Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kita tentu bersyukur kepada Allah, karena kita masih dapat bertemu dengan bulan Ramadhan tahun ini. Kesempatan ini hendaklah jangan kita sia-siakan, dibiarkan berlalu tanpa dimanfaatkan secara baik. Kita juga sudah menunaikan ibadah puasa fardhu yang termasuk Rukun Islam. Semoga kita dapat menjalani puasa Ramadhan tuntas selama satu bulan dengan iman dan ihtisab. Selain itu, hendaklah kita dapat pula mengisinya dengan berbagai amalan sunnah sesuai tuntunan. Dan masih banyak lagi, diantaranya hendaklah kita banyak mengaji dan mengkaji al-Qur’an yang terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Semua yang kita kerjakan itu dalam rangka mencapai ketakwaan atau meningkatkan kualitas diri sebagai muslimin dan mukminin. Sebab tujuan kita berpuasa, sesuai perintah Allah dalam QS. al-Baqarah [2]:183, agar kita bertakwa.
Kita berpuasa Ramadhan hakikatnya juga untuk mensyukuri nikmat karunia Allah yang terbesar dan menjadi mukjizat Rasulullah Muhammad SAW, yakni al-Qur’an. Al-Qur’an adalah Kitab Allah terakhir yang permulaannya diturunkan kepada Nabi terakhir, Muhammad SAW, pada bulan Ramadhan ketika beliau berusia sekitar 40 tahun sedang ber-tahannuts di Gua Hira. Demikianlah seterusnya wahyu Allah diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun dibawa oleh malaikat Jibril dan disampaikan kepada Rasulullah SAW. Al-Qur’an yang terdiri dari 114 surat dan 6.236 ayat adalah Kitab Allah yang tetap terjaga dan terpelihara (QS. al-Hijr [15]:9). Al-Qur’an, sebagai kitab suci terakhir, berlaku sepanjang dan sampai akhir jaman. Selain itu, kitab suci ini untuk seluruh umat manusia, bukan untuk bangsa dan suku bangsa tertentu. Sebab, Nabi Muhammad SAW, sebagai nabi terakhir dan Rasul penutup (QS. al-Ahzab [33]:40), diutus oleh Allah untuk segenap manusia (QS. Saba [34]:28).
Al-Qur’an adalah kitab yang komprehensif. Allah yang mewahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril mensifati al-Qur’an yang diturunkan-Nya untuk menjelaskan segala sesuatu (QS. an-Nahl [16]:89 dan QS. Yusuf [12]:111). Tentu saja secara garis besar dan tidak seluruhnya rinci. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang haq dan yang bathil (QS. al-Baqarah [2]:185). Itu tentu secara umum sedangkan yang secara khusus adalah untuk orang-orang yang bertaqwa (QS. al-Baqarah [2]:2). Bahkan kita meyakini bahwa al-Qur’an memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan menggembirakan kaum mukminin yang beramal shalih akan mendapat pahala besar (QS. al-Isra’ [17]:9).
Al-Qur’an sebagai petunjuk tidak beda atau sama artinya dengan al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Ibarat berjalan dan berkendaraan, orang perlu membawa gambar peta sebagai penunjuk arah yang menjelaskan keberadaan tempat yang hendak dituju. Apalagi dalam bepergian jauh menggunakan bus, kapal laut, atau kapal udara. Maka sopir, nahkoda atau pilot perlu membawa kompas. Agar tidak celaka, tidak tersesat jalan dan sampai tujuan dengan selamat. Nah, al-Qur’an sebagai pedoman hidup dapat diibaratkan sebagai kompas penunjuk arah. al-Qur’an yang didalamnya berisi ajaran yang komprehensif meskipun barulah prinsip-prinsip dasar sangat jelas memberi arah bagaimana melakukan sesuatu untuk mencapai keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan. Karena itu, al-Qur’an sebagai pedoman menjadi dasar (pegangan, penunjuk) untuk menentukan/melakukan sesuatu atau sebaliknya. Pedoman hidup ini jika ditaati dengan penuh pengertian, kesadaran, kesungguhan dan ketulusan akan menjamin dan mengarah bagi terwujudnya kehidupan yang baik. Hubungan manusia dengan Allah, dengan diri sendiri, keluarga, tetangga, masyarakat dan alam sekitar menjadi sangat baik.
Sebagai mukminin, kita wajib mengimani al-Qur’an. Kita pun harus banyak membaca al-Qur’an. Di dunia ini tidak ada kitab suci yang banyak dibaca bahkan dihafal oleh umat manusia kecuali al-Qur’an. Hal itu tentu baik dan positif, tapi jelas tidak cukup. Kita harus menyediakan waktu untuk mempelajari, mendalami, dan memahami al-Qur’an. Selanjutnya, kita harus mengikuti dan mengamalkan al-Qur’an. Kita menempatkan al-Qur’an menjadi sumber pertama ajaran Islam dan rujukan utama dalam pengamalan Islam. Disamping sunnah Rasul sebagai sumber dan rujukan yang kedua. Kita juga, sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW, berkewajiban untuk mendakwahkan al-Qur’an kepada semesta dimanapun kita berada. Sebab, al-Qur’an diturunkan untuk memberi peringatan kepada seluruh alam (QS. al-Furqan [25]:1).
Al-Qur’an adalah kitab yang diberkahi. Kita akan memperoleh keberkahan bila kita itba’ (mengikuti) dan mengamalkan al-Qur’an (QS. al-An’am [6]:155). Dikatakan mengikuti al-Qur’an, jika kita menempatkan dan menjadikan al-Qur’an sebagai imam atau panutan yang menuntun, membimbing dan memimpin kita. Sedangkan kita memposisikan diri mengikutinya di belakang, sebagai makmum. Memang demikianlah yang benar, al-Qur’an sebagai imam harus diletakkan dan berada di depan, tidak dibelakang. Sebab, kalau di belakang tidak lagi bernama imam, tapi makmum. Jangan dibalik! Kita tampil menjadi imam sedangkan al-Qur’an ditempatkan sebagai makmum. Jika ini terjadi, maka berarti kita membelakangi al-Qur’an.

Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup, mari kita imani sepenuh hati. Lalu sering kita baca, pelajari, dalami, dan pahami makna serta isinya. Kemudian kita ikuti, amalkan, dan kita dakwahkan. Dengan cara demikian akan membawa dan terjadi perubahan ke arah kebaikan. [islam aktual/sm/muchlasabror]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top