Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


“Lebih baik Menaker fokus mengurusi masalah TKI daripada melarang guru agama asing mengajar di Indonesia,” demikian disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Yunahar Ilyas ketika ditemui wartawan belum lama ini usai Pleno IV KUII di Hotel Inna Garuda Yogyakarta.
Buya Yun menyatakan lebih lanjut penilaian bahwa guru agama asing bisa menyebabkan radikal atau tidak, itu bukan wilayah Kemenaker, tetapi Kemenag. Oleh karenanya, Menteri Tenaga Kerja (Menaker) seharusnya berkonsultasi lebih dahulu dengan Kemenag karena masalah pelarangan guru agama itu wilayah Kementerian Agama (Kemenag).
“Menaker harusnya konsultasi,” ujarnya seperti dikutip hidayatullah.com.
Menaker seharusnya tidak perlu menggeneralisir secara berlebihan penyebab radikalisasi agama di Indonesia lanjut buya Yun. Istilahnya itu sama saja dengan mengusir satu tikus dengan membakar rumahnya ujar Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jogjakarta ini.
Ia menuturkan, masyarakat Indonesia tidak bisa menutup mata jika mubaligh-mubaligh dari luar negeri sudah banyak andil dalam membantu umat Islam di Indonesia. Misalnya saja seperti para asatidz dari Al-Azhar Mesir yang saat ini ada di pondok pesantren, IAIN, maupun madrasah lainnya. Sejak dahulu mereka sudah datang ke Indonesia untuk mengajar bahasa Arab.
“Dalam pelajaran bahasa Arab ada contoh-contoh karya, misalnya dalam mutala’ah yang isinya teologi. Apa itu masuk teologi atau bahasa Arab? Menaker nggak tahu soal itu. Apakah Menteri Tenaga Kerja mau mengawasi lingkup kerja yang sebetulnya wilayah Menteri Agama. Saya kira nggak perlu Menaker melakukan itu, cari kerjaan saja itu namanya,” sambung Yunahar.

Menurut Buya Yun paham-paham yang berkembang pada zaman globalisasi sekarang ini, seperti liberalisme, sekulerisme maupun pluralisme yang dijadikan alasan untuk ditetapkannya Permenaker karena bisa menyebabkan radikalisasi bisa masuk ke Indonesia, tidak hanya masuk melalui orang semisal guru agama asing saja, akan tetapi juga bisa melalui buku-buku, majalah, internet, dan sebagainya. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top