Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kisah Ashabul Kahfi, sebagaimana yang dipaparkan di dalam kitab suci al-Qur’an, ternyata tetap relevan untuk dijelaskan di masa sekarang ini. Disaat manusia mengalami kegamangan ketika berhadapan dengan sistem dan budaya yang tak cukup kondusif untuk melahirkan keshalihan ritual, apalagi (keshalihan) sosial. Keshalihan ritual yang di masa kecil saya begitu akrab dengan keseharian anak-anak dan remaja, dan juga orang-orang dewasa, kini tengah memudar. Dan, bahkan dalam beberapa hal mengalami proses peminggiran yang cukup signifikan. Apalagi dalam konteks “keshalihan sosial”, yang dahulu menjadi ciri keber-Islaman umat Islam, kini semakin tak jelas wujudnya, karena digusur oleh sejumlah kecenderungan yang bernuansa ‘hubbud dunya’. Ditengarai bahwa spirit Ashabul Kahfi -kini- belum terlahir kembali.
Para mubaligh kita, baik di media televisi maupun mimbar-mimbar masjid, dengan berbagai caranya, selalu meneriakkan serangkaian kata: Zaman boleh saja berganti, waktu bisa saja berlalu. Tetapi ‘keimanan’ kita -sebagai seorang Muslim- harus tetap dalam, kokoh terpatri di dalam hati, hingga tiba saatnya kita menghadap Ilahi Robbi. Iman kita -yang ada di dalam hati- jangan pernah sedetikpun rapuh, apalagi lenyap ditelan arus zaman. Fitnah seperti apapun boleh saja terjadi pada diri kita, tetapi sikap istiqomah (keteguhan hati) kita dalam menjaga iman tak boleh terlewatkan.
Al-Qur’an pun menjelaskan, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl [16]:97). Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal shalih harus disertai iman.
Bahkan, dikisahkan dalam sebuah riwayat, bahwa Sufyan ibn Abdullah ats-Tsaqafi, salah seorang sahabat Nabi SAW, pernah memohon kepada beliau: “Wahai Rasulullah, berikan satu nasehat kepada diri saya tentang Islam, dan -dengan satu nasehat itu- saya tidak perlu lagi bertanya kepada siapapun selain Anda. Rasulullah SAW pun menjawab, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian bersikap istiqomahlah.” (HR. Muslim).
Sikap istiqomah, yang oleh Imam an-Nawawi -dalam Kitab Riyadhus Shalihin- dijabarkan sebagai: “Sikap konsisten dalam ketaatan kita kepada Allah”, saat ini -dan selanjutnya- benar-benar sangat diperlukan.
Untuk menghadapi hiruk-pikuk fitnah kehidupan kita, di saat ‘para setan’ tengah mendapatkan angin untuk bisa bermain cantik, dan para manusia ‘banyak’ yang tengah menjadi pecundang karena desakan kemauan hawa nafsunya, belajar untuk bersikap istiqomah dalam keberimanan kita ‘mutlak dibutuhkan’. Usulan saya konkret. Belajarlah pada Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang teguh memegang iman dalam situasi (zaman) yang penuh dengan kedzaliman dan kemunafikan. Dalam situasi seperti itu, mereka memutuskan untuk ber-’uzlah (memisahkan diri dari kerumunan para penentang syariat Allah), memohon keselamatan dan keteguhan iman kepada Allah (QS. al-Kahfi [18]:10,13,14), dan semua itu dilakukan karena sikap zuhud-nya, bukan karena (mereka) anti-dunia, tetapi lebih karena ingin membina kedekatan hatinya kepada Allah SWT, agar tidak terganggu oleh lingkungan-sosialnya yang tidak cukup kondusif untuk melahirkan keshalihan.
Kita -yang tengah hidup di zaman yang berbeda- pun bersikap sama. Bersikap istiqomah dalam ‘uzlah kita, ber-’uzlah dari ‘dunia’ dan seluruh perhiasannya, dengan tanpa ‘menyingkir’ dari realitas. ‘Uzalah dalam keramaian. Dalam makna, secara fisik kita boleh saja berteman dengan siapapun, tetapi -secara ruhani- memisahkan diri dari kerumunan setan yang selalu menjadikan dunia dan perhiasannya sebagai instrumen untuk menggoda setiap orang. Karena dunia dan seluruh perangkat perhiasannya -dengan kepiawaian para setan dalam memainkan perannya- kadang-kadang bisa membuat kita tidak mampu bersikap istiqomah dalam keberimanan kita. Bahkan, demi dunia seisinya, bukan tidak mungkin, seseorang yang semula bisa ‘bersikap zuhud’, tiba-tiba berubah perangainya menjadi seseorang yang ‘bersikap tamak’, seperti yang bisa kita lihat dengan kasat mata pada para ‘pecinta dunia dan seluruh perhiasannya’ dewasa ini.

Memang tidak mudah untuk bersikap istiqomah dalam lingkaran kehidupan yang penuh dengan bujuk rayu setan. Termasuk di dalamnya -meminjam istilah Sayyid Quthb- ketika kita berhadapan dengan sistem dan budaya jahiliyyah kontemporer. Tetapi, sebagai seorang muslim sejati, kita harus berani berteriak: “isyhadu bi anna muslimun [saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah] (QS. Ali-Imran [3]:64), dan membuktikan teriakan kita itu dalam tindakan nyata: “kapan pun, dimana pun, dan di hadapan siapapun, sebagaimana yang telah dibuktikan oleh para pemuda Ashabul Kahfi pada zaman yang berbeda”. Insya Allah. [islamaktual/sm/muhsinhariyanto]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top