Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Tergaet Islam Dari Buku Pinjaman


Mungkin orangtuaku menganggap aku sudah tidak bisa diarahkan lagi. Mereka lepas tangan dan menyuruhku keluar dari rumah. Ya, aku memang terbilang orang yang keras kepala. Tapi, apakah aku salah jika aku punya cara pandang yang berbeda dengan mereka? Bukankah sebuah keyakinan itu tidak bisa dipaksakan?
Dulunya, seminggu sekali aku terbilang rutin beribadah di tempat ibadah. Hal itu sudah merupakan kewajiban karena taat pada agama. Bagi keluarga, agama adalah hal yang vital dan harus selalu dipegang teguh.
Selama 27 tahun aku menjalani kehidupanku sebagai penganut Nasrani. Waktu yang cukup lama. Namun, entah mengapa aku tidak merasakan sebuah greget dalam diri. Setelah banyak mempelajari alkitab, lama-kelamaan aku merasa ada yang aneh. Jujur saja, ada satu ayat yang kuingat, yang justru menumbuhkan keraguan dalam benak ini.
Ayat itu menerangkan, menikah itu baik tapi lebih baik tidak menikah. Aku orang yang tidak setuju dengan pesan ayat itu. Atas dasar apa bahwa manusia lebih baik tidak menikah? Itu yang masih membuatku menyimpan segurat tanya.
Aku orang yang suka membaca dan mempunyai pikiran kritis. Bermula dari pinjaman buku Tafsir Al Misbah dari seorang teman, aku langsung tertarik untuk mempelajari Islam lebih dalam. Luar biasa, semua pemikiranku lebih banyak kecocokan dengan agama ini. Banyak hal-hal yang membuatku takjub dengan ajaran Islam.
Tuntunan-tuntunan Islam sangat sesuai dengan logikaku selama ini. Sejak itulah aku kian tertarik untuk mengorek nilai-nilai dalam agama Islam. Aku membandingkan kitab suci umat Islam dengan Nasrani. Setelah kubaca dengan seksama, aku mulai yakin bahwa Islam adalah kebenaran.
Akhirnya di usiaku yang menginjak 28 ini, aku memutuskan untuk memeluk Islam. Aku berikrar mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Nurul Syafi’i, Gedangan Sidoarjo. Senang rasanya, walaupun tanpa sepengetahuan orangtua.
Resmi menjadi muslimin, seketika aku mencari-cari buku tuntunan sholat. Karena dalam Islam, sholat adalah tiang agama, dasar untuk menjadi muslim sejati. Aku menemukan buku tuntunan sholat di kios penjual buku di pinggir jalan. Aku baca dan pelajari sendiri, aku begitu ingin mempraktikkannya.
Dengan percaya diri, aku memberanikan langkahku menuju ke masjid di kampung. Aku ikut sholat berjama’ah, mengikuti gerakan sholat orang-orang disana. Walau sempat berulang kali salah, namun aku begitu senang bisa mempraktikkannya.
Yang aku sayangkan, keislamanku ini membuatku jauh dengan keluarga. Ayahku geram, sehingga aku diusir dari rumah. Disaat seperti ini, aku hanya bisa meyakinkan istriku, menyuruhnya bersabar dalam menghadapi cobaan ini.
Aku yakin ini semua adalah proses, aku yakin suatu saat nanti hubunganku dengan orangtuaku akan membaik. Walaupun saat ini aku kos dengan istri dan seorang anak yang masih berusia 1,5 tahun, dengan kondisi yang serba pas-pasan, aku tetap bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Aku masih diberi kesehatan dan semangat untuk mencari nafkah.
Alhamdulillah aku masih mampu menghidupi keluarga kecilku. Harapanku hanyalah mempertahankan keislamanku sampai akhir hayat nanti. Aku ingin tetap menjaga ibadahku hanya untuk Allah. Sebagai tanda kebesaran-Nya.

Aku bersyukur atas hidup yang telah Allah SWT berikan. Doaku yang terdalam adalah, ingin mengislamkan keluargaku dan berharap hubunganku dengan keluargaku membaik. Amin Yaa Robbal ‘Alamin. [islamaktual/alfalah/nikodemuswilamaage]

Kejayaan Al-Azhar


Dalam blantika keilmuan, Al-Azhar merupakan universitas tertua, tidak hanya di kalangan umat Islam, namun di seluruh dunia. Universitas-universitas di Amerika dan Eropa baru didirikan dua abad setelah berdirinya Al-Azhar, sperti Universitas Paris (abad ke-12), Universitas Oxford di Inggris (abad ke-13).
Al-Azhar Tempo Dulu
Pada awalnya, perguruan tinggi Al-Azhar adalah sebuah masjid yang tidak jauh berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya. Masjid ini dibangun oleh Panglima Jauhar al-Shiqily pada 972 Masehi di bawah arahan Khalifah al-Muiz.
Atas perintah al-Muiz, Jauhar al-Shiqily telah mendirikan kota baru yang disebut al-Qahirah (Kairo) yang berarti “kota kemenangan”. Tujuan pendirian kota ini untuk menampung keperluan administrasi pemerintah dan tentara Berber. Kota Kairo pada masa-masa selanjutnya dijadikan sebagai ibukota Khilafah Fatimiyah. Dari al-Qahirah inilah, atas instruksi al-Muiz, Jauhar al-Shiqily membangun masjid yang didedikasikan untuk penyebaran kebudayaan, ajaran, dan pemikiran Syiah. Masjid tersebut diberi nama al-Azhar yang pada masa-masa berikutnya berubah menjadi universitas dan didaulat sebagai universitas Islam tertua di dunia.
Masjid al-Azhar dibangun pada tahun 361 H/972 M. Al-Azhar ini merupakan masjid pertama di Kairo dan masjid keempat di Mesir, setelah masjid ‘Amr ibn ‘Ash, masjid ‘Askar, dan masjid Ahmad ibn Thulun. Pada 365 H/976 M dibuka kegiatan belajar-mengajar dan majelis ilmu pengetahuan bermadzhab Syi’ah Ismailiyah di masjid ini. Abu Hasan bin Nu’man al-Maghribi mengajarkan kitab al-Iqtishar yang tidak lain karya ayahnya sendiri. Kitab ini berisi masalah-masalah fiqihiyah yang berpegang kepada iman ahlu al-bait. Selain Abu Hasan bin Nu’man al-Maghribi, saudara kandungnya yang bernama Abu Abdillah Muhammad bin Nu’man, pada tahun 385 H, turut pula membantu mengajarkan ilmu-ilmu ahlu al-bait. Dalam perkembangan berikutnya, ilmu-ilmu yang dipelajari di al-Azhar seperti ilmu Naqliyah atau Syar’iyah dan Aqliyah atau Hukumiyah, kadang disebut juga dengan ilmu ‘Ajam. Adapun yang termasuk ilmu Naqliyah antara lain: Fikih, Hadits, Tafsir, Nahwu, Lughah, al-Bayan, Adab, Ilmu Tafsir, Ilmu Qiro’at, Ilmu Hadits, dan Ilmu Kalam. Sedangkan yang termasuk ilmu Aqliyah adalah: Filsafat, Arsitektur, Ilmu Nujum, Musik, Kedokteran, Syair, Kimia, Matematika, Sejarah dan Geografi.
Dalam perkembangan berikutnya, al-Azhar telah menduduki posisi untuk membangkitkan kehidupan peradaban Mesir. Terutama yang berkaitan dengan dakwah Fatimiyah sejak masa Khalifah al-Aziz Billah. Pada masa itu, semangat umat Islam mulai bangkit untuk mempelajari ilmu-ilmu munadzarah dan mengkaji fikih syi’ah. Jami al-Azhar saat itu telah menjadi pusat ilmu pengetahuan dengan membawa misi menyebarluaskan dakwah Fatimiyah sampai dibangunnya Jami’ al-Hakim bi Amirillah. Sistem halaqah-halaqah yang ada merupakan dasar studi di al-Azhar.
Kekuasaan khilafah Fatimiyah berakhir setelah meninggalnya Khalifah al-Adhid Lidinillah pada tahun 567 H/12 September 1171 M. Shalahuddin al-Ayyubi memegang tampuk kekuasaan Mesir dan sejak saat itulah mulai berkuasa keluarga Ayyubiyyin. Shalahuddin al-Ayyubi mengambil kebijakan baru dengan menutup seluruh aktivitas di al-Azhar secara total. Hal tersebut dilakukan untuk membersihkan pengaruh-pengaruh Syiah yang lama dikembangkan pada masa penguasaan Dinasti Fatimiyah. Pada masa Shalahuddin, dihapuslah madzhab Syiah dari Mesir dan diganti dengan madzhab Sunni.
Al-Azhar Modern
Pada akhir abad ke-20, Universitas al-Azhar mulai memandang perlunya mempelajari sistem penelitian yang dilakukan universitas-universitas di Barat. Universitas ini mengirim alumni terbaiknya untuk melanjutkan studi ke Eropa dan Amerika. Tujuan pengiriman ini adalah untuk mengikuti perkembangan ilmiah di tingkat internasional, sekaligus upaya perbandingan dan pengukuhan pemahaman Islam yang benar. Cukup banyak duta al-Azhar yang berhasil meraih gelar Ph.D dari universitas luar tersebut, di antaranya ialah: Syeikh Dr. Abdul Halim Mahmud, Syeikh Dr. Muhammad al-Bahy, dan lainnya.
Sebelumnya, pada tahun 1930 M, keluar Undang-undang No. 49 yang mengatur al-Azhar mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, dan membagi universitas menjadi tiga fakultas, yaitu: Syariah, Ushuluddin, dan Bahasa Arab. Saat ini, al-Azhar telah mempunyai 41 fakultas, 19 fakultas di antaranya berada di Kairo dan selebihnya berada di berbagai provinsi di Mesir.
Fakultas-fakultas al-Azhar putera terdiri dari: 1) Fakultas Ushuluddin masa kuliah selama empat tahun, dengan jurusan-jurusan sebagai berikut: Tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur’an, Hadits dan Ilmu Hadits, Akidah Filsafat, Dakwah, dan Peradaban Islam; 2) Fakultas Syariah dengan jurusan sebagai berikut: Program Under Graduate, dengan jurusan: Syariah Islamiyah (4 tahun), Syariah dan Hukum (5 tahun), Program Post Graduate, dengan jurusan: Ushul Fiqh, Perbandingan Madzhab, Perbandingan Hukum, Sosial Politik; 3) Fakultas Dakwah dengan jurusan-jurusannya baru ada pada Post Graduate: Perbandingan Agama dan Kebudayaan Islam; 4) Fakultas Studi Islam dengan jurusan pada Post Graduate; 5) Fakultas Bahasa Arab dengan jurusan: Bahasa Arab dan Adab (Umum), Sejarah dan Peradaban, Pers dan Informasi. Untuk fakultas-fakultas umum, terdiri dari: Fakultas Bahasa dan Terjemah, Fakultas Perdagangan/Ekonomi, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Pasti, dan Fakultas Pertanian.
Adapun Fakultas-fakultas al-Azhar Puteri sebagai berikut: 1) Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab dengan jurusan: Syariah Islamiyah, Ushuluddin, dan Bahasa Arab; 2) Fakultas Studi Sosial; 3) Fakultas Kedokteran; 4) Fakultas Ilmu Pasti; 5) Fakultas Perdagangan; dan 6) Fakultas Farmasi.
Pada setiap fakultas al-Azhar terdapat dua program: pertama, Program Under Graduate/S-1, dengan masa kuliah minimal empat tahun. Lulusan program ini mendapat gelar Lc. (licence). Masa aktif kuliah dimulai pada bulan September sampai Desember dengan ujian term I pada bulan Januari. Kemudian dilanjutkan pada pertengahan Februari sampai Mei yang diakhiri dengan ujian term II pada bulan Juni. Bagi yang belum lulus untuk mata kuliah al-Qur’an diberi kesempatan mengulang di bulan Agustus. Pada program ini mahasiswa dituntut untuk: 1) lulus pada setiap mata kuliah, apabila tidak lulus lebih dari dua mata kuliah dianggap tidak naik tingkat dan harus mengulang mata kuliah yang tertinggal di tahun berikutnya. Kesempatan mengulang selama dua tahun berturut-turut, kalau masih gagal juga akan diberhentikan (mafsul/DO); 2) menghafal al-Qur’an sebanyak 2 juz untuk setiap tingkat bagi mahasiswa asing non-Arab.
Kedua, Program Post Graduate (Dirasah Ulya), dibagi dalam dua program. Program Magister (Master), dengan masa pendidikan selama dua tahun setelah Lc, ditambah 2 tahun penulisan thesis. Untuk meraih gelar Master dituntut supaya hafal al-Qur’an 30 juz bagi orang Arab dan 8 juz bagi non-Arab. Wajib lulus setiap mata kuliah pada ujian lisan dan tulisan yang diadakan dalam dua gelombang setiap tahunnya. Jika tidak lulus dalam satu mata kuliah harus mengulang seluruh mata kuliah pada gelombang selanjutnya, dan diberi kesempatan mengulang maksimal tiga tahun berturut-turut. Pada masa penulisan thesis harus mengajukan judul dengan kerangka pembahasan, setelah diterima kemudian ditentukan pembimbing. Program berikutnya adalah Program Doktor (Dr/Pd.D). Program ini berlaku hanya untuk lulusan Magister, dan diberi waktu untuk penulisan disertasi minimal dua tahun.

Di samping itu, al-Azhar juga mempunyai lembaga-lembaga pendidikan yang terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), I’dadiyah (setingkat SMP), Tsanawiyah (setingkat SMA), sekolah Pendidikan Guru, dan Institut Seni Membaca dan Menghafal Al-Qur’an. [islamaktual/sm/surawan]

Karena Jenggot, Muslim Uighur Dipenjara 6 Tahun


Perlakuan diskriminatif kembali dilakukan Pemerintah Komunis China terhadap komunitas Muslim Uighur. Kali ini Pengadilan di kota Kashgar wilayah Xinjiang China memvonis seorang Muslim Uighur dengan hukuman 6 tahun Penjara. Vonis ini dijatuhkan hakim karena sang terdakwa yang Muslim Uighur ini dianggap melakukan “provokasi masalah” dengan menumbuhkan jenggotnya.
Tak sampai disitu, pengadilan reim komunis China ini juga menjatuhkan hukuman terhadap istri pria berusia 38 tahun itu dengan hukuman 2 tahun penjara karena mengenakan cadar, demikian dikutip dari aa.com.tr.
“Pasangan Muslim Uighur tersebut dinyatakan bersalah karena dianggap memilih pertengkaran dan memprovokasi masalah,” ujar pejabat setempat Ahad (29/3) lalu.
Pejabat daerah tersebut mengklaim telah melakukan peringatan terhadap pasangan itu sebelum dijatuhi hukuman. Diketahui bahwa sang pria telah memanjangkan jenggotnya sejak tahun 2010.
“Sejak awal tahun ini, sejumlah orang melanggar peraturan mengenai jenggot, cadar dan burqa telah dituntut dan dihukum,” kata pejabat pengadilan China.
Menurut pihak otoritas komunis China, menumbuhkan jenggot secara luas dianggap praktik yang terkait dengan ekstremisme.

Seperti diketahui, selama ini Pemerintah Komunis China diketahui sering melakukan diskriminasi terhadap kaum Muslim Uighur yang menjadi minoritas dan banyak tinggal di daerah Xinjiang. [islamaktual]

Muhammadiyah : Pemblokiran Situs Islam Tak Mendidik!


Usaha pemblokiran yang termuat dalam surat yang diduga dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) mendapat kecaman berbagai pihak. Kecaman itu salah satunya datang dari anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Mustofa B. Nahrawardaya. Mustofa menyatakan bahwa tindakan Kemkominfo menutup situs media Islam atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dianggap tidak mendidik.
Menurut mantan anggota dewan ini, 19 situs media Islam yang diblokir banyak diantaranya justru tidak mengajarkan radikalisme. Hal ini menurut Mustofa lebih tepat disebut pemberangusan media Islam.
Ia mengkhawatirkan jika seluruh situs media Islam diblokir, maka pemberitaan tentang terorisme yang selama ini berkembang di Indonesia akan berat sebelah.
“Banyak informasi penting yang tidak disampaikan media mainstream dalam pemberitaan terorisme, seperti saat tertuduh diberitakan melakukan perlawanan, padahal hal itu tidak terjadi,” ungkapnya melalui rilis Senin (30/3) seperti dikutip dari islampos.com.
Menurutnya, pemblokiran terhadap situs media Islam akan menjadikan pembodohan massal terhadap masyarakat. Hal ini karena pola pemberitaan dibiarkan tanpa ada pembanding, yang selama ini peran itu dilakukan oleh situs media Islam terhadap pemberitaan media mainstream.

“Artinya, pola sumber tunggal dalam berita terorisme akan lebih kuat posisinya. Boleh dibilang, ada upaya permanen pembodohan publik berkedok pemberantasan terorisme,” tegasnya. [islamaktual]

Menag : Saya Tak Tahu Soal Blokir Situs Islam


Beredarnya informasi mengenai pemblokiran 19 media online Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) membuat Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin angkat bicara. Lukman mengaku jika tak tahu menahu masalah pemblokiran situs media Islam tersebut.
Dalam akun twitter-nya, Lukman sibuk menjawab pertanyaan sejumlah netizen perihal peran Kemenag dalam pemblokiran situs-situs tersebut.
“Dengan penjelasan ini saya tegaskan bahwa Kemenag tak terlibat sama sekali dalam proses pemblokiran situs-situs tersebut,” kicau Menag dalam akun twitter-nya Senin (30/3) seperti dikutip hidayatullah.com.
Dalam tweet-nya, Lukman juga meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk segera memberikan keterangan resmi perihal informasi pemblokiran situs-situs media Islam tersebut.
“Penjelasan resmi BNPT itu diperlukan agar masyarakat mengetahui definisi dan batasan radikal itu seperti apa,” tegas Menag.
Seperti diberitakan sebelumnya, beredar luas di masyarakat sebuah surat yang diduga dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) kepada penyelenggara ISP agar melakukan filtering terhadap 19 situs media Islam yang diduga merupakan situs penggerak radikalisme dan/atau sebagai simpatisan radikalisme.

Beberapa situs berita Islam ternama seperti hidayatullah.com, panjimas.com dan dakwatuna.com masuk dalam daftar pemblokiran. [islamaktual]

Memerankan Diri Sebagai "Sang Imam"


Di sebuah acara pengajian, ada seorang ustadz menyatakan: “Seseorang tidak dianjurkan menjadi imam, apabila jamaah tidak menyukainya”. Pernyataan ini secara spontan dinyatakan sang Ustadz tanpa menyebut dalilnya. Setelah usai pengajian itu saya pun tertantang untuk mencari dalilnya. Ternyata saya temukan sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari (sahabat) Abdullah bin Abbas.
Dinyatakan dalam Hadits tersebut bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
Ada tiga golongan yang tidak terangkat shalat mereka di atas kepala mereka meskipun satu jengkal (maksudnya: “tidak akan pernah diterima shalat mereka”), yaitu: seseorang yang mengimami suatu kaum sedang mereka (yang diimami itu) benci kepadanya, dan seorang istri yang bermalam sedang suaminya marah kepadanya, dan dua orang yang saling memutus (tali) persaudaraan” (HR Ibnu Majah, Sunan ibn Majah, II/115, dari Abdullah bin Abbas).
Secara tekstual hadits di atas bisa dipahami, bahwa siapapun yang dibenci oleh makmum, bisa ditolak keimamannya. Dan oleh karenanya, dengan alasan apapun, ‘dia’ dianggap tidak layak untuk diposisikan sebagai imam shalat.
Saat ini, kebencian terhadap seseorang bisa tumbuh dari berbagai sebab, bahkan dari sebab yang sangat ‘remeh-temeh’ (sederhana). Misalnya, “karena yang bersangkutan dipersepsikan oleh sebuah komunitas masjid tertentu sebagai imam yang kurang toleran terhadap kehendak jamaah”. Bisa jadi hanya karena terlalu seringnya membaca ayat-ayat al-Qur’an yang terlalu panjang atau -bahkan- karena terlalu banyak thuma’ninah, sehingga geraknya terkesan lamban dan shalatnya pun terkesan lama. Jika terdapat alasan yang cukup signifikan untuk dipahami oleh jamaah, sebenarnya bisa dimaklumi. Tetapi, bila alasan yang dikemukakan oleh para jamaah tidak cukup signifikan dan sama sekali tidak relevan untuk dijadikan sebagai sebuah alasan untuk membencinya, maka resistensi jamaah itu pun semestinya perlu dipertanyakan.
Para ulama, pada umumnya, menyatakan bahwa tidak ada dalil yang menjelaskan dan membatasi keumuman pernyataan Rasulullah SAW di atas. Sehingga, berpijak pada nalar ‘ibaratun nash (makna literal), kita bisa menerapkan kemutlakan Hadits di atas sebagai pijakan untuk menolak kehadiran Sang Imam itu. Tetapi, bila kita pahami berdasarkan relevansi maknanya (iqtidhaun nash) yang terkait dengan posisi kepemimpinan Sang Imam bagi para makmumnya, maka seharusnya kita kembangkan pemahamannya pada konteks kepemimpinan Sang Imam bagi para jamaahnya secara lebih ‘kritis’. Kita bisa (saja) mengkhususkan makna kebencian para jamaah itu berkaitan dengan sebab yang relevan, misalnya: “Sang Imam” mendapatkan resistensi sosial dari para jamaahnya karena persoalan muru’ah-nya, seperti para jamaah membencinya karena Sang Imam adalah seseorang yang kurang berhati-hati untuk menghindari perbuatan maksiat dalam kehidupan sehari-hari, atau pernah terpantau ---meskipun hanya sekali--- oleh para jamaahnya ‘pernah’ melalaikan kewajiban asasi yang telah dibebankan kepadanya, mislanya: “pernah mengimami shalat jamaah dengan dalam keadaan sangat terlambat”, padahal ---sebelumnya--- Sang Imamlah yang pernah menekankan aturan baku dengan menyatakan secara terbuka pada para jamaah (berkali-kali, sebagai perwujudan komitmennya untuk menjadi uswah hasanah): Seorang imam, sama sekali tidak boleh --sekali pun hanya sekali, tanpa udzur syar’i-- memberi contoh yang tidak baik dalam melaksanakan tugasnya sebagai imam, dengan misalnya ‘menimbulkan keresahan para jamaah karena terlambat’ hadir dalam shalat jamaah, sehingga para jamaah harus menunggunya.
Dalam hal ini, penulis berpendapat, bahwa ‘jika’ tidak ada dalil yang mengkhususkan sebab kebencian tersebut, maka yang lebih utama, bagi siapapun -yang telah memosisikan dan (bahkan) diposisikan sebagai imam oleh para jamaahnya- yang telah mengetahui bahwa para jamaahnya telah membencinya -tanpa sebab yang jelas atau karena sebab yang jelas, apalagi sebab yang bersifat syar’i- agar tidak memaksakan diri dan -juga dipaksakan- untuk menjadi imam bagi para jamaah. Dengan pertimbangan mashlahat, “meninggalkannya lebih besar pahalanya daripada melakukannya”. Tetapi jika dengan pertimbangan lain, ternyata ada nilai kemashlahatan yang lebih besar jika ‘dipaksakan’, maka keputusan untuk meninggalkan ‘peran’ sebagai imam pun bisa dikoreksi ulang. Hingga ‘Sang Imam’ pun harus memiliki kecerdasan untuk memilih, dengan berupaya memperbaiki diri agar citra dirinya di hadapan para jamaahnya menjadi lebih baik, dan pada akhirnya bisa diterima kehadirannya sebagai ‘Imam’ bagi para jamaahnya: “tetap menjadi imam atau tidak” demi kepentingan yang lebih penting. Bukan saja bagi para Imam shalat jamaah (yang terkait langsung dengan masalah ibadah), tetapi (juga) para imam dalam berbagai ragam kehidupan muamalah-duniawiah.

Dalam “Fikih Prioritas” disebutkan pilihlah yang terpenting di antara yang penting. [islamaktual/sm/muhsinhariyanto]

4 Pertanyaanku Sebelum Memilih Islam


Ketika aku sedang serius menggeluti pencarian kebenaran ini, datanglah seorang teman yang kebetulan adalah seorang Muslim. Ia datang dan membawa al Quran lengkap dengan terjemahannya. Ia memintaku untuk membaca terjemahan isi al Quran agar aku lebih memahami Islam dari aspek kitab sucinya.
Aku pun mulai berpikir terbuka. Semua hal yang berhubungan dengan Islam atau Saksi Yahuwa aku kumpulkan dan aku baca serta aku renungkan, hingga hati kecilku meyakini dan membenarkan akan ajaran Islam. Hanya saja saat itu aku belum berikrar masuk Islam karena baru sebatas mengetahui bahwa Islam mengajarkan hal yang benar, saat itu tahun 2008.
Pada tahun 2009 aku pergi meninggalkan Bogor. Kota dengan julukan Kota Hujan ini ternyata tidak cocok bagi orang sepertiku. Aku harus pergi karena pekerjaan yang kulakukan di sana banyak berhubungan dengan dunia yang semu ini. Kemudian aku berpikir untuk pindah ke Cisalak.
Sejak meninggalkan Bogor, berbagai hal yang berkaitan dengan informasi ruhani terputus disebabkan situasi dan kondisi yang serba terbatas. Tahun 2010 aku berpindah lagi untuk yang kesekian kalinya. Hidupku benar-benar seperti kisah seorang pengelana yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Nomaden, tidak ada tempat untuk menetap. Di tahun inilah aku berpindah ke tempat kakak kandungku di Mampang Jakarta Selatan. Di situlah aku mulai membangun semangat beribadah yang selama ini mulai surut.
Aku yang masih beragama Katolik, terkadang bangun pagi-pagi untuk mengikuti misa harian atau misa pagi yang rutin dilakukan pukul 06.00 WIB. di gereja Santa Maria yang terletak di Blok Q. Di gereja, aku menuangkan segala pemikiran yang selama ini ada padaku. Sekalipun hati kecilku mengetahui bahwa ada kebenaran yang hakiki dalam kehidupan ini, namun aku masih menganut keyakinanku yang lama.
Keyakinan inilah yang selalu ditanamkan pastor kepadaku, dan kami semua. Inilah yang membuatku sulit untuk meninggalkan agama lamaku karena memang masih ada sisa-sisa keyakinan dalam diriku. Meskipun demikian, aku masih punya keyakinan akan kebaikan yang disebarkan oleh pastor kepada kami yang tidak mudah kami tinggalkan begitu saja, khususnya dalam beribadah yang sudah dibangun sejak kecil serta akan kenangan dalam didikan dan pengajarannya.
Pelan tapi pasti, mungkin inilah yang dapat kukatakan saat keyakinanku akan Katolik mulai berguguran. Pada Misa akhir pekan atau Misa umum, yang pada waktu itu banyak diisi oleh jemaat gereja, timbul pertanyaan kritis dalam benakku, khususnya mengenai adab umat Kristiani yang datang ke gereja. Sungguh berbeda dengan adab ketika umat Muslim berada dan beribadah di Mesjid.
Setidaknya waktu itu muncul empat pertanyaan dalam benakku; Pertama, mengapa di gereja ketika beribadah beberapa orang dari para jemaah sempat-sempatnya bermain handphone? Padahal mereka kan sedang berhadapan dengan Tuhan. Bila berhadapan dengan sang pencipta langit dan bumi saja sudah seperti itu, bagaimana ketika berhadapan dengan yang lain? Jika berhadapan dengan manusia bisa sesopan mungkin, sedangkan menghadap Tuhan tidak, maka sudah pastilah mereka merendahkan posisi Tuhan dibanding dengan manusia.
Kedua, mengapa para wanita yang pergi ke gereja banyak mengenakan pakaian yang kurang sopan, apakah Tuhan menyukai ketidaksopanan mereka dalam berpakaian? Lantas inikah yang diajarkan Tuhan kepada hamba-Nya? Sungguh ini adalah sebuah jalan menuju perbuatan dosa. Mereka yang datang dengan mengenakan rok mini dan pakaian ketat malah akan memancing penglihatan para laki-laki sehingga bukan malah beribadah, justru akan membuat mereka berpikiran yang tidak baik selama di dalam gereja.
Ketiga, mengapa ketika Misa ada yang mengobrol antara laki-laki dengan perempuan, sebenarnya niat mereka itu untuk beribadah atau hanya sarana agar bisa saling curhat di gereja? Jika gereja sama dengan tempat curhat, maka sudah barang tentu gereja akan berubah menjadi tempat hiburan duniawi yang nantinya akan mendatangkan berbagai mudarat bagi manusia. Kempat, mengapa ibadah yang umat Kristiani lakukan itu cenderung pasif. Seperti tidak membawa dampak apapun dalam kehidupan sehari-hari.
Di gereja hanya bernyanyi, mendengarkan musik, dan jika ada juga mendengarkan khotbah. Ini seakan ada dalam sebuah pesta yang mana ada presenter, ada musik dan ada nyanyian. Sungguh ini membuat hatiku bingung dan gundah gulana.
Beranjak dari berbagai pertanyaan inilah hatiku mengalami ketidakpuasan dalam beribadah. Aku mulai mengingat pembelajaran akan Islam yang mengajarkan doa dengan adab dan tata cara yang baik yang dapat menghindarkan diri dari berbuat maksiat.
Dari buku yang kubaca, Islam mengajarkan tata cara beribadah dengan baik. Dalam ibadahnya, umat Muslim ketika melakukan ibadah yang utama seperti salat, tidak pernah terlihat ada yang bermain handphone. Ini disebabkan jika seorang Muslim bermain handphone ketika ia sedang shalat, maka batallah shalatnya.
Jelas sekali perbedaannya, jika dalam kebaktian khususnya saat menyanyikan lagu-lagu keruhanian, tidak jarang banyak jemaah yang sibuk dengan handphone mereka. Tidak ada yang membuka aurat, karena itu juga akan mengakibatkan shalat mereka tidak sah. Bahkan bila sedikit pun sudah pasti tidak akan sah shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan.
Barisan antara laki-laki dan perempuan dibedakan ketika melakukan shalat. Laki-laki berada menjadi imam di depan dan berturut barisan berikutnya juga laki-laki sedang kan perempuan berada di barisan setelah laki-laki. Sungguh inilah ibadah yang sebenarnya. Menghormati Tuhan karena Tuhan adalah pemilik semesta alam ini.

Jadi, cara beribadah seorang hamba harus benar-benar menunjukkan kemuliaan terhadap sang penciptanya. [islamaktual/sp]

Menteri ESDM : Masyarakat Ga Usah Ribut BBM Naik


Naik turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebaiknya tidak usah lagi terlalu diributkan oleh masyarakat. Hal itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said di Istana Negara. Menurutnya, penentuan harga BBM sudah mengikuti mekanisme pasar, sehingga masyarakat Indonesia jangan lagi meributkan persoalan  itu.
"Tapi kan sebenarnya yang harus kita pikirkan ke depan adalah membangun ketahanan energi, bukan membicarakan persoalan kenaikan-kenaikan harga BBM ini," tegas Sudirman, Senin (30/3) seperti dikutip okezone.com.
Dijelaskan pula bahwa hal penting yang saat ini perlu dilakukan adalah memperbaiki pola dalam hal penentuan harga BBM. Karena kenaikan BBM ini juga hanya konsekuensi dari pengalihan subsidi ucap Sudirman.
Sudirman mengakui bahwa pemerintah akan menjalankan mekanisme perubahan harga BBM dalam setiap bulan. Masyarakat nantinya harus siap akan adanya perubahan harga di bulan-bulan berikutnya.
"Kan sudah sering disebutkan setiap bulan akan ada peninjauan dan saya kira sebelum diputuskan juga orang sudah tahu kok harga minyak dunia naik, kurs Rupiah terhadap dolar AS relatif melemah. Jadi dua faktor itu sebagian besar masyarakat sudah paham," tukasnya.

Seperti diketahui, sejak 28 Maret 2015, harga Premium kembali dinaikkan Rp 500 per liter menjadi Rp 7.300 per liter dari harga sebelumnya Rp 6.800 per liter untuk wilayah diluar Jawa Madura Bali (Jamali). Sedang di dalam wilayah Jamali harga Premium menjadi Rp 7.400 per liter dari harga sebelumnya Rp 6.900 per liter. Harga Solar menjadi Rp 6.900 per liter naik dari harga sebelumnya Rp 6.400 per liter. [islamaktual]

Puluhan Mahasiswa Indonesia Diculik di Yaman


Krisis keamanan di Yaman antara Pemerintah dengan pemberontak Syiah Houthi berimbas kepada mahasiswa Indonesia disana. Diperkirakan ada 23 mahasiswa Indonesia yang diculik oleh kelompok pemberontak Syiah Houthi. Hal ini disampaikan M. Akbar Maulana, Pelaksana Fungsi Protokol dan Konselor Dubes RI di Yaman.
“Info terakhir yang didapat sebanyak 23 Warga Negara Indoneisa (WNI) yang diculik oleh pemberontak Syiah al-Hautsi,” kata Akbar dikutip dari hidayatullah.com Ahad (29/3) kemarin.
Pengakuan dari teman mahasiswa yang diculik, ada sejumlah pria berpakaian aparat yang melakukan penggeledahan rumah mahasiswa. Alasan penggeledahan itu dilakukan untuk memeriksa kelengkapan dokumen seperti paspor dan izin tinggal. Mereka yang tidak memiliki kelengkapan izin tinggal kemudian ditangkap, ujar Akbar.
Para mahasiswa yang diduga diculik oleh pemberontak Syiah Houthi itu mengontrak rumah di sekitar tempat mereka belajar di daerah Sa’wan Sana’a.
“Jumlah mahasiswa Indonesia sendiri menurut data terakhir itu ada sekitar 2162 orang,” imbuh Akbar.

Hingga saat ini pihak Kedubes Indonesia sedang menelusuri kebenaran berita penculikan mahasiswa oleh pemberontak Syiah Houthi tersebut pungkas Akbar. [islamaktual]

Presiden Yaman Sebut Houthi 'Boneka Iran'


“Saya katakan kepada boneka dari Iran, mainan dan mereka yang mendukungnya, Anda telah menghancurkan Yaman,” ujar Mansour Hadi Presiden Yaman. Presiden Yaman mengeluarkan pernyataan itu di saat KTT Arab pada Sabtu (28/3) kemarin.
Mansour Hadi, juga telah mengecam teroris Houthi. Ia menyebut pemberontak Syiah Houthi sebagai “boneka Iran”.
Presiden mendesak tentara Yaman untuk melindungi lembaga-lembaga negara dan mematuhi perintah kepemimpinan yang sah di Yaman.
“Hadi tidak akan kembali ke negaranya untuk saat ini,” kata Menteri Luar Negeri Riyad Yasin seperti dikutip islampos.com. Menurut Riyad, Presiden Yaman tidak akan kembali ke Aden Yaman selama situasi krisis keamanan masih terjadi di Yaman.

Ditanya apakah pasukan darat akan diperlukan, ia berkata “Hal ini mungkin terjadi. Sangat mungkin.” [islamaktual]

Buku Agama di Jambi Lecehkan Sahabat Nabi


Setelah sebelumnya dihebohkan dengan buku pelajaran yang diduga berisi ajaran radikal, kali ini di kota Jambi ditemukan hal serupa. Sebuah buku pelajaran berjudul Sejarah Kebudayaan Islam Semester Genap Kelas X ditengarai melakukan penistaan terhadap Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah keempat itu digambarkan dengan bentuk menyerupai karikatur babi.
Tentu hal ini membuat kaget guru-guru di Kota Jambi. Salah satunya Guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Jambi. Para guru kaget melihat gambar penistaan terhadap Khalifah Umar yang gambarnya berada di halaman 12 buku dan diterbitkan oleh Rahma Media Pustaka.
Di halaman 12 tersebut, diterangkan tentang masa kepemimpinan Umar bin Khattab khalifah keempat di antara Khulafaur Rasyidin. Disitu diterangkan mengenai nasab atau garis keturunan dari Umar. Nasab yang digambarkan dengan silsilah keluarga yang berbentuk garis keturunan tersebut, kemudian sampai pada tulisan Umar digambarkan dengan bentuk yang mirip karikatur babi. Padahal, nasab keluarga di atasnya digambarkan dengan gambar menyerupai hati.
Pada keterangan nasab dengan gambar hitam putih ini diterangkan gambar tersebut juga diambil dari sumber ihadist.blogspot.com yang diakses pada 18 Desember 2014 pada pukul 13.55.
M. Zakri Kepala Sekolah MAN 3 Kota Jambi terkejut, karena gambar tersebut jika tidak diperhatikan dengan seksama memang tak terlihat mirip babi. Namun ketika diperhatikan lebih lanjut bidang lonjong tersebut terlihat adanya empat kaki, dilengkapi kuping, mata dan muncung hewan yang mirip babi yang sedang tersenyum.
“Sekilas memang tidak terlihat, tapi jika diperhatikan memang seperti itu,” ujaranya seperti dikutip islampos.com.
Kepsek juga menyebut bahwa para guru juga baru menyadari beberapa minggu ini. Meski para siswa tidak menyadari adanya gambar yang kontroversial tadi, namun adanya gambar itu telah meresahkan guru. “Kenapa tidak gunakan perumpamaan lain, itu yang kita sesalkan,” sebutnya.
M. Zakri mengatakan buku yang diambil dari distributor penerbit yang ada di Jambi ini akan segera ditarik dan tidak lagi digunakan.
“Akan kita tarik, yang punya LKS ini akan kita panggil, karena ini meresahkan, seperti ini kan gambarnya seperti penghinaan pelecehan harusnya tidak perlu ada gambar seperti ini,” sebutnya.
Meski ada gambar yang disebut melecehkan sahabat nabi namun menurut Zakri isinya tidak menyebutkan adanya penistaan terhadap sahabat tersebut. Dikatakan Zakri baru kali ini pihak sekolah menggunakan buku yang merupakan edisi I seri Pakem kelas 10 semester genap ini.
Ternyata penemuan kasus ini juga mengejutkan pihak Dinas Pendidikan Kota Jambi. “Astagfirullah, saya akan cek ke rekan di Depag,” ujar Sofyan, Sekretaris Diknas Kota Jambi.
Muhammad Iqbal, Kepala Kantor Departemen Agama (Depag) Kota Jambi juga mengaku terkejut dengan kabar ini. Menurutnya, tidak tahu apa maksud dari LKS tersebut menggambarkan Umar bin Khatab sebagai seekor babi.
Iqbal mengatakan akan segera menggelar rapat dengan pihak terkait mengenai LKS tersebut. Langkah yang diambil kemarin, pihaknya langsung menginstruksikan penarikan LKS dari semua siswa. Mulai hari ini, LKS tersebut tidak boleh lagi beredar.
“Kami juga akan surati sekolah-sekolah lainnya untuk memberi peringatan agar jeli dalam menggunakan LKS. Jangankan gambar, narkoba pun bisa diselipkan dalam buku,” tegas Iqbal.
Penggunaan LKS menurut Iqbal murni kebijakan sekolah. Depag, tidak tahu-menahu mengenai pemesanan LKS, sehingga pihaknya tidak bisa mengawasi penerbit mana yang ditunjuk untuk mengisi kebutuhan LKS di sekolah-sekolah.
Untuk MAN 3 ini sendiri, LKS SKI kelas X yang digunakan adalah keluaran penerbit Rahma Media Pustaka dari Semarang. LKS tersebut ditulis oleh Dr. Fattah Syukur, M.Ag. [islamaktual]

Mari Budayakan Salam!


Salah satu bukti keindahan dan kemuliaan Islam ialah adanya ajaran tegur sapa. Dengan tegur sapa, hidup terasa gayeng, karena relasi antar-sesama terjalin intim. Perhatikan, fenomena konflik di masyarakat sesungguhnya kerap mengemuka akibat minim tegur sapa. Sekiranya setiap pihak mau membudayakan tegur sapa dan tidak suka merasa paling benar, persoalan yang muncul tidak akan melebar kemana-mana. Purbasangka berbalut sikap enggan bertegur sapa itulah yang meletupkan percikan api amarah menjadi bara perseteruan dan dendam.
Islam mengajarkan budaya tegur sapa dengan ucapan salam, Assalamu’alaikum Wa rahmatullahi wa barakatuhu. Ucapan ini memang tampak sepele dan tidak dipungut biaya, tetapi nilainya sungguh luar biasa. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebarkan salam antar-sesama Muslim.” (HR. Muslim).
Mengucapkan salam, mengacu pada hadits di atas, boleh dikata merupakan perwujudan iman. Atau, dengan kalimat lain, ucapan salam itu budaya orang beriman, dan memang hanya orang berimanlah yang akan mampu membudayakan salam sebagai upaya menghidupkan sunnah Rasulullah. Perintah mengucapkan salam tidak berlaku kepada dan bagi selain orang beriman.
Ucapan salam juga memiliki dampak sosiologis luar biasa dahsyat. Salam yang diucapkan secara tulus dapat melahirkan sikap kekitaan dan kebersamaan. Inilah benih-benih kekuatan antar saudara seiman itu. Sebab, menurut sebagian ulama, kalimat ‘as-salam’ adalah salah satu asma Allah, sehingga kalimat ‘assalamu’alaikum’ berarti Allah bersamamu atau engkau dalam penjagaan Allah. Sebagian ulama lain mengartikan ‘as-salam’ sebagai keselamatan, sehingga kalimat ‘assalamu’alaikum’ bermakna semoga keselamatan selalu menyertaimu. Kedua pemaknaan itu, jika digabungkan akan berbunyi Semoga Allah senantiasa bersamamu sehingga keselamatan terus menyertaimu.
Era modern ditandai dengan teknologi serba canggih. Aneka perangkat digital bermunculan, seperti Facebook, Email, Twitter, Skype, Instagram, WhatsApp, Talk, Line, Yahoo Messenger, Camfrog, Viber, Tango, Telepon, SMS, Blackberry Messenger. Sejumlah perangkat modern itu sangat prospektif untuk membangun kekitaan dan kebersamaan dengan saling menebarkan salam. Sayang, kerap muncul kreativitas dari orang-orang modern untuk menyingkat kalimat salam yang mulia itu menjadi “askum”, “kumlam”,”lekum”,”asw”,”aslm” dan semisalnya.
Kalau alasannya malas, alangkah lebih baik kalau cukup mengucapkan “halo”,”hai”,”apa kabar” dan semisalnya. Kalau alasannya kalimat salam itu terlalu panjang, cobalah simak hadits dari Imran ibn Husain berikut. Dikisahkan, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan mengucapkan, “Assalamu’alaikum”. Setelah menjawab, Rasulullah bersabda, ”sepuluh”. Tidak lama, datang lagi orang kedua, yang memberikan salam, “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi”, setelah dijawab oleh Rasulullah, beliau pun bersabda “dua puluh”. Kemudian datang orang ketiga dan mengucapkan, “assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu”. Rasulullah menjawab, lantas bersabda, “tiga puluh” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi).
Terang sudah jawaban soal keluhan seputar panjangnya ucapan salam. Hadits itu sekaligus menjadi panduan bagaimana menyingkat salam yang mendapat garansi dari Rasulullah. Tiga pilihan itu, semuanya berpahala, sesuai tingkat kesempurnaan ucapannya. Lain dari tiga pilihan yang disebutkan dalam hadits itu, jelas tertolak.
Lantas, siapa yang dianjurkan memulai salam? Kata Rasulullah, hendaklah yang lebih muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, yang lewat memberikan salam kepada yang duduk, yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, dan yang diatas kendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan. Perintah mengucapkan salam bahkan berlaku ketika bertemu saudara sesama Muslim yang tiak kita kenal. Abdullah ibn Amr ibn Ash pernah berkisah, ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, “Islam bagaimana yang bagus?” Beliau lantas menjawab, “Engkau memberikan makanan (kepada orang yang membutuhkan), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Luar biasa. Ajaran Islam sungguh tidak melulu urusan ritual, tetapi juga menyangkut tata kehidupan sosial. Penting juga dicatat, hukum mengucapkan salam kepada orang lain memang Sunnah, tetapi menjawabnya adalah Wajib. Al-Qur’an tegas menyatakan, “Jika kamu diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (QS. an-Nisa [4]:86).

Saatnya kita budayakan ucapan salam sebagai ciri khas tata pergaulan orang beriman. Semoga kita senantiasa dilimpahi karunia dan maunah untuk dapat meniti hidup di atas rel Sunnah. [islamaktual/sm/m.husnaini]

Visit Us


Top