslim sejati. Kurangilah banyak tertawa karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.” (HR. Ibn Majah).

Kini semua berpulang pada diri masing-masing. Bertanya secara jernih pada kalbu yang paling dalam. Jika memiliki uang atau kekayaan dalam jumlah besar-besaran, dari manakah diperoleh? Nabi mengajarkan demikian kepada umatnya. Patokannya halal dan baik (halalan thoyyiban), serta tidak syubhat dan haram. Hanya hati bersih dan tidak tercampuri hawa nafsu yang mampu mengukurnya. Orang lain dapat diyakinkan akan kehalalan dan kebaikan harta yang sesungguhnya syubhat dan haram. Diri sendiri sungguh tidak dapat dibohongi. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top