Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Selama ini komunitas internasional melihat Arab Saudi adalah negara Islam yang seakan tidak peduli terhadap nasib muslim di belahan dunia lain yang tertindas. Agaknya pandangan ini harus segera dihapus.
Kerajaan Arab Saudi seperti dikutip hidayatullah.com saat ini telah memberikan iqama (ijin tinggal) kepada sekitar 170 ribu pengungsi Muslim Rohingya yang ada di negara itu. Bahkan, jutaan penduduk Muslim Rohingya lainnya saat ini tengah menjalani proses penerimaan iqama.
Abu al-Shamie Abdulmajid, pemimpin komunitas Rohingya menyatakan kegembiraan mereka atas peristiwa ini. Abu al-Shamie mengatakan bahwa pengakuan ini merupakan mimpi yang menjadi kenyataan untuk bisa menjadi penduduk sah yang tinggal di Arab Saudi.
Media-media di Arab bahkan memberitakan, ada sekitar 4 juta warga Rohingya yang berada di Saudi dan sekarang berhak untuk mendapat ijin tinggal.
Abu al-Shamie juga menegaskan, warga muslim Rohingya telah menjadi bagian dari Arab Saudi lebih dari 70 tahun. Mereka telah lama melakukan eksodus dari negaranya Myanmar untuk menghindari pembantaian etnis yang dilakukan ekstrimis Buddha di sana.
Dengan pemberian iqama ini, berbagai permasalahan yang menimpa muslim Rohingya akan segera berakhir. Saat ini dengan ijin tinggal yang diperoleh, warga Muslim Rohingya akan mendapat hak yang sama dengan penduduk Arab Saudi lainnya. Warga Muslim Rohingya dapat bebas mencari pekerjaan, mendapat layanan kesehatan serta menempuh jenjang pendidikan di sekolah pemerintah.
“Kami sekarang bisa bergerak bebas dan bergabung dengan sistem pendidikan umum, tidak lagi belajar di sekolah sumbangan swasta,” kata Abu al-Shamie.
Pemerintah Arab Saudi sejak tahun 1968 memang sangat mendukung warga Muslim Rohingya. Hal ini dibuktikan dengan penerimaan imigran pertama dari Myanmar oleh Raja Abdul Aziz. Bahkan, pada tahun 1980 saat pemerintahan Raja Saud, izin tinggal tetap dikeluarkan pihak Kerajaan Arab Saudi untuk para pengungsi Muslim Rohingya.
Saudi memasukkan warga Rohingya sebagai pendatang yang dilindungi. Artinya mereka kebal beberapa hukum dari peraturan kependudukan dan tidak ada yang boleh menyakitinya.
Mayoritas pengungsi Muslim Rohingya selama ini tinggal di sektar kota Mekkah. Mereka kebanyakan bekerja di bidang konstruksi serta mengajar hafalan al-Qur’an.
Abu al-Shamie menyatakan, bahwa saat ini para muslim Rohingya yang tinggal di Arab Saudi telah mengubur harapan mereka untuk bisa kembali ke Myanmar, tanah kelahiran mereka. Selama masih terjadi penindasan, pembantaian serta diskriminasi terhadap minoritas Muslim Rohingya di Myanmar akan sulit bagi pengungsi Muslim Rohingya untuk bisa kembali ke negaranya.
PBB menyebutkan, Muslim Rohingya adalah suku paling teraniaya di dunia. Myanmar tidak mengakui mereka sebagai warga negara, sementara penganut Buddha memusuhi mereka kendati mereka telah tinggal beberapa generasi di negeri itu.
“Mimpi kembali ke Myanmar telah sirna dari hati komunitas Rohingya karena ketiadaan paspor, terutama karena duta besar Pakistan dan Bangladesh menolak memberikannya. Ketakutan akan pengadilan dan penyiksaan terhadap Muslim juga membuat mimpi ini mustahil diwujudkan saat ini,” kata Abu al-Shamie. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top