Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


India, Bukan Indonesia
Beberapa catatan sarjana Muslim Arab memang mengidentifikasi kawasan yang mungkin merupakan Indonesia pada masa sekarang sebagai “india”. Meskipun demikian, menggunakan karya Abu Shalih Al Armini untuk mendukung teori kehadiran Kristen pada abad VII di Indonesia adalah kesalahan fatal. Secara jelas, Syeikh Abu Shalih telah mendeskripsikan tempat bernama India atau juga disebut al-Hindah. Sebuah tempat di mana penduduknya memiliki kepercayaan pemujaan terhadap Buddha, penyembah matahari, dan penyembah api. Wilayah ini dikelilingi laut dimana dari arah Mesir harus menggunakan kapal. Tempat bernama India ini merupakan daerah penyembahan berhala pada masa kuno yang berbatasan dengan Persia.
Dari deskripsi tersebut dapat dipahami bahwa “India” yang dimaksud ini benar-benar India secara definitif, tidak mungkin keliru dengan wilayah di Indonesia. Dengan demikian karya Abu Shalih al-Armini tidak memaksudkan negeri Fahsûr yang ada di India sebagai Pancur yang ada di Sibolga, Barus, Sumatera Utara.
Selain itu Abu Shalih juga melakukan kesalahan dalam mengidentifikasi India sebagai wilayah Abyssinia (Ethiopia). Kesalahan ini justru merupakan bukti bahwa India yang dimaksud merupakan India dalam makna definitif.
Kesalahan penyebutan India sebagai wilayah Abyssinia sebenarnya merupakan kekeliruan yang berasal dari era yang lebih kuno.
Kebingungan membedakan antara India dan Abyssinia ini juga telah terdapat dalam sejumlah literatur Yunani kuno. Sekali lagi, India yang dimaksud jelas tidak akan keliru dengan kawasan Indonesia. Sebab, meski ini “secara keliru”, wilayah Indonesia tidak pernah diidentifikasi sebagai “wilayah Abyssinia” sebagaimana India yang definitif.
Keberadaan Kristen Nestorian di India dapat dibuktikan pada sekitar abad VII ini. Cosmas Indiscopleustes, seorang pendeta Alexandria petualang pada abad VI, telah meninggalkan catatan keberadaan aktivitas Kristen di India. Dalam catatannya “Christian Topography” Cosmas menyebutkan terdapat sejumlah gereja di Malabar dan Ceylon yang dikelola pendeta dari Persia dan berada di bawah pengawasan seorang uskup Persia di Kalliana. Di sini jelas bahwa kekristenan di India mencakup kekristenan Nestorian, yang dianggap sebagai sekte heresy.[ Lihat E.O. Winstedt (ed.), The Christian Topography of Cosmas Indicopleustes (Cambridge University Press, Cambridge, 1909) hlm. 345]
Sebelum membahas tentang “Fahsûr”, Syeikh Abu Shalih al-Armini telah lebih dahulu membahas sejumlah kota lain di India seperti Kulam (Quilon) yaitu tempat dimana juga terdapat penganut Nashrani Nestorian. Di sana terdapat gereja dari Perawan Maria dan sejumlah orang suci lainnya.
Beberapa sarjana Katolik Roma percaya bahwa “makam St. Thomas”, salah satu murid Yesus ditemukan di Cathedral di Mailapur, daerah pinggir Madras. Namun apa yang dianggap sebagai bukti, menurut A.L. Basham, sejarawan India di University of London, tidak bisa memuaskan para sejarawan. Basham menyebutkan bahwa pergerakan missi yang cukup aktif di India dilakukan oleh sekte yang dianggap menyimpang, Nestorian.
Katolik terutama dari Serikat Jesuit baru masuk ke India pada abad XVI dan XVII.[ Lihat A.L. Basham, The Wonder that Was India: A Survey of the Culture of the Indian Sub-Continent Before the Coming of the Muslims (Grove Press, New York, 1953) hlm. 342-343].
Ketika para pelancong Eropa mengunjungi India mereka membuat catatan tentang adanya gereja di utara. Marco Polo, pada akhir abad XIII, melihat Gereja Suriah yang sering dianggap sebagai “makam St. Thomas”, sebutan yang populer diantara petualang. Namun gereja tersebut telah rusak.
Sebutan “makam St. Thomas” tersebut, menurut Basham, tidak dapat dibuktikan sebagai benar-benar makam “orang suci” tersebut dalam makna yang harfiah. Orang Kristen Syiria pada masa ini dan sebelumnya banyak mengadopsi adat istiadat Hindu. Penganut Kristen di Malabar ini bahkan sedang menuju proses menjadi sekte Hindu yang menyimpang (heterodox Hindu), sebagaimana Budha maupun Jaina. Kedatangan Serikat Jesuit pada sekitar abad XVI dan XVII masih sempat mencegah kemerosotan lebih lanjut dari proses ini. Hasilnya, satu seksi dari gereja Suriah itu bersedia menerima otoritas dari Roma. bersambung
Susiyanto-Penulis seorang pengajar dan penulis buku “Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa”
[islamaktual/hidayatullah]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top