Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kehidupan masyarakat kita saat ini ditandai dengan kuatnya persaingan menguasai informasi dan berebut membangun opini. Sementara itu, informasi yang berlalu lintas, baik dari mulut ke mulut atau informasi lisan, melalui media elektronik dan cetak, maupun yang ada di pinggir-pinggir jalan ada yang benar sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Namun tidak jarang opini yang diinformasikan itu berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya, bahkan mungkin bertentangan sama sekali dengan realitas aslinya. Disinilah letak pentingnya untuk bersikap secara bersahaja terhadap segenap informasi yang sampai ke telinga kita, terlebih informasi yang mengarah pada pencitraan dan opini.
Pada dasarnya setiap informasi berlalu lalang perlu diuji tiga hal, yaitu apakah pembawa berita dapat dipercaya, bagaimana kebenaran isi berita, dan untuk apa sejatinya berita itu disampaikan. Bila merujuk kepada al-Qur’an ada sejumlah resep yang menjadi akhlak kaum Muslim dalam menerima informasi dan agar tidak terpedaya oleh berita yang belum tentu kebenarannya.
Pertama, terkait dengan pembawa informasi. Kepada pembawa informasi, al-Quran berpesan “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan sampaikanlah perkataan yang sadid (QS. al-Ahzab [33] : 70). Kata sadid berarti benar, bahwa semua ucapan apapun bentuk dan kandungannya, disamping harus sesuai dengan kenyataan juga harus menjamin sasarannya untuk tidak terjerumus ke dalam kesulitan, bahkan membuahkan manfaat.
Dalam khazanah Islam masalah kredibelitas pembawa informasi sungguh sangat detail kriterianya. Pembawa informasi dalam masalah keagamaan lebih ketat lagi seperti Ilmu Hadits yang menerapkan kritik sanad. Sementara pembawa informasi dari orang fasik, munafik, kafir, dan majhul atau orang tidak dikenal khalayak harus diragukan. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat [49] : 6).
Sebagian ulama ada yang melarang kita menerima berita (riwayat) dari orang yang tidak dikenal, karena barangkali dia adalah orang-orang yang fasik. Tetapi sebagian ulama lainnya mau menerimanya dengan alasan bahwa kita hanya diperintahkan untuk meneliti kebenaran berita orang fasik, sedangkan orang yang tidak dikenal (majhul) masih belum terbukti kefasikannya karena dia tidak diketahui keadaannya.
Kedua, menguji tingkat kebenaran isi informasi. Al-Qur’an mengajarkan dalam menyikapi kesahihan berita yang beredar agar tidak mengedepankan prasangka buruk (QS. al-Hujurat [49] : 12). Boleh jadi informasi itu benar boleh jadi salah. Prasangka awal tidak boleh dijadikan sikap akhir. Prasangka awal dijauhkan dari dasar utama dalam mengambil keputusan benar atau tidaknya isi berita. “Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (dlan) karena dlan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hal menguji kebenaran, al-Qur’an mengajarkan agar kita tetap adil dan objektif dari manapun asal berita itu. “Janganlah karena kebencianmu kepada suatu kaum sehingga kamu berlaku tidak adil (tidak objektif).” (QS. al-Maidah [6] : 8).
Ketiga, selain tuntutan kredibelitas pembawa berita dan kebenaran isi berita, yang tidak kalah pentingnya diuji adalah apa manfaat informasi disebarkan. Sudah barang tentu setiap informasi mengandung pesan-pesan yang disebarkan. Maka tugas kita adalah mencari adakah manfaat itu bagi kemajuan agama dan kekemanusiaan. Asas manfaat dan kemaslahatan harus disertakan dalam uji informasi karena pesan dari informasi boleh jadi untuk kalangan tertentu, usia tertentu, atau kelompok tertentu tidak tepat disampaikan.
Diriwayatkan Umar r.a melihat Abu Hurairah berjalan tergesa-gesa dan kemudian menegurnya, “Akan kemana, hai Abu Hurairah?” “ Ke pasar, menyampaikan apa yang kudengar dari Nabi, bahwa siapa yang mengucapkan laa ilaha illa Allah ia akan masuk surga,” jawab Abu Hurairah.
Umar menarik Abu Hurairah dan menemui Nabi SAW guna menguji kebenaran informasi tersebut. Akhirnya Nabi membenarkan. Namun demikian, Umar mengusulkan agar berita itu tidak disampaikan kepada sembarang orang karena khawatir menimbulkan kesalahpahaman dan Nabi menyetujui usul Umar.

Dari sini dikenal ungkapan li kulli maqam maqal wa likulli maqal maqam (untuk setiap tempat ada ucapan yang sesuai dan untuk setiap ucapan ada tempat yang sesuai). Boleh jadi ada kebenaran yang harus Anda tangguhkan penyampaiaannya demi kemaslahatan. Hal ini juga terkait dengan kemaslahatan dan kemudlaratan yang ditimbulkan dari informasi yang beredar kendatipun informasi itu benar adanya. Wallahu a’lam. [islamaktual/sm/mutohharunjinan]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top