Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Aku terlahir sebagai penganut Konghucu. Bisa dibilang, keluargaku adalah keluarga keturunan Cina totok. Di Kediri Jawa Timur, kota asal dimana aku dilahirkan, keluargaku cukup terpandang. Bahkan, mama dipercaya sebagai ketua kelenteng disana. Karuan saja, sejak kecil aku terbiasa ke kelenteng.
Tapi anehnya, aku tidak bisa begitu saja langsung mempunyai kemantapan untuk memeluk Konghucu. Kalau belajar, aku tak suka setengah-setengah. Malah, demi mencari ketenangan, aku pernah mendalami beberapa agama. Seperti ketika bersekolah di sebuah SD Katholik. Aku total mempelajarinya hingga beberapa tahun. Tapi, semakin mempelajarinya, aku merasa bukan itu yang kucari.
Berbagai kejadian pun kualami. Termasuk ketika harus menjalani hari-hari sebagai single parent untuk ketiga buah hatiku. Akupun memutuskan meninggalkan Jakarta, tempat aku dan keluarga kecilku saat itu tinggal.
Bersama ketiga anakku, aku pun memilih Surabaya sebagai tempat tinggal kami. Begitu tiba di Surabaya, aku mengenal dan mempelajari Buddha. Meskipun baru dua atau tiga kali datang untuk beribadah bersama di sebuah vihara, aku sudah bisa melafalkan doa-doa dan mantra-mantra dengan benar. Malah, ada yang bilang aku sudah seperti yang sudah lama memeluk agama Buddha. Tapi sekali lagi, dalam hatiku mengatakan, “bukan ini yang ku cari.”
Bagiku, berdoa itu merupakan cara kita berkomunikasi dengan Sang Pencipta kita. Tapi, yang selama ini kurasakan, komunikasi kok hanya searah. Tidak berasa ada balasan. Kalau begitu, lalu aku bisa mendapatkan petunjuk yang benar dari mana dan bagaimana caranya?
Pencarianku akan keyakinan pun terus kulakukan dengan total. Aku bersyukur dikaruniai kemampuan berpikir yang cukup bagus. Buktinya, ketika bersekolah di sebuah SMP negeri dan SMA negeri di Kediri, aku selalu menduduki juara pertama paralel.
Akhir Pencarian
Sungguh kasih sayang Allah SWT sangat besar. Saat itu aku belum menjadi muallaf, tapi Allah SWT beberapa kali menolong dan menyelamatkanku. Aku juga pernah mengalami kejadian aneh. Ketika itu, ada yang bertanya suatu bentuk kaligrafi bertuliskan bismillahirrohmanirrohim. Dan aku bisa begitu saja melafalkannya. Setelah ngomong itu, aku kaget sendiri. Saya tidak mengerti, kok tahu-tahu bisa menjawab begitu saja. Padahal, sekarang saja saya masih belajar mengaji terbata-bata. Setelah memeluk Islam, aku baru tahu kalau itu adalah hidayah dari-Nya.
Dulu, pengetahuanku tentang tentang Islam, bisa dibilang nol besar. Tapi, aku tertarik menjalani puasa Ramadhan. Tiga Ramadhan berturut-turut aku menjalaninya secara sembunyi-sembunyi dari mantan suami. Itu kulakukan ketika di Jakarta.
Suatu hari, seorang ustadz datang ke toko. Dari ustadz tersebut, aku banyak belajar. Termasuk bahwa setiap muslim bersaudara, dan bila ada yang mengalami kesulitan, harus saling membantu. Banyak sekali yang aku pelajari. Termasuk mengikuti pengajian-pengajian di masjid-masjid. Akupun merasa nyaman dengan berbagai aktivitas Islami tersebut.
Setelah mengikuti beberapa pengajian, mendorongku mempunyai keinginan besar untuk lebih mempelajari tentang Islam. Namun, sebelum memulai niat tersebut, ku sempat merasa down. Pasalnya, ada seseorang yang mengatakan kalau memerlukan waktu sangat lama untuk mempelajari Islam.
Hingga, pada akhir 2008, hatiku pun mantap untuk berikrar. Bersama ketiga buah hatiku tercinta, kami berikrar di Masjid Ampel Surabaya. Alhamdulillah, Allah SWT memudahkan dan ikrar kami lancar. Padahal, persiapan kami bisa dibilang tak terlalu lama. Kami berempat berlatih membaca kalimat syahadat hanya dalam waktu beberapa hari saja.
Dalam hatiku, sempat merasa takut dianggap mempermainkan agama Islam. Akupun sempat tidak berani terang-terangan sholat di tokoku. Yang kutakutkan adalah kalau ada yang bertanya tentang Islam, dan aku belum bisa menjawabnya. Nmun, seiring berjalannya waktu, aku terus belajar. Ustadz pun menumbuhkan kepercayaan diriku. Banyak yang kupelajari, termasuk tentang kewajiban muslimah untuk berhijab. Insya Allah istiqomah.

Saat ini, aku menyimpan harapan mudah-mudahan aku bisa menjadi muslimah yang semakin hari semakin baik. Dan semoga, aku bisa mendidik anak-anakku, Aileen, Arthur, Anthony dan semua keturunanku, agar nantinya menjadi hamba-hamba Allah yang baik dan bermanfaat bagi sesama. [islamaktual/alfalah/annyindarti]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top